banner-detik
SELF

Dari Rizky Billar dan Lesty Kejora Kita Belajar Enam Hal Ini

author

Ficky Yusrini21 Oct 2022

Dari Rizky Billar dan Lesty Kejora Kita Belajar Enam Hal Ini

Bukan asal mau ghibahin Rizky Billar dan Lesty Kejora, tapi dengan membicarakan ini setidaknya kita bisa belajar beberapa hal.

Apa kabar Lesty dan Billar? Beberapa minggu terakhir kita disuguhi update-an rumah tangga mereka. Sejak kabar aduan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Lesti masuk ke kepolisian, Lesti masuk rumah sakit, lalu Rizky Billar resmi jadi tersangka, dan terakhir (sejak artikel ini ditulis), Lesti mencabut laporan KDRT-nya di kepolisian. Dari seleb sampai netizen ramai berpendapat (bisa disimak di TikTok). Sebagian mendukung dan berharap pasangan ini kembali mesra, tapi banyak juga yang mengecam. Abuser (pelaku kekerasan) selamanya nggak akan pernah berubah. Anda tim mana?

Masalah yang dialami Lesti dan Billar ini mengingatkan kembali, KDRT adalah fenomena gunung es. Di Indonesia, data dari KemenPPPA, hingga Oktober 2022 terdapat 18.261 kasus KDRT. Sebanyak 79,5% atau 16.745 korban adalah perempuan. Di luar sana, masih banyak yang tidak terlaporkan. KDRT memang complicated. Dan, kenyataannya, banyak korban yang tidak mau meninggalkan pasangan yang abusive.

Baca juga: 10 Ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT

Photo by sydney Rae on Unsplash

Mari kita belajar dari kasus yang dialami Rizky Billar dan Lesti Kejora…

Kelihatan mesra padahal…

Keduanya good looking couple dan akun media sosial mereka menggambarkan kehidupan romantis. Pokoknya #relationshipgoals. Bertabur materi, popularitas yang sedang di puncak, dan jumlah follower yang fantastis, jumlahnya dua kali lipat lebih populasi Swedia. Kurang apa lagi coba? Di balik kesempurnaan yang ditampilkan, sebetulnya menyimpan struggling yang mungkin kita tidak tahu saja.

KDRT terjadi di semua level

KDRT bisa terjadi pada semua orang. Semua etnis, agama, kelas sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan. Kalau kita melihat sosok Lesti, sosok perempuan sukses, mandiri, cerdas, ternyata bisa menjadi korban.

Kenali pola

Selama ini ada image, pelaku kekerasan biasanya berwajah sangar, kasar, dingin. Menurut Leslie Morgan, yang menuturkan kisah KDRT yang dialaminya di buku Crazy Love, pria yang ditemuinya sangat ramah dan hangat. “Tahap pertama dalam hubungan KDRT adalah pelaku pandai merayu dan memikat korban. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau kemarahan.” Lalu, tambah Leslie, fase berikutnya adalah menjauhkan korban, dari keluarga dan teman-temannya. Langkah selanjutnya dalam pola KDRT adalah memperkenalkan ancaman kekerasan, lihat bagaimana reaksi pasangan. Itulah kenapa KDRT selalu terjadi berulang dan berulang, sementara dengan lihainya pelaku selalu memohon maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi pada pasangan.

Mengapa bertahan?

Banyak yang gemas, kok bisa-bisanya Lesti mencabut aduan? Nggak takut bakal terulang? Kenyataannya, banyak korban KDRT yang memilih bertahan dalam hubungan yang toksik. Dari cerita Leslie (Leslie ya, bukan Lesti atau Leslar), ia tidak sadar bahwa suami melecehkannya. “Meskipun dia memegang senjata yang dimuat ke kepala saya, mendorong saya menuruni tangga, mengancam akan membunuh anjing kami, menarik kunci kontak mobil saat saya berkendara, menuangkan bubuk kopi ke kepala saya saat saya berpakaian rapi untuk wawancara, saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai istri yang babak belur. Sebaliknya, saya adalah wanita yang sangat kuat, jatuh cinta dengan pria yang bermasalah, dan saya adalah satu-satunya orang di bumi yang dapat membantunya menghadapi iblisnya,” seperti yang ia kisahkan di Youtube Ted Talks, Why Domestic Violence Victims Don’t Leave.

Ia menambahkan, lagipula, untuk kasus yang ia alami, tidak semudah itu untuk meninggalkan pelaku KDRT. “Sangat berbahaya meninggalkan pelaku. Karena langkah terakhir dalam pola KDRT adalah “bunuh dia”. Lebih dari 70% pembunuhan kekerasan dalam rumah tangga terjadi setelah korban mengakhiri hubungan. Tentu, kondisi psikologis tiap pelaku berbeda-beda.

Memecah kesunyian

Langkah Lesti untuk melaporkan ke kepolisian patut diacungi jempol. Butuh keberanian besar bagi korban untuk sampai di tahap itu. Meski akhirnya ia tarik kembali, setidaknya kejadian yang dialami sudah menjadi sorotan publik. Berikutnya, Lesti perlu mengumpulkan keberanian lagi untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi diri dan anaknya. Di tahap ini, support dari lingkungan terdekat, baik keluarga maupun sahabat, sangat dibutuhkan. Kesadaran untuk keluar dari hubungan yang crazy love itu harus muncul dari diri Lesti sendiri, walau netizen seluruh dunia melarang, tapi kalau Lesti belum sadar dan bilang masih cinta, ya, apa mau dikata.

Tekanan dari media sosial

Saat ini, baik Lesti maupun Billar sama-sama menghadapi tekanan dan kecaman publik dan cancel culture. Billar karena pelaku dan Lesti karena kok plin plan dan mau balik lagi? Terlebih karena mereka adalah pasangan produk dari reality show bernama media sosial, yang segala perilaku dan gerak geriknya jadi sorotan. Mereka menghadapi ujian mental yang jauh lebih besar dibanding jika KDRT terjadi pada mereka yang tidak seterkenal mereka. Itulah harga yang harus dibayar, risiko jadi orang terkenal. Sisi baiknya, kasus mereka bisa menaikkan kesadaran tentang bahaya KDRT.

Share Article

author

Ficky Yusrini

-


COMMENTS