Now Reading
Hai Orang tua, 5 Hal Ini Bukanlah Tanggung Jawab Anak Kita

Hai Orang tua, 5 Hal Ini Bukanlah Tanggung Jawab Anak Kita

Catatan untuk kita semua para orang tua, bahwa ada hal-hal yang sesungguhnya bukan menjadi tanggung jawab anak-anak kita.

Mengajarkan dan mendidik anak-anak untuk tumbuh menjadi manusia yan bertanggung jawab tentu saja adalah harapan nyaris semua orang tua. Karena kita berharap, dengan belajar tanggung jawab sejak dini, kelak anak-anak ini mampu menghadapi dunia dengan beragam tantangannya.

Sayangnya, ketidaksempurnaan kita sebagai orang tua seringkali membuat kita memberikan “tanggung jawab’ yang semestinya tidak perlu diemban oleh anak-anak kita. Apa saja tanggung jawab yang sesungguhnya bukan menjadi tanggung jawab anak-anak?

Baca juga: 21 Kegiatan Untuk Ajarkan Anak Tanggung Jawab, Kemandirian dan Kasih Sayang

Anak tidak bertanggung jawab menjadi penyampai pesan di saat orang tua bertengkar

Saat bertengkar dengan pasangan, pernah nggak kita meminta anak untuk menyampaikan omongan kita ke pasangan?

“Bilang ke ayah, nanti ayah yang jemput kamu di sekolah.”

“Bilang ke mama, kalian nanti pulang ke rumah Ayah tanggal 15.”

“Bilang ayah dong, itu uang sekolah dibayar…”

dan masih banyak pesan-pesan lain yang kita titipkan ke anak.

Kita yang memilih untuk bertengkar dengan pasangan. We choose our own battle. Lantas kenapa jadi anak yang harus menyampaikan pesan-pesan tersebut? Apalagi besar kemungkinan emosi yang kita rasakan pada pasangan akan kita lampiaskan ke anak ketika anak menyampaikan pesan tersebut. Pernah dengar kalimat “Don’t shot the messenger?”

Anak tidak bertanggung jawab untuk menjadi pelampiasan emosi kita

Pernah merasa kesal, kecewa atau marah kepada orang lain namun tidak berani atau tidak bisa menyampaikannya? Kemudian kita memilih untuk memendam perasaan tersebut, tapi kemudian meledak saat anak berbuat kesalahan sepele. Karena ya memang kita merasa lebih mudah melampiaskan ke anak. Tanpa sadar kita menyalahgunakan “kekuasaan” yang kita punya sebagai orang tua. Orang tua yang lebih kuat, anak yang lebih lemah. Maka ketika orang tua mendapat tekanan dan perlu melampiaskan emosinya, orang tua pun menjadikan anak sebagai korban.

Anak tidak bertanggung jawab terhadap perasaan orang tua

Photo by Vitolda Klein on Unsplash

Anak-anak secara alami memiliki rasa empati yang tinggi. Orang tua yang sedang berjuang secara emosional atau sedang terluka, bisa jadi merasa bahwa sang anak secara natural mampu memberikan rasa nyaman dan dukungan terhadap dirinya yang sedang galau. Kemudian kita jadi merasa bahwa anak bertanggung jawab untuk menciptakan emosi positif atau negatif di dalam diri kita.

Saat kita sedang marah atau kesal, kemudian kita mengatakan “Kamu sih nakal, bikin mama kesal aja,” atau “Makanya kamu jangan ngeselin dong, mama jadi nggak happy kan.”

Bagaimana pun, otak anak belum berkembang dengan sempurna untuk meregulasi emosi yang dirasakan oleh orang tuanya. Ketika kita mengajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap emosi kita, artinya anak akan belajar untuk menjaga emosi kita orang tuanya namun tidak belajar untuk meregulasi emosinya sendiri.  The truth is our emotional pain is our responsibility.

Baca juga: Saat Anak Usia 9-15 Tahun Meminta Tanggung Jawab Lebih

Anak tidak bertanggung jawab terhadap mimpi-mimpi orang tua yang tidak tercapai

“Kamu jadi PNS ya, soalnya dulu ayah mau jadi PNS nggak berhasil.”

“Kamu les ballet ya, seru lho. Mama aja dulu kepingin banget tapi nggak punya uang.”

“Kamu nanti beli mobil BMW ya, kerja yang benar, papah naksir dari dulu tapi nggak kesampaian.”

Dan sejuta impian lain orang tua yang kemudian berpindah menjadi “impian” sang anak yang sebenarnya tidak anak inginkan.

Anak punya mimpi-mimpinya sendiri. Hargai hal tersebut dan dukung semaksimal kita. Biarkan dia meraih mimpinya, jangan sampai, mimpinya harus dikubur demi meraih mimpi kita, dan alhasil kelak dia akan membebankan anaknya dengan mimpinya dia yang tertunda.

Anak tidak bertanggung jawab terhadap kemandirian saudara kandungnya

Photo by Keren Fedida on Unsplash

Ini sering dialami oleh anak sulung biasanya, yang diberi beban untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh adik-adiknya.

Adik telat bangun dan terlambat ke sekolah – “Kamu gimana sih kak, kok adeknya nggak dibangunin.”

Adik memakai pakaian yang kurang proper ke acara keluarga – “Kamu tuh sebagai kakak, diperhatikan dong adeknya, masa pakaian kayak gitu kamu diemin aja.”

Setiap anak harus bisa bertanggung jawab terhadap dirinya masing-masing. baik sebagai kakak atau sebagai adik. Daripada melimpahkan tanggung jawab ke anak, mendingan didik setiap anak untuk mampu bertanggung jawab dan bersikap mandiri.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top