Strabismus & Amblyopia: Gangguan Penglihatan pada Anak yang Dapat Mengganggu Tumbuh Kembang

Kids

Mommies Daily・17 Dec 2021

detail-thumb

Banyak aktivitas yang memerlukan bantuan mata. Yuk, lindungi kesehatan mata anak agar terhindar dari gangguan penglihatan untuk dukung tumbuh kembangnya.

Memiliki penglihatan yang prima adalah hal yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Banyak aktivitas yang memerlukan ketajaman penglihatan anak, seperti misalnya motorik kasar (melompat, berlari, lempar tangkap bola), membaca dan menulis, naik sepeda, dan berbagai aktivitas lain. Namun, ada beberapa kondisi penglihatan pada anak, yang ternyata dapat mengganggu tumbuh kembangnya lho, moms. Misalnya strabismus (mata juling) dan amblyopia (mata malas) seperti yang saya alami.

Sebagai anak dengan masalah penglihatan, banyak hal yang saya lewatkan semasa kecil karena tidak mempunyai penglihatan yang baik. Saya terlahir dengan salah satu bola mata yang masuk ke dalam, yang berkembang menjadi strabismus esotropia (mata juling di mana salah satu mata dapat melihat lurus ke depan, sementara yang lainnya cenderung masuk/melihat ke arah hidung) dan amblyopia (mata malas). Pada kondisi saya, hal ini disebabkan karena mama mengkonsumsi obat yang cukup keras semasa kehamilan, dan mempengaruhi perkembangan penglihatan saya semasa janin. Saat ini ketajaman penglihatan mata kiri saya kurang lebih hanya sepersepuluh dari orang normal, karena kondisi strabismus dan amblyopia saya.

Pada kebanyakan kasus strabismus (atau lebih mudahnya, kita sebut mata juling, ya), penyebabnya adalah genetik. Semisal diturunkan dari orang tua, atau bisa juga karena lahir prematur. Mata juling bisa bersifat konstan, namun bisa juga hanya tampak ketika anak kelelahan, melamun, atau melihat jauh. Yang saya alami adalah strabismus konstan, yang pada akhirnya berkembang menjadi amblyopia (kita sebut sebagai mata malas, ya).

BACA JUGA: Mengenal Lebih Jauh Tentang Strabismus atau Mata Juling pada Anak

Penyebab terjadinya mata malas pada kondisi saya adalah karena mata kiri saya yang juling tidak digunakan dengan baik, sehingga akhirnya mengalami penurunan tajam penglihatan. Menurut penjelasan dari dokter mata saya, jika mata tidak dapat melihat dengan jelas dan tidak diberi alat bantu penglihatan yang tepat supaya dapat melihat dengan jelas, maka lama kelamaan otak akan mengabaikan image yang terbentuk dari hasil pandang mata tersebut dan lebih memilih menggunakan mata yang lebih jelas dalam melihat. Sehingga, mengakibatkan mata yang lemah tersebut menjadi malas. Oleh karena itu, sangat penting sekali memberikan alat bantu penglihatan yang tepat ke anak-anak kita. Lebih baik memakaikan kacamata ke anak karena memang dibutuhkan, daripada nantinya anak mengalami penurunan tajam penglihatan, kan.

Semasa kecil, saya sangat kesulitan ketika melakukan aktivitas-aktivitas fisik seperti berlari, bersepeda, melompat, lempar tangkap bola. Karena bagi saya, sangatlah sulit untuk memperkirakan jarak dan sasaran. Olahraga basket dulu merupakan sebuah momok bagi saya. Meskipun saya suka berlari, namun rasanya tidak pernah bisa mengikuti ritme permainan karena kalah cepat mengikuti arah gerakan bola hanya dengan sebelah mata yang normal. Begitu juga dengan menari, saya sangat kesulitan mengikuti gerakan pelatih sembari menirukannya karena penglihatan saya yang terbatas.

Di masa balita, saya juga sering jatuh tersandung karena tidak dapat menganalisa keadaan sekeliling dengan baik. Ketika sekolah, saya juga mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, karena kurang tajamnya penglihatan. Padahal saya selalu duduk di barisan paling depan dan di posisi tengah, namun tetap saja masih kesulitan mengikuti pelajaran. Saya ingat sekali betapa jebloknya nilai pelajaran Kimia, Fisika, dan Matematika saya ketika SMA, karena mata saya kesulitan mengikuti penjelasan dari guru ketika jam pelajaran. Namun seiring pertumbuhan, saya cukup beradaptasi dengan kondisi mata saya. Perlahan saya belajar naik sepeda, dan bahkan berhasil naik sepeda motor dengan cukup baik juga, lho. Saya pun berhasil mengatasi keterbatasan saya dalam hal akademis, dan tetap bisa berprestasi di sekolah. 

