Alasan Saya Tak Akan Memaksa Anak Berjilbab

Parenting & Kids

Ficky Yusrini・15 Aug 2022

detail-thumb

Memaksa anak berjilbab rasa-rasanya tidak akan saya lakukan jika saya memiliki anak perempuan. Alasannya? Bisa dibaca di tulisan saya ini.

Menghadapi mayoritas yang meyakini perempuan harus memakai jilbab, pemaksaan seringkali tak terelakkan. Walau tak ada aturan hukum, tekanan, sindiran, sampai pandangan mata pun bisa bernada menyudutkan. Lantas, sebagai ibu, bagaimana pandangan pribadi kita terhadap anak?

Di negeri ini, sensitif sekali menyuarakan isu agama. Beberapa waktu lalu, ibu dari siswi di SMA Negeri di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengungkap tentang putrinya yang diduga dipaksa mengenakan jilbab. Kasus ini berbuntut panjang, meski pihak sekolah membantah, Sri Sultan Hamengku Buwono turun tangan dengan membebastugaskan Kepala Sekolah dan tiga guru sekolah tersebut.

Kasus ini sebetulnya hanyalah permukaan gunung es. Faktanya, meski tidak pernah ada peraturan yang mewajibkan siswi beragama muslim mengenakan jilbab di sekolah negeri, pemaksaan itu nyata terjadi di banyak tempat. Di Jakarta, anggota DPRD Ima Mahdiah, menemukan dua sekolah negeri yang memaksa siswi mengenakan jilbab.

Dulu, saat saya bersekolah di SMA negeri, tahun 1990-an, jilbab belum umum dikenakan dan justru banyak sekolah melarang mengenakannya. Perlu keberanian untuk menghadapi berbagai pertanyaan, pandangan sinis, sampai intimidasi yang datang dari teman, sampai guru dan kepala sekolah. Sungguh, berbeda 360 derajat dengan fenomena sekarang. Saya termasuk satu dari segelintir pemakai. Namun, bukan karena ideologis, melainkan paksaan yang datang dari rumah, dari orang tua.

Baca juga: Orang tua, Ketahui 15 Hal Ini Saat Mencari Sekolah Untuk Anak

Bolehkah memaksakan keyakinan?

Sebagai anak, saat berhadapan dengan otoritas orang tua, punya daya apa untuk melawan? Saya dibesarkan di keluarga yang sangat keras dan disiplin menerapkan ritual dan syariat agama. Lucunya, hal ini masih terjadi sampai detik ini. Sampai saya sudah dewasa dan punya anak, ortu masih memperlakukan saya sebagai orang yang masih harus disuruh-suruh untuk menjalankan ritual, bisa dipaksa-paksa mengikuti keyakinan mereka. Tentu, sekarang saya jauh lebih berdaya untuk menjalani pilihan saya sendiri.

Mengenai ritual agama, tidak ada anak yang mau dipaksa. Kalau ditanya, anak, dari kecil sekalipun, pasti punya maunya sendiri. Di satu sisi, orang tua punya kewajiban mendidik anak untuk bisa menjalankan kewajiban dan menundukkan rasa malasnya untuk memilih mengerjakan hal-hal yang menyenangkan saja buat dia. Di sisi lain, ada batasan tertentu untuk tetap memberi ruang pada kehendak bebas anak. Di sinilah seninya jadi orang tua.
Mengenai jilbab, seandainya saya punya anak perempuan, saya tidak akan pernah memaksanya mengenakan jilbab, seperti dulu (dan sampai sekarang) orang tua memaksa saya.

Inilah beberapa alasan kenapa saya tidak mau memaksa anak berjilbab

Dalam mengenalkan agama pada anak, saya lebih menekankan mengenalkan kebiasaan-kebiasaan positif, alih-alih dogma

Termasuk kebiasaan positif, misalnya, berpakaian yang sopan dan pantas sesuai situasi dan tempatnya. Kalau datang ke acara tradisi religi atau hari raya, ya, kenakan busana rapat menutup rambut. Cara kita berbusana juga menunjukkan bagaimana kita menghargai orang lain, bukan hanya untuk diri kita sendiri.

Pilihan mengenakan jilbab adalah kehendak bebas (free will) seseorang

Saya punya pengalaman lucu. Awalnya, saya terpaksa berjilbab karena diancam nggak boleh bersekolah kalau menolak. Lalu, dalam perjalanan belajar agama, sempat dikirim belajar ke pesantren, gaya berjilbab saya semakin ‘radikal’. Jilbab melebar, senang mengenakan gamis, dan berkaus kaki. Ibu saya protes. “Bisa nggak sih bajunya biasa aja. Nggak usah gitu-gitu amat!” Nah, lho. Begini salah, begitu salah. Hihihi. Bukan cuma soal penutup kepala, masalah fashion saja anak punya selera masing-masing, dan pada tingkat tertentu mereka bisa sangat keras kepala, nggak bisa diintervensi.

Surga neraka, bukan orang tua yang menentukan

Seorang teman pernah bercerita, ia memakai jilbab setelah ibundanya masuk rumah sakit dan mengajukan permintaan sambil memohon agar ia berjilbab, dengan demikian sang ibunda bisa meninggal dengan tenang. Ibunya meyakini, dirinya akan terhalangi masuk surga jika anak perempuannya tidak mengenakan jilbab. Komentar saya, bebas saja sih menyampaikan apa yang kita anggap benar dan mengajarkannya ke anak, tetapi apakah mereka mau mengikuti atau tidak, kembali ke free will mereka. Nggak perlu bawa-bawa surga dan mengintimidasi anak dengan label durhaka. Hal yang sama bisa kita balikkan ke mereka. Jika orang tua mereka memilih jalan (yang kita anggap) sesat, lalu orang tua mengatakan hal yang sama, apakah akan kita ikuti? Sekuat apa pun keinginan kita agar anak mengikuti jalan kita (yang kita anggap kebenaran), saya meyakini, setiap jiwa punya prosesnya masing-masing dan setiap orang bertanggung jawab pada pilihannya dan akan memanggul konsekuensi dari pilihan bebasnya.

Belajar merefleksikan tujuan

Soal keyakinan bukan hal main-main. Anak juga perlu belajar memahami bahwa pilihan menyangkut keyakinan bukanlah sesuatu yang asal ikut-ikutan atau mengikuti hasrat ego semata. Mau enaknya saja. Tiap keyakinan pasti akan diuji. Ia harus siap dengan segala konsekuensinya, ketika momen itu tiba. Entah itu, menghadapi tekanan dari keluarga, mayoritas, konflik, mental, sampai katakanlah, berani ketika harus mempertaruhkan nyawanya, untuk mempertahankan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.

Photo by Voice of Sky on Unsplash