banner-detik
PARENTING & KIDS

Diabetes Pada Anak usia 6-15 Tahun, Kenali Penyebab dan Gejalanya!

author

Katharina Menge14 Nov 2022

Diabetes Pada Anak usia 6-15 Tahun, Kenali Penyebab dan Gejalanya!

Diabetes kini dapat dialami orang di semua usia, termasuk pada anak-anak usia 6-15 tahun. Apa saja penyebab dan gejalanya? Yuk, kita kenali, Moms!

Angka kejadian diabetes pada anak terus meningkat dan tidak boleh dibiarkan. Di tahun 2020, menurut Data International Diabetes Federation, ditemukan fakta bahwa penyandang diabetes di Indonesia mencapai 6,2% atau sekitar 10 juta orang.

Sedangkan berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) angka kejadian diabetes melitus pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700% selama jangka waktu 10 tahun terakhir.

Diabetes merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Ada dua jenis diabetes yang dapat menyerang anak-anak yakni DM tipe-1 yang terjadi akibat kerusakan sel beta pankreas sehingga jumlah kadar insulin rendah di dalam tubuh dan DM tipe-2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, walaupun kadar insulin darah dalam batas normal.

Insulin adalah hormon alami yang diproduksi oleh pankreas. Ketika anak makan,
karbohidrat yang terkandung pada makanan akan dicerna dan diolah menjadi glukosa, dan menyebabkan peningkatan glukosa dalam darah.

Nah, tepat pada saat inilah, organ pankreas akan melepaskan hormon insulin yang memungkinkan tubuh mengubah glukosa menjadi energi dan disebarkan di seluruh tubuh. Hormon insulin juga membantu tubuh dalam hal menyimpan energi tersebut.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2018, tercatat 1220 anak penyandang DM tipe-1 di Indonesia. Angka kejadian DM tipe-1 pada anak dan remaja meningkat sekitar tujuh kali lipat dari 3,88 menjadi 28,19 per 100 juta penduduk pada tahun 2000 dan 2010.

Di Indonesia, DM tipe-1 pertama kali didiagnosis paling banyak pada kelompok usia 10-14 tahun dengan 403 kasus, kemudian kelompok usia 5-9 tahun dengan 275 kasus, kelompok usia kurang dari 5 tahun dengan 146 kasus, dan paling sedikit adalah usia di atas 15 tahun dengan 25 kasus. Berbeda halnya dengan DM tipe-1, DM tipe-2 pada anak biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih tua.

BACA JUGA: Segala Hal yang Perlu dipahami Tentang Diabetes

Penyebab Diabetes pada Anak

Penyebab DM tipe-1 adalah interaksi dari banyak factor seperti genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel β pankreas yang perannya masing-masing terhadap proses DM tipe-1 belum diketahui. Sedangkan Peningkatan angka kejadian DM tipe-2 terjadi seiring dengan meningkatnya kasus obesitas dan kurangnya aktivitas fisik pada anak.

Gejala Diabetes pada Anak

Gejala diabetes 1 yang dialami anak-anak, remaja, dan orang dewasa sebenarnya serupa. Bahkan umumnya mirip antara diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

Gejala klinis DM yang khas adalah anak banyak makan, minum, dan sering kencing. Gejala lainnya, seperti berat badan turun, lemas, mengompol, luka yang sulit sembuh, kulit yang sering terasa gatal dan kering, rasa kebas dan sering merasa kesemutan.

Namun, sayangnya diagnosis DM sering terlewatkan dan, mungkin saja anak dapat mengalami “Kegawatan Diabetes” dengan keluhan seperti nyeri perut, sesak napas, muntah berulang, dehidrasi, hingga penurunan kesadaran.

Oleh karena itu, para orang tua diminta untuk lebih memerhatikan empat kondisi ini pada anak, yaitu:

1. Pastikan apakah frekuensi anak ke kamar mandi jadi lebih sering? Atau apakah mereka jadi kembali mudah mengompol?

2. Ketika anak terlihat lebih banyak minum dibandikan biasanya tetapi dia selalu mengatakan bahwa dirinya haus?

3. Perhatikan jika anak kelihatan lebih atau mudah lelah dibandingkan biasanya

4. Makan anak cukup tapi berat badannya cenderung menurun

Dengan kewaspadaan yang baik, terutama deteksi awal pada anak yang memiliki resiko seperti obesitas, kejadian komplikasi jangka panjang dapat menurun, anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Apabila ayah dan bunda menemukan beberapa gejala diatas pada anak, jangan ragu untuk segera konsultasikan ke dokter, ya.

Artikel ini telah direview oleh Dr. Eugenia Permatami Herwansyah, SpA

BACA JUGA: Diabetes Gestational, Musuh Para Ibu Hamil

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-


COMMENTS