banner-detik
PARENTING & KIDS

7 Tanda Anda Adalah Codependent Parents, Hati-hati Bahayanya!

author

Fannya Gita Alamanda18 Nov 2022

7 Tanda Anda Adalah Codependent Parents, Hati-hati Bahayanya!

Codependent Parents alias orang tua yang terlalu nempel sama anak itu juga punya kans besar membahayakan hidup anak. Apa 7 tandanya?

Codependent tak hanya berlaku di dalam hubungan dengan pasangan, namun relasi orang tua dengan anak juga bisa banget memiliki tendensi codependent.

Baca juga: Tak Bisa Kupas Salak atau Nyalakan Kompor, Ini Kesalahan Ortu yang Membuat Anak Susah Mandiri

emosi anak

Apa sih yang dimaksud dengan codependent?

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.,Psikolog, ini adalah kondisi emosional dan perilaku yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk memiliki hubungan yang sehat dan saling memuaskan. Seseorang yang memiliki masalah ini akan bergantung kepada orang lain dan sulit lepas dari hubungan yang tidak sehat tersebut.

Faktanya, ada orang tua yang berperilaku codependent terhadap anak-anak mereka sehingga berisiko merusak hubungan orang tua dan anak, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Apa penyebab codependent parents?

Biasanya pengasuhan yang overprotective atau underprotective dapat menyebabkan seseorang menjadi codependent. Karena pola asuh baik yang overprotektif atau sebaliknya, sama-sama tidak memberikan ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan mengembangkan kemampuannya sendiri, yang merupakan kesempatan bagi anak untuk dapat memahami siapa dirinya secara mandiri dan sebagai individu. Dua pola asuh yang salah kaprah itu bisa membuat anak tumbuh dengan menggantungkan diri kepada orang lain.

Kesalahan pola asuh ini diterapkan orang tua kepada anak mereka sehingga ketika si anak kelak menjadi orang tua, ia akan meng-copy paste tindakan itu dan menerapkannya juga kepada anak-anaknya.

Berikut adalah 7 Tanda Codependent Parents

Tidak sanggup lihat anak mengalami kesulitan

Tidak ada orang tua yang suka melihat anak mereka terkena masalah. Tetapi enggan membiarkan anak berjuang dan belajar mengatasi masalahnya sendiri adalah sumber masalah juga. Apakah salah melindungi anak dari masalah? Tentu tidak. Itu wajar. Tetapi perhatikan, jika Anda memiliki kecenderungan untuk bertindak ekstrem demi melindungi perasaan mereka, dalam jangka panjang, campur tangan Anda yang terlalu besar dapat mencegah anak belajar dan tumbuh mandiri.
Biarkan anak belajar mengatasi masalahnya sendiri dan belajar menerima konsekuensi tanpa bantuan. Namun selalu ingatkan anak untuk mempertimbangkan tindakan dan risiko dari keputusan yang dia ambil. Anak juga perlu tahu bahwa Anda siap memberi saran jika diminta dan akan selalu ada untuknya.

Mengontrol sebagian besar detail kehidupan anak

Berhenti selalu memilihkan pakaian yang akan ia kenakan, menentukan warna apa yang harus ia sukai, sampai soal makanan. Ketika anak masih kecil, normal bagi Anda untuk terlibat dalam pengambilan keputusan untuk membantu anak.Alih-alih mengontrol, lebih baik perlengkapi anak-anak untuk bisa mengambil keputusan sendiri. Selama tidak membahayakan, hargai. Bahkan jika Anda merasa kurang sreg dengan keputusan mereka. Jika tidak, Anda berisiko membesarkan seseorang yang membenci Anda karena terlalu mengontrol.

Teriakan adalah cara Anda mengontrol perilaku anak

Berteriak kepada anak demi keinginan Anda didengar dan dipatuhi, berarti Anda membuat anak seolah-olah harus bertanggung jawab atas perasaan Anda.
Pisahkan dulu perasaan Anda dari perasaan anak-anak Anda. Perhatikan bagaimana perasaan Anda dan apa yang penting bagi Anda. Kemudian, perhatikan juga bagaimana perasaan anak dan apa yang penting bagi mereka. Dari situ, Anda dan anak-anak bisa ngobrol dan menyelesaikan masalahnya bersama-sama.

Anda tidak tega bilang ‘Tidak”

Mematikan TV saat waktunya belajar atau menolak membelikan HP model terbaru, mungkin tidak mudah. Tetapi berani tegas mengatakan “Tidak” saat Anda tahu memang harus bilang ‘Tidak’ adalah bagian dari mengasuh anak. Mengatakan “tidak” juga bisa menjadi tanda cinta, terutama jika untuk melindungi keselamatan anak atau demi mengajarkan batasan pada anak. Mereka kesal? Ini justru momen untuk menjelaskan niat baik Mommies mengapa bilang ‘Tidak’.

Anda bersandar kepada anak untuk dukungan emosional

Apakah Anda sering meminta anak untuk memeluk Anda ketika marah atau sedih?

Anda meminta nasihat dari mereka tentang masalah Anda?

Alih-alih menempatkan anak-anak dalam peran pengasuh, cobalah untuk mencari dukungan emosional dari orang dewasa lainnya, seperti pasangan, teman, atau terapis kesehatan mental.

Melibatkan anak-anak dalam konflik

Mendorong anak-anak untuk memihak dalam pertengkaran dengan pasangan atau menceritakan kepada mereka tentang kesulitan keuangan keluarga akan menciptakan kecemasan yang tidak perlu, dan seperti menukar peran pengasuh ke anak Anda.

Jika memungkinkan, jauhkan anak-anak dari urusan orang dewasa. Meskipun ada beberapa hal yang anak-anak harus diberitahu misalnya jika orang tua mereka akan bercerai atau kehilangan pekerjaan. Putuskan detail mana yang penting untuk dibagikan dengan anak, namun jangan beri mereka beban lebih dari yang seharusnya.

Anak Anda sahabat Anda

Bersikap bak sahabat lambat laun akan mengikis respek anak terhadap Anda karena mereka akan melihat Anda sebagai orang yang setara, bukan sebagai orang tua.
Anak akan menangkap pesan bahwa hubungan kalian adalah jalan dua arah. Padahal, Andalah yang bertanggung jawab atas kesejahteraan anak, bukan sebaliknya.

Tetapkan batasan yang sehat, yang memperkuat dinamika hubungan orang tua dan anak. Anda dan anak tetap bisa mesra tanpa harus jadi bestie. Tugas Anda adalah menemukan cara terbaik untuk menikmati peran sebagai orang tua.

Sumber artikel

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS