Ini Pentingnya Bilang “Tidak” Alias Menolak Permintaan Anak

Parenting & Kids

RachelKaloh・25 Feb 2022

detail-thumb

Buat yang masih sering bilang, “Ya udah kasih aja, deh, daripada ngerengek terus”. Menolak permintaan anak dengan bilang “tidak” itu perlu!

Memang, berat rasanya bilang “tidak” pada anak. Belum lagi pakai ada drama guling-guling di lantai alias tantrum ketika permintaannya kita tolak. Kalau di rumah, sih, nggak masalah, tapi kalau kebetulan lagi di tempat main atau tempat umum, hmm, haruskah kita tetap kekeuh bilang tidak? Harus! Ini alasannya.

Short-term pain for long-term gain

Georgia Manning, psikoterapis dari Wellbeing For Kids, menegaskan bahwa bilang “tidak” pada anak adalah salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan pada anak. Selama ini banyak orangtua yang enggan untuk bilang “tidak”, karena dianggap dapat membuat anak jadi tidak percaya diri di masa depannya. Padahal, yang namanya cinta bukan artinya melindungi anak dari ketidaknyamanan. Short-term pain for long term gain, anak perlu merasakan tidak nyaman sekarang, supaya di masa depan, ia paham tidak selamanya keinginannya bisa terwujud dengan mudah.

Baca juga: Tantangan Komunikasi Antara Orang Tua dan Anak Zaman Sekarang

Anak merasa tidak nyaman itu perlu

Anak-anak perlu merasakan ketidaknyamanan. Justru bila kita melindungi anak dari situasi atau perasaan yang tidak nyaman, anak cenderung akan memiliki harapan yang tidak realistis di masa depan. Kalau selama ini semuanya di-iya-in, besok-besok mesti siap dengan permintaan ajaib anak. Merasa tidak nyaman akan mempersiapkan anak menghadapi masa depan yang jauh lebih mengejutkan (ya, kayak kehidupan kita sekarang saja, deh! Banyak, kan kejutannya? LOL!). Mau, kan, anak tumbuh dengan memiliki kemampuan untuk menghadapi realita? Janganlah sungkan bilang “NGGA!” 

Belajar menunggu

Ada waktunya kita meng-iya-kan permintaan anak, ada kalanya juga kita menolak, supaya anak belajar untuk menunggu, bersabar. “Mah, aku mau mainan itu,” bisa kita jawab dengan, “Ok, Nak, nanti, ya, tunggu Ayah gajian!” Tapi, kalau bulan depan ia minta lagi, kita juga bisa, kok, menjawabnya dengan, “Nggak, Nak, kemarin, kan, baru beli mainain!” Atau, minta anak untuk menunggu sampai hari ulang tahunnya datang, Lebaran atau Natalan. Anak paham, kok, aturan menunggu ini. Ia juga akan belajar sabar. Menurut Georgia Manning, menunda kepuasan adalah salah satu faktor terpenting untuk sukses dalam hidup. Well, kita sudah sering membuktikannya, kan?

Anak lebih menghargai mimpi dan keinginannya

Dapat hadiah? Siapa yang nggak senang? Tapi, bayangkan kalau anak semudah itu mendapat mainan setiap kali diminta. Bukankah bakal jadi biasa-biasa saja mainannya itu? Tidak lagi spesial! Mungkin kita nggak perlu menolak mentah-mentah saat anak meminta sesuatu, tapi kita bisa menundanya dan anak bisa dilibatkan di sini. Kalau ia sudah mulai paham dengan konsep menabung, maka ajak anak belajar tentang proses, dengan cara mengumpulkan uang. Sama halnya saat ia minta nonton TV di jam makan. Bilang “tidak” adalah cara mendidik anak supaya ia paham: ada waktunya nonton, ada waktunya makan. 

Menolak adalah cara menciptakan batasan

Penting juga, lho, buat anak untuk bisa menolak dan anak akan mengerti caranya bila terbiasa berhadapan dengan kata “tidak” dari orangtuanya. Kemampuan untuk berkata “tidak” itu penting buat anak, karena artinya anak bisa menciptakan batasan, terutama saat menjalani hubungan dewasa kelak.

Baca juga: Hati-hati, Jangan Sampai Anak Mengalami Good Girl Syndrome

Memberi pemahaman tanpa perlu menjadi teman

Menjadi orangtua yang asik bukan berarti harus seperti teman buat anak, yang artinya never say no. Nyatanya, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pengasuhan yang tegas (tough love) akan memutuskan bonding Anda dengan anak. Orangtua yang asik adalah yang bisa memberikan waktu yang berkualitas, menanamkan trust pada anak dan sebaliknya, memberikan kepercayaan pada anak.

Photo created by jcomp – www.freepik.com