Randy Pangalila: Ciptakan Standar Laki-laki Terbaik untuk Anak Perempuannya

MD Powerful People

Katharina Menge・03 Nov 2022

detail-thumb

Memiliki anak perempuan, Randy Pangalila ingin membentuk standar laki-laki terbaik untuk sang putri dengan memberi contoh lewat sikapnya.

Nama dan wajah Randy Pangalila beberapa bulan belakangan sedang naik daun di tengah masyarakat Indonesia. Semua berkat kesibukannya dalam berbagai proyek, mulai dari akting, iklan, pemotretan, hingga syuting film.

Pekan lalu, dua filmnya baru saja tayang, yaitu Rumah Kaliurang dan Qodrat. Sekarang, pria kelahiran 19 Oktober 1990 itu tengah sibuk syuting sinetron stripping Takdir Cinta yang Kupilih yang tayang setiap hari pukul 21.00 WIB di salah satu stasiun televisi swasta.

Tak hanya itu, satu lagi film terbarunya juga siap tayang di pertengahan November 2022, yaitu Sri Asih. Benar-benar sibuk, ya!

Di tengah kesibukannya, Randy mengakui masih bisa memiliki waktu berkualitas dengan sang istri, Chelsey Frank, dan putri kecilnya, Blair Willow Pangalila. Merayakan Hari Ayah, Mommies Daily pun berkesempatan mewawancarai Randy dan bertanya seputar kehidupannya sebagai seorang aktor yang kini tengah menikmati masa sebagai ayah baru. Yuk, intip wawancaranya di bawah ini!

BACA JUGA: Pesan Untuk Ayah Baru dari Para Ayah Veteran

Apa yang jadi pertimbangan Randy memilih sebuah proyek akting?

Konten ceritanya. Mau itu di film Qodrat, Sri Asih, atau sinetron Takdir Cinta yang Kupilih semua pertimbangannya adalah ceritanya. Saya akan lihat apakah ceritanya fresh atau sama saja dengan yang lain.

Di zaman sekarang itu semuanya sudah sama saja, makanya saya sedang berusaha memilih proyek-proyek, yang walaupun kurang lebih sama, tetapi ada sentuhan yang berbeda.

Misalnya Qodrat, Qodrat memang film horor dan sudah ada banyak film horor tapi kalau kalian tonton ini adalah horor yg berbeda. Kontennya berbeda dan itu yang membuat saya suka.

Begitu juga dengan Takdir Cinta yang Kupilih. Dari awal saya baca ceritanya ini sudah sangat menarik dan beda dari sinetron biasanya. Salah satu yang membuat beda adalah di sini tidak ada tokoh antagonis. Di sini diceritakan bahwa kejadian dalam hidup kita adalah sebuah takdir. Orang yang baik bisa berbuat salah dan orang yang jahat pun bisa berubah jadi baik. Pesan itu yang menurut saya baik sekali dan berbeda dari yang lain.

Jadi ayah baru, apa hal atau pengalaman unik yang Randy alami dalam mengurus anak?

Baru pertama kali menjadi seorang ayah, ya, semua hal adalah baru dan unik. Satu yang pasti adalah ini merupakan hal yang berbeda karena saya belum pernah mengalaminya sama sekali. Mulai dari awal-awal waktu lahiran, merasakan begadangnya anak baru lahir, sampai sekarang dia sudah 1,5 tahun dan sudah bisa aktif sekali.

Apa langkah untuk menjadi ayah terbaik versi Randy sendiri untuk Blair?

Blair adalah seorang anak perempuan dan saya ingin suatu saat dia tidak salah memilih pasangan hidupnya. Bagaimana cara saya untuk membuat Blair tidak salah dalam mencari pasangan hidupnya adalah dengan memberikan contoh kepada dia bagaimana cara saya memperlakukan istri saya, bagaimana saya memperlakukan mama saya, dan bagaimana saya bekerja keras untuk keluarga saya.

Saya mau membuat standar untuk Blair bahwa laki-laki yang harus kamu cari suatu saat nanti at least yang seperti papa atau bahkan yang lebih baik daripada papa. Karena buat saya anak tidak belajar dari kata-kata orang tua tapi dari perilaku dan juga perbuatannya.

Nilai parenting apa yang Randy pegang dan diterapkan untuk Blair?

Saya akan membiarkan anak saya bereksplorasi. Kalau zaman dulu ketika anak jatuh seringkali akhirnya dilarang oleh orang tuanya, yang akhirnya malah membatasi ruang gerak mereka.

