banner-detik
PARENTING & KIDS

6 Pelajaran dari Konflik Keluarga Tasya dan Tasyi

author

Ficky Yusrini10 Aug 2022

6 Pelajaran dari Konflik Keluarga Tasya dan Tasyi

Konflik keluarga Tasya dan Tasyi berujung kepada membagi screenshot whatsapp keluarga, hingga klarifikasi suami lewat Youtube, kepada siapa kita harus bela?

Ternyata tidak hanya keluarga Kardashian yang bisa menggemparkan jagad netizen. Di Indonesia, ada keluarga Ashanty, Doddy, Gaga, dan yang terbaru, keluarga Tasyi Athasya dan Tasya Farasya. Siapa mereka sampai bisa jadi trending? Tasyi seorang Youtuber kuliner, sedangkan Tasya seorang beauty vlogger. Keduanya punya akun Youtube dengan jutaan subscriber. Terus, apa sih masalahnya? TLDR (too long didn’t read), keduanya berantem -yang keributannya bisa diikuti di Twitter, Instagram, maupun Youtube. Puncaknya, Tasyi membongkar isi percakapan WhatsApp grup keluarga besarnya, percakapannya bersama Tasya dan ibundanya, untuk menunjukkan bahwa ia telah minta izin pada keluarganya karena tak bisa hadir di ulang tahun Lily, anak Tasya.

Err, mungkin terlihat sepele. Konflik dan kesalahpahaman dalam keluarga bukannya biasa yah. Kita semua pasti pernah alami. Bedanya adalah, entah kenapa, drama mereka ini diikuti juga oleh jutaan netizen haus update. Terbaru, video Youtube Tasyi bersama suami berisi klarifikasi konflik mereka berdurasi 1 jam lebih, ditonton 6,3 juta viewer (per 9 Agustus 2002). Setara film bioskop box office yang bujetnya triliunan. Penonton pun jadi terbelah, tim Tasyi atau tim Tasya nih? Sebagai penonton, rasanya gatal jika tidak ikut komentar. Namun mari kita belajar saja …

Konflik Tasya dan Tasyi memberikan saya 6 pelajaran ini

Ikutan gemas

Ini reaksi wajar. Otak reptil secara otomatis akan terpancing. Emosi kita ikut terlibat. “Kok si A gitu.”, “Ibunya juga sih.”, “Lha, kenapa suaminya begitu.”, dan sebagainya. Lalu kalau ada yang tidak setuju atau berbeda pendapat dengan kita, rasanya juga gatal pingin ‘nyikat’, hehehe. Walau tak kenal secara langsung, tapi kita seperti diberi panggung untuk ikutan meramaikan, di layar yang bisa dinikmati bersama bernama medsos.

Sibling rivalry

Dalam keluarga, kakak beradik umum terjadi sibling rivalry. Entah itu dalam bentuk kompetisi, memenangkan cinta dan perhatian ibu, maupun gesekan dan friksi-friksi sehari-hari. Selain datang dari faktor internal si kakak adiknya, bisa juga datang dari orang luar. Misalnya, orang yang suka membanding-bandingkan. “Tuh, si kakak sudah bisa itu, kok adiknya enggak?” Kakak adik yang tadinya mungkin biasa-biasa aja, akhirnya terprovokasi, bisa jadi konflik beneran. Apalagi kalau levelnya udah influencer alias selebritas, menghadapi banjir ‘hate comment’, adalah risiko yang harus disadari dan diterima.

Baca juga: 5 Kesalahan Orang tua yang Membuat Sibling Rivalry Tetap Ada Hingga Anak Dewasa

Hindari menghakimi cara parenting orang lain

Dalam kasus ini, gaya pengasuhan Bu Ala, ibunda Tasyi dan Tasya, juga ikut-ikutan dikomentari. Wahai netizen, parenting bijak itu memang susah, level dewa. Semua orang belajar sesuai prosesnya masing-masing. Nggak usah jauh-jauh, kita sendiri seringkali menyimpan kemarahan dan penyesalan atas gaya parenting orang tua kita, bukan? Tanpa sadar bahwa yang kita lakukan ke anak juga jauh dari kebijaksanaan Tao.

Reality show

Jika googling kasus Tasya dan Tasyi, di media kita bisa menemukan kronologi awal drama mereka, yang sudah dimulai sejak 2 tahun lalu, tepatnya di video kolaborasi keduanya. (Lho, kemana saja kok baru tahu?). Sejak itu pula fans mulai terbelah. Anggap saja, ini semacam drama reality show berjilid-jilid. Kalau nggak menarik, ya nggak usah ditonton. Buat yang terhibur, silakan lanjut. Saya sih, cukup penikmat komentar netizen saja. Jadi, suaminya Tasyi, kenapa, sih? #ups

Sharing keluarga di media sosial, apa tujuan Anda?

Awalnya mungkin postingan biasa tentang hobi, merambah ke aktivitas sehari-hari, merambah ke anak, suami. Merambah ke kakak, adik. Merambah ke nyokap, bokap. Merambah ke ipar, keluarga besar. Awalnya mungkin posting kebersamaan, pose happy-happy, piknik. Lama-lama, merambah ke hal-hal yang bikin kita bete, beranteman sama keluarga. Sesungguhnya posting adalah candu. Saat kita terbiasa nge-share ke medsos, kita menikmati orang terhubung secara emosional dengan kita, lewat like dan comment mereka. Semakin banyak share, makin besar perhatian orang pada kita, makin besar keinginan kita untuk share, begitu seterusnya. Empati dan perhatian orang yang menyukai postingan kita itu kadang melenakan. Kita lupa bahwa di luar sana, ada juga jenis orang yang akan membenci kita, apa pun yang kita lakukan. Di luar sana, ada orang yang hobi jadi kompor. Di luar sana, ada orang-orang lebay, yang dengan kepintarannya bisa menafsirkan dan memutarbalikkan kata-kata sebegitunya. Masalah yang real-nya kecil, bisa jadi tereskalasi menjadi perang dunia ketiga kalau dikipasi pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Urus diri sendiri

Kepada siapa empati Anda dilayangkan? Kasian ya, si A, dihujat satu negara. Hello…jangan lupa bahwa mereka jadi semakin kaya karena kita. Lihatlah viewer Youtube keduanya terdongkrak. Yang artinya pendapatan dari Youtube juga meningkat, dong. Sementara, kita? Buat bayar tagihan bulanan saja kepala langsung berat. Kalau sudah begitu, layakkah mengasihani Tasya dan Tasyi?

Share Article

author

Ficky Yusrini

-


COMMENTS