Gambar dari Unsplash

Beberapa hal yang bisa terjadi pada anak jika memiliki kondisi mata juling (strabismus), antara lain :

  • Amblyopia (mata malas) seperti mata saya, karena salah satu mata tidak digunakan dengan baik, sehingga akhirnya mata yang juling mengalami penurunan tajam penglihatan
  • Kurangnya kemampuan mata untuk memperkirakan kedalaman (depth perception) dan 3D (atau seringkali disebut stereo vision), karena memerlukan kerja sama kedua mata yang harmonis dari kedua mata untuk bisa memfokuskan pandangan pada objek yang menjadi fokus penglihatan. Jadi cukup berisiko juga ketika bersepeda atau mengendarai kendaraan, nih.
  • Postur anak yang kurang baik, karena biasanya anak yang juling akan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi untuk memfokuskan penglihatan.
  • Untuk anak dengan mata juling, berikut beberapa opsi pengobatan yang ada:

  • Menggunakan kacamata: jangan lupa cek ke dokter mata (akan lebih baik lagi jika ke dokter mata anak, ya) per 6 bulan sekali atau lebih cepat jika sudah tidak nyaman. Jangan hanya cek ukuran kacamata anak di optik, ya! Lebih baik cek ke dokter mata, supaya bisa diukur dengan pasti & anak mendapatkan ketajaman penglihatan terbaiknya untuk mendukung tumbuh kembangnya.
  • Menggunakan eye patch: jika juga terdapat amblyopia pada mata anak, biasanya akan dilakukan terapi eye patch untuk melatih mata yang masih malas. Terkadang juga dikombinasikan dengan menggunakan kacamata untuk membantu mempertajam penglihatan.
  • Operasi: untuk menyeimbangkan kekuatan otot kedua mata, supaya fokus dan memberikan penglihatan terbaik untuk anak. Pada beberapa kasus, terkadang diperlukan pembedahan lebih dari satu kali. Tapi jangan khawatir, biasanya dokter akan mempertimbangkan kondisi mata anak terlebih dahulu sebelum menyarankan operasi. Terkadang juga masih dibutuhkan kacamata pasca operasi, tergantung pada kondisi mata.
  • BACA JUGA: Kesehatan Mata Anak: Mengenap Miopi atau Rabun Jauh pada Anak

    Saat ini saya menggunakan RGP (Rigid Glass Permeable) atau yang disebut juga hard (contact) lens, dikarenakan minus saya yang sangat tinggi sebagai efek dari amblyopia (mata malas). Sudah 6 bulan lebih saya memakai RGP sebagai opsi terbaik untuk penglihatan saya. Ternyata memakai RGP juga tidak sengeri yang dibayangkan, lho. Pada awalnya saya memakai RGP secara bertahap, 2 jam, 4 jam, 6 jam, sampai akhirnya bisa memakai seharian. Dan terasa seperti memakai contact lens saja, kok. Hanya sedikit lebih perih jika terkena debu atau berada di area berangin/kering. Dengan menggunakan RGP, maka lapang pandang penglihatan saya jauh lebih baik dan tajam daripada ketika mengenakan kacamata. Karena RGP kan mirip dengan softlens yang langsung “menempel” di kornea mata, ya. Mata juga lebih dapat bernafas karena ukuran RGP yang jauh lebih kecil daripada softlens.

    Pesan saya untuk para orang tua, yuk kita lebih memperhatikan penglihatan anak. Karena akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang mereka. Perkembangan penglihatan anak ini kurang lebih sampai usia 10 tahun ya, jadi penting sekali untuk penanganan dini masalah penglihatan, supaya menghasilkan penglihatan yang lebih baik. Tidak perlu takut atau malu, jika curiga si kecil harus memakai kacamata. Tidak perlu juga merasa bahwa kacamata mengganggu kegiatan anak-anak kita, karena sebetulnya ketika penglihatan anak tidak baik, maka aktivitasnya akan lebih terganggu lagi. Dunia terlihat blur semua di mata mereka dan bisa membatasi jenis aktivitas-aktivitas yang nyaman dan lihai mereka lakukan. 

    Saat ini sudah banyak sekali inovasi kacamata yang sangat nyaman namun cakep untuk dikenakan oleh anak-anak kita juga lho, moms. Jadi, kalau curiga si kecil sepertinya ada masalah dengan penglihatannya, yuk, segera bawa ke dokter mata! Oh ya, BPJS juga meng-cover kacamata lho, moms. Jangan lupa cek ke dokter mata per 6 bulan sekali sebelum usia 4 tahun walau tidak ada gangguan penglihatan dan follow up check up setiap 1-2 tahun ya! Demikian pesan dari dokter mata anak-anak saya, dr. Ni Retno Setyoningrum, Sp.M(K).

    BACA JUGA: 14 Cara Sederhana untuk Mengatasi Mata Lelah