Surat Untuk para Pembully Anak Saya dan Orang tuanya

Parenting & Kids

Mommies Daily・12 Oct 2022

detail-thumb

Untuk kalian yang telah membully anak saya dan untuk orang tua dari para pembully anak saya. Tolong baca ini baik-baik…

Anak saya duduk di kelas 2 SMA di sekolah pilihannya sendiri. Sekolah yang dia anggap sesuai dengan nilai-nilai yang dia punya. Institusi pendidikan yang dia percaya akan membantunya meraih mimpi besarnya. Sekolah yang dia yakini menjadi tempat dia bertemu dengan teman-teman dari beragam latar belakang yang akan memperluas kemampuannya bersosialisasi. Lingkungan yang dia sangka akan membuatnya nyaman setelah rumah dan keluarganya.

Saya paham bahwa hidup memang tidak selalu indah sesuai bayangan kita. Namun saya tidak mengira jika bahagia anak saya harus terenggut oleh belasan kakak kelasnya yang memukul serta menendangnya bertubi-tubi selama berjam-jam tanpa anak saya diberi kesempatan untuk melawannya, di sebuah rumah kosong.

Saya tidak mau cerita tentang sakit dah pedih yang saya rasakan sebagai orang tua. Atau bagaimana hal buruk yang menimpa anak saya membuatnya trauma. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal ini…

Baca juga: 6 Jenis Bullying yang Harus diketahui Orang tua

Untuk kalian para pembully anak saya….

Kepahitan apa yang kalian alami, nak, sampai kalian tega berbuat seperti itu ke mahluk hidup lain? Apa yang kalian dengar dan lihat selama ini sehingga kalian memiliki ide untuk menyakiti orang lain sedahsyat itu?

Di mana hati nurani kalian ketika korban yang kalian bully meminta ampun dan meminta kalian untuk berhenti?

Pernah kalian bayangkan jika kalian yang berada di posisi korban? Merasa sakit dan tidak tahu harus mencari bantuan kemana? Atau apakah selama ini sebenarnya kalian merasakan sakit dan tidak tahu kemana mencari bantuan hanya dalam bentuk yang lain?

Apa yang mau kalian capai dengan melakukan hal seperti itu? Merasa jago, merasa berkuasa, merasa hebat, merasa bahagia? Jika iya, coba kalian cari bantuan, nak, karena itu artinya ada yang salah di dalam diri kalian.

Mungkin sulit bagi kalian berempati pada para korban, bagaimana kalau saya meminta kalian memikirkan apa yang akan terjadi pada diri kalian?

Sekarang, apa yang terjadi, ketika semua orang tahu apa yang kalian lakukan? Nggak, kalian nggak dianggap hebat, sebaliknya kalian dianggap anak bermasalah, kalian dihukum dan nama baik kalian tercemar.

Bagaimana jika tindakan kalian membuat kalian jadi kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas impian kalian? Bagaimana jika cap pembully akan seterusnya melekat di jati diri kalian? Bagaimana jika kelak kalian mencari pekerjaan, masa lalu kalian ini diketahui oleh calon perusahaan atau calon atasan kalian?

Tapi entah apakah ini semua membuat kalian berpikir, merasa menyesal atau malah murka karena tujuan kalian tidak tercapai?

Pernah kalian memikirkan perasaan orang tua kalian, yang saya yakin sebagian besar orang tua tidak pernah berpikir anaknya akan menjadi pembully, sama seperti saya yang tidak pernah berpikir bahwa anak saya akan menjadi korban bully?

Pernah kalian berpikir rasa sedih dan kecewa yang hinggap di diri orang tua kalian? Kekhawatiran mereka dan kebingungan mereka. Percayalah nak, kalian menempatkan orang tua kalian di posisi yang sulit. Keinginan antara melindungi anak dengan kesadaran bahwa anak mereka berbuat salah dan layak mendapatkan konsekuensi.

Ketika banyak orang mempertanyakan

“Apa sih yang diajarkan oleh orang tua-nya?” atau

“Ini pasti didikan orang tuanya nggak benar,” atau

“Harus ada penjara untuk orang tua sih, karena ini pasti salah mendidik orang tuanya,”

Kira-kira apa yang kalian rasakan nak? Sebagai seorang anak, mendengar orang tua kalian dihujat seperti itu?

Percayalah, apa yang kalian lakukan dampaknya nggak hanya ke korban, tapi juga ke diri kalian sendiri, dan juga ke orang tua serta keluarga kalian.

Semoga di balik bengisnya kalian, masih tersimpan kebaikan hati yang mungkin hanya hilang sementara.

Dan untuk para orang tua dari para pelaku bully….

Terima kasih untuk bapak ibu yang berjiwa besar mengakui bahwa anak kalian memang melakukan kesalahan

Terima kasih untuk bapak ibu yang mau berkaca dan mencari kekurangan diri sebagai orang tua, apa yang salah dengan pengasuhan kalian, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Terima kasih untuk memahami bahwa bentuk sayang sebagai orang tua tak sekadar bicara materi, namun juga kemampuan untuk menerima kesalahan anak dan paham bahwa anak butuh menerima konsekuensi

Terima kasih untuk bisa berbicara dengan nada yang baik serta meminta maaf

Terima kasih, karena berkat orang tua seperti kalian saya masihn memiliki  harapan bahwa dunia anak-anak kita kelak akan lebih baik.

Dan untuk kalian para orang tua dari pelaku bully, yang berbalik marah kepada saya, menganggap anak saya melebih-melebihkan masalah, yang berbicara dengan suara keras dan kasar kepada pihak sekolah, yang menutup mata atas kesalahan anak kalian, yang membabi buta membela anak kalian tak peduli apakah anak kalian benar atau salah….

Dari kalian saya belajar, bahwa memang tidak semua orang siap dan mampu menjadi orang tua

Dari kalian saya belajar, bahwa jabatan dan uang memang tidak bisa membeli hati nurani

Dari kalian saya belajar, bahwa dunia memang tidak bisa selalu akan baik-baik saja dan saya harus menyiapkan anak-anak saya untuk mampu menghadapi dunia yang akan mereka tinggali bersama dengan orang-orang seperti kalian

Dari kalian saya belajar, bahwa saya tidak mau menjadi orang tua seperti apa. Orang tua seperti kalian.