Belajar dari situ dan dengan melihat banyak informasi parenting yang dibagikan, saya ingin mengubah cara itu dan fokus mendorong Blair untuk jadi lebih kuat. Misalnya ketika dia jatuh, saya tidak menyuruhnya berhati-hati melainkan menanyakan, ‘Are you okay? Do you need help?‘. Ketika anak merasa sakit atau menangis, baru didatangi, dipeluk, dan dikasih tahu bahwa ‘it’s okay!’

Selain itu, walau Blair itu anak perempuan, saya tidak pernah mengharuskan dia bermain hal-hal yang ‘perempuan’ gitu. Saya membiarkan dia main bola dan bahkan di masa depan saya akan mengajarkan dia bela diri.

Buat saya di dalam hidup itu lebih baik memberi daripada menerima. Jadi saya ingin menanamkan hal tersebut pada Blair, bahwa kesuksesan kita di dalam hidup juga bisa menjadi berkat untuk orang lain.

Apa ketakutan seorang Randy Pangalila dalam membesarkan seorang anak perempuan?

Perempuan itu selalu dipandang lebih lemah, selalu dipandang menjadi korban, selalu dipandang menjadi target utama saat terjadi kejahatan. Karena itu penting untuk anak perempuan belajar bela diri.

Buat saya, dengan saya memberikan pendidikan bela diri maka Blair jadi punya pegangan untuk membela dirinya di masa depan. Selain itu dia juga jadi lebih sehat karena berolahraga, dan dia akan lebih percaya diri karena dia akan sering bertemu dengan orang baru, banyak belajar hal-hal baru, dan itu akan meningkatkan self confidencenya.

Bagaimana Randy mengelola waktu agar tetap memiliki hubungan berkualitas dengan anak dan istri?

Jujur saat ini waktu berkualitas dengan keluarga itu sangat langka dan sulit. Jadi saya sangat menghargai waktu sekecil apapun.

Kebetulan syuting sinetron dilakukan di Puncak dan tidak mungkin untuk PP. Jarak dari rumah ke lokasi syuting bisa sangat melelahkan dan bikin performa gak maksimal. Jadi jarang pulang ke rumah.

Untungnya saya punya istri yang snagat-sangat pengertian. Ketika tidak bisa pulang, dia yang datang ke lokasi syuting bersama Blair. Mereka menginap di sini 3-4 malam sehingga saya masih punya waktu untuk bermain di sela-sela syuting dan punya waktu berkomunikasi dengan istri.

Sekarang istri dan anak saya harus pulang ke Kanada. Awalnya kami memang sudah merencanakan untuk pulang bersama tahun ini karena sudah tertunda 2 tahun akibat pandemi. Sayangnya, karena saya terikat kontrak jadi saya gak bisa ikut.

Akhirnya mereka pulang duluan gak apa-apa, karena sudah kangen dengan keluarga di sana. Saya bilang kalau saya dapat izin beberapa bulan ke depan saya akan menyusul.

Apa yang Randy lakukan ketika mengalami burnout?

Buat saya, sih, saat capek sama pekerjaan yang saya butuhin itu adalah keluarga. Saya bisa gak merasa capek kalau saya bermain sama anak saya. Secapek apapun, ketika saya melihat dia ketawa saat bermian balon sama saya, buat saya itu sudah menyenangkan dan releasing my stress. Satu lagi adalah memeluk istri saya. Itu buat saya sudah seperti sharing energi saja. “Aduh, aku capek, nih!” Saya hanya ingin orang yang paham kondisi saya.

Kadang kalau sudah capek trus mau pergi juga sudah gak mood karena sudah capek sama pekerjaan. Jadi yang saya pikirin, ya, saya mau ketemu sama keluarga. Biasanya juga saat capek saya off media sosial, saya matikan handphone. Saya gak mau dihubungi siapa-siapa. Saat lagi libur saya gak mau mikirin kerjaan karena biarlah waktu libur saya jadi waktunya sama keluarga.

Menjadi ayah itu…

Tanggung jawabnya besar. Jadi kalau masih belum siap, jangan jadi ayah dulu. Karena mempunyai anak itu adalah rencana kita. Berarti anak tidak memilih menjadi anak kita tapi kita yang minta anak itu ada dalam kehidupan kita. Artinya tanggung jawab kita besar untuk memikirkan masa depan anak itu, baik secara mental, fisik, materi, dan juga secara rohani.

BACA JUGA: Ayah, Berhenti Lakukan 6 Hal Ini Saat Anak Perempuan Sudah Memasuki Usia SD

Foto: Instagram/randpunk