banner-detik
MD POWERFUL PEOPLE

Anastasia Satriyo: Berlatih Mengembangkan Mindset Good-Enough, Jadi Diri yang Cukup

author

RachelKaloh06 Oct 2022

Anastasia Satriyo: Berlatih Mengembangkan Mindset Good-Enough, Jadi Diri yang Cukup

Menurut Anastasia Satriyo, kunci bertahan hidup bagi perempuan: berlatih mengembangkan mindset Good-Enough: jadi diri sendiri/istri/ibu/pekerja/wirausahawan yang cukup, gak perlu sempurna.

Sebagai seorang psikolog, Anastasia Satriyo, M.Psi, Psikolog (Instagram: @anassatriyo) kerap mengumandangkan pentingnya menjalani peran perempuan yang cukup dan tidak perlu jadi “sempurna”, karena di saat bersamaan banyak peran-peran hidup yang perlu dijalani dengan optimal secara berbarengan, sambil tetap perlu menjaga kesehatan mental. 

3 Hal yang paling disukai dari diri sendiri

Saya suka belajar tentang Diri Manusia, saya adalah orang yang pantang menyerah untuk hal yang saya anggap penting dan saya suka/minati, dan saya affectionate/suka menunjukkan rasa cinta atau sayang ke pasangan dan keluarga inti. 

Peran dan didikan orangtua yang membuat saya seperti sekarang ini

Ibu saya adalah perempuan pertama di keluarganya yang bisa jadi sarjana, di usia 40 tahun dan melanjutkan S2 di Universitas Indonesia. Saya jadi punya contoh dan bukti nyata yang bisa saya lihat langsung, tentang betapa pentingnya punya mimpi dan kita bisa mewujudkannya.

Dari ibu, saya belajar tentang kegigihan dan sifat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Mulai dari keterbatasan ekonomi, menghadapi keluarga yang masih sangat patriarkis: menganggap perempuan nggak perlu sekolah tinggi karena takdir dan nasibnya cuma menikah dan produksi anak. Ibu saya mendobrak itu dengan usahanya sendiri karena ia yakin dan percaya bahwa “Pendidikan akan mengubah diri, nasib, masa depan dan kualitas diri kita sebagai manusia”. 

Film dan buku favorit serta alasannya

Film “My Name Is Khan”, tentang seorang ibu yang mendidik anak berkebutuhan khusus dan menjelaskan dengan konsep konkrit dan sederhana untuk dipahami anak, kenapa ada konflik antara pemeluk agama Hindu dan Islam di India. Bahwa di dalam setiap agama ada orang “baik” dan orang “jahat”, jadi kita nggak bisa menghakimi seseorang dari agamanya tapi karena interpretasi orang tersebut terhadap ajaran agama yang terlalu radikal, penuh kebencian dan menghalalkan membunuh yang beragama berbeda. 

Buku-buku Tory Hayden terutama yg berjudul Sheila karena saya jadi tahu ada kisah nyata seperti ini dan bagaimana seorang guru bisa mengubah hidup seorang anak dari lingkungan yang buruk, penuh kriminalitas dan kekerasan bahkan mengalami pelecehan seksual menjadi manusia dewasa yang baik dan bertanggung jawab. Dari situ saya berkesimpulan, #HealingIsPossible.

Menurut seorang Anastasia Satriyo, apa tantangan terberat bagi pasangan suami istri di jaman sekarang?

Masih banyaknya pasangan yang menggunakan pemahaman patriarki dalam menjalani pernikahan. Akan terjadi Relasi Kuasa yang tidak seimbang (Power Relation), akibatnya, ada pemaksaan dan dominasi berlebih yang sangat berbahaya untuk kesehatan mental pasangan/orang yang ditekan dan didominasi. Minimnya pengalaman relasi SALING mendengarkan dan SALING memahami karena pihak yang lebih berkuasa secara ekonomi, kekuasaan, status akan merasa tidak perlu mendengarkan dan merasa kebutuhan dan keinginannya sangat penting untuk dipenuhi pasangan, nggak mau tahu gimana kondisi dan situasi pasangan, otomatis sulit untuk bisa SALING memahami dan menemukan jalan keluar bagi kedua belah pihak. Hal ini rentan menciptakan pengalaman kekerasan, mulai dari kekerasan verbal, emosi sampai kekerasan fisik. Maka pasangan perlu berlatih untuk kenal emosi diri, pengelolaan emosi dan stres, serta berlatih untuk lebih sayang dengan diri dan merasa diri berharga dari dalam.

Apa 3 hal penting yang harus dimiliki perempuan agar bisa bertahan hidup?

Berlatih mengenal dan discover apa yang sudah ada di dalam diri tapi kita nggak sadar dan nggak tahu keberadaannya. Keyakinan bahwa diri kita berharga dan layak punya mimpi dan mewujudkannya, sehingga kita pun bisa membuat keputusan hidup atas dasar keinginan diri sendiri, bukan hanya mengikuti keinginan orang lain. Terakhir, berlatih mengembangkan mindset Good-Enough: jadi diri yang cukup, jadi istri, ibu yang cukup, jadi pekerja/karyawan atau wirausahawan/akademisi yang cukup. Tidak perlu “sempurna”, karena di saat bersamaan banyak peran-peran yang perlu kita jalani dengan optimal secara berbarengan. Sambil tetap perlu sehat mental.

Yang ingin Mba Anas sampaikan kepada mereka yang membutuhkan bantuan psikolog dalam mengatasi permasalahan hidupnya?

Manusia sudah punya kebutuhan emosi-psikologis sejak bayi, anak-anak, remaja sampai dewasa. Namanya kebutuhan berarti sangat penting dikenali dan dipenuhi. Sesi konseling dengan psikolog akan membantu kita menyadari kebutuhan ini dan berlatih secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan emosi-psikologis kita, sehingga kita bisa jadi the Agent of Change untuk memutus rantai trauma emosi dan trauma kekerasan di keluarga dan masyarakat kita.

It’s okay to be not okay but kindly seek profesional help, seperti kalau gigi kita sakit, kita pergi ke profesional, karena kita nggak bisa menyembuhkan sendiri. Tapi untuk memaintain supaya gigi nggak bolong, sama halnya dengan pengelolaan kesehatan emosi dan kesehatan mental, yaitu bisa kita lakukan sendiri.

Baca juga:

Sabrina Rochelle: Perempuan Harus Percaya Sama Dirinya Sendiri

Share Article

author

RachelKaloh

Ibu 2 anak yang hari-harinya disibukkan dengan menulis artikel dan content di media digital dan selalu rindu menjalani hobinya, menjahit.


COMMENTS