Now Reading
Kenapa Buat Anak Jaman Sekarang, Sopan Santun Itu Seperti Tidak Penting?

Kenapa Buat Anak Jaman Sekarang, Sopan Santun Itu Seperti Tidak Penting?

Mommies Daily

Ngomongin anak jaman sekarang (meski nggak semua, ya, catet!), rasanya nggak jauh dari soal sopan santun dan attitude. Kenapa demikian, ya?

Anak jaman sekarang, generasi Z, buat sebagian Mommies, mungkin anak-anaknya sudah masuk generasi ini? Meski nggak semuanya, tapi tidak sedikit yang kelihatannya menganggap sopan santun dan attitude itu tidak penting. Lain dengan generasi sebelum-sebelumnya (termasuk generasi kita), dulu lewat lorong sekolah yang banyak kayak-kakak kelasnya, rasanya nggak berani kalau nggak nunduk sampai dagu menyentuh dada. Belakangan ini, content yang muncul di Instagram dan viral, apalagi kalau bukan content yang mengandung sensasi, termasuk anak muda yang ngotot mau buru-buru keluar dari pesawat. Begitu ditegur sama orang yang lebih tua, malah balik mengumpat dengan kata-kata tidak sopan. Sudahlah nggak sopan, masih sempat kepikiran pula buat bikin content. Kalau coba ditilik dan dihubungkan dengan kehidupan di jaman sekarang, bisa jadi ini alasannya.

Terlalu nyaman berada di jaman serba instan 

Kurang memudahkan apa jaman sekarang ini? Mau makan, tinggal pesan dari aplikasi, mau ke luar rumah saat nggak ada kendaraan, tinggal pesan mobil sekaligus drivernya. Bukan tidak mungkin, semua yang serba instan ini membuat anak jaman sekarang tidak punya daya juang yang tinggi, malah terlalu nyaman. Pokoknya, gimana, deh, caranya, yang penting urusan beres, cepat sampai tujuan, cepat kelar. Alhasil, mereka cenderung lebih fokus pada tujuan, bukan pada prosesnya. Sementara, sopan santun dan kerendahan hati terutama dalam berkomunikasi bisa dibilang kunci menuju keberhasilan. 

Baca juga: Monica Wijaya: Rendah Hati dan Membuka Diri untuk Hal Baru Adalah Kunci Sukses

FOMO, nafsu berlomba-lomba

Jaman yang serba instan dan memudahkan ini kemudian menciptakan isu-isu baru, seperti Fear of Missing Out (FOMO), dekat juga dengan sirik-sirikan. Pokoknya, kalau temannya punya, dia juga harus punya, kalau nggak, bakal jadi orang yang paling ketinggalan bahkan terancam ketika ngobrol di grup chat. Alhasil, semua hal dilakukan dengan nafsu untuk berlomba-lomba, bahkan sampai ke hal-hal yang nggak masuk akal, seperti, minta teman nge-tag parkiran alias berdiri jagain dan mencegat mobil lain parkir di situ, saat mall lagi ramai pengunjung. Hah? Emang ada yang begini? Ada!

Terlalu banyak interaksi virtual?

Memang, sih, pandemilah yang menuntut anak-anak untuk sekolah online. Tidak heran, budaya komunikasi virtual, yang sangat berbeda dari komunikasi langsung, kian mendominasi cara anak jaman sekarang berkomunikasi. Awal pandemi, semua on-cam saat meeting, termasuk murid-murid di kelas. Sekarang, coba hitung banyakan mana sama yang off-cam. Demikian pula dengan komunikasi di grup chat, termasuk DM instagram, kalimat sapaan kian menjadi hal di luar esensial. Asal tegur saja, to the point saja dalam menyampaikan segala sesuatu. Hal ini kemudian mengarah kepada… 

Sopan santun yang dianggap hanya basa-basi

Budaya to the point menghasilkan bentuk percakapan yang kerap dilakukan tanpa sapaan. Kalimat seperti, “Apa kabar?”, “Semoga dalam keadaan sehat, ya!”, “Terima kasih untuk waktunya, ya”, “Boleh diganggu sebentar?”, bahkan kalimat memperkenalkan diri, yang sebetulnya penting banget saat memulai sebuah percakapan, seringnya di-skip. Padahal di sisi lawan bicara, kita bisa dianggap tidak tahu sopan santun, main nyamber aje! Sementara, buat anak-anak jaman sekarang, kalimat sapaan tersebut hanyalah basa-basi yang ngga perlu. Ya, nggak gitu juga, Nak!

Baca juga: Nak, Yuk, Belajar Komunikasi Dasar Agar Kelak Kamu Nggak Dibenci Banyak Orang

Media sosial menjadi juri

Netizen is the God of social media world. Belajar dari kasus Johnny Depp vs. Amber Heard, bagaimana sidang terbuka mereka kian menjadi konten “seru” yang nongol terus di Tiktok dan Instagram. Seluruh dunia menonton dan menjadi juri. Terlepas dari kesalahan Amber Heard, budaya meng-cancel seseorang alias memboikot seseorang, termasuk public figure, membuat pengguna media sosial merasa jadi punya peran besar. Semakin mudah menggiring massa untuk “silaturahmi” dalam arti yang negatif. Lihat saja, tuh, pembela UAS yang kini menyerang Instagram presiden Singapur. Segitu mudahnya jari berlari ke satu akun hanya untuk melakukan penyerangan. Fokusnya juga pada kesalahan yang dilakukan, sehingga keinginan untuk menyerang orang lain lebih tinggi dari keinginan untuk saling berkenalan atau bertegur sapa dengan ramah dan sopan. 

Bagaimana menurut Mommies?

Photo created by tirachardz – www.freepik.com

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top