Now Reading
7 Tanda Orang Tua Belum Memiliki Kematangan Emosional

7 Tanda Orang Tua Belum Memiliki Kematangan Emosional

Pengasuhan di bawah orang tua yang belum memiliki kematangan emosional akan membahayakan tumbuh kembang anak. Kenali tanda-tandanya sebelum memberi dampak negatif kepada Si Kecil. 

Kematangan emosional tidak hadir dengan mudah. Banyak yang kesulitan mendapatkan hal tersebut bahkan ketika sudah dewasa. Ya, kematangan emosional tidak hanya soal bertambahnya usia. Itu melibatkan beberapa hal, termasuk bagaimana kita menerima kritik, menyadari kelebihan dan kekurangan diri, berempati dengan orang lain, serta menguatkan diri dalam menghadapi masalah kehidupan.

Memiliki kematangan emosional erat kaitannya dengan karakter seseorang dan bagaimana itu memengaruhi hubungan dengan orang lain. Orang tua yang belum matang secara emosional dapat membahayakan psikis anak dengan berbagai cara. Anak-anak dari orang tua seperti ini akan kesulitan mengenal cinta, identitas, dan kepercayaan diri. Beberapa anak bahkan akan mengulang pola yang sama seperti orang tuanya dan tidak memiliki kematangan emosional yang baik.

BACA JUGA: 4 Gaya Pengasuhan dan Dampaknya pada Karakter Anak

Untuk menghindarinya sedari dini, kenali 7 tanda orang tua yang belum memiliki kematangan emosional:

1. Tidak peka terhadap perasaan anaknya

Orang tua yang belum matang secara emosional biasanya sulit berempati dengan perasaan anaknya. Mereka kesulitan memahami masalah dari sudut pandang si anak karena terlalu fokus kepada diri sendiri.

Orang tua jenis ini juga tidak pernah bertanya kepada anak untuk semua keputusan diambilnya. Atau menanyakan bagaimana perasaan sang buah hari akan hal tersebut. Orang tua yang belum matang secara emosional berharap anaknya akan senang dengan semua langkah yang diambilnya karena merasa itu “yang terbaik” buat Si Kecil.

Jangan Menghukum Anak

2. Sering menumpahkan kekesalan ke anak

Tanda lainnya adalah mereka sulit mengatur emosinya dan kerap menumpahkan rasa marah serta frustasinya kepada anak. Orang tua jenis ini juga defensif, mudah tersinggung, gampang kecewa, dan tidak sabaran. Karena belum memiliki kematangan emosional, mereka tidak tahu cara mengontrol perasaannya.

Anak dengan orang tua yang belum matang secara emosional akan merasa berjalan di atas kaca tipis. Mereka selalu takut akan mengecewakan dan dimarahi orang tuanya.

Sebaliknya, orang tua yang memiliki kematangan emosional tahu caranya mengontrol perasaan mereka sehingga lebih tenang, rasional, dan bisa diajak diskusi.

3. Meminta terlalu banyak dari sang anak

Penerimaan adalah bagian dari kematangan emosional. Oleh sebab itu, mereka yang belum memilikinya, akan merasa selalu kurang. Pada akhirnya, orang tua dengan ketidakmatangan emosional kerap menuntut hal berlebihan dari anaknya. Mereka akan menggunakan kalimat “ini semua demi kebaikan kamu” atau “ibu/ayah hanya ingin melihat kamu sukses” sebagai andalan.

Padahal, orang tua yang matang secara emosional akan lebih fokus kepada usaha dibanding hasil. Mereka tidak perlu anaknya menjadi yang paling pintar, paling cantik, atau paling populer, untuk bisa dicintai.

orang tua strict

4. Mudah menyalahkan orang lain

Seseorang baru benar-benar bisa dikatakan sudah dewasa apabila ia bertanggung jawab untuk semua tindakannya dan pilihan yang sudah dibuat. Namun, orang tua yang belum matang secara emosional cenderung menyalahkan orang lain untuk semua hal yang tidak berjalan sesuai rencana.

5. Tidak menyadari kekurangan diri sendiri

Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak semua orang memiliki jawaban untuk masalah hidup. Namun, orang tua yang tidak memiliki kematangan emosional akan berpikir mereka selalu benar dan anak harus menuruti apa yang dikatakan. Mereka kerap menghakimi keputusan anak, berpikiran tertutup, dan tidak menyadari kekurangan diri sendiri.

Orang tua jenis ini begitu dibutakan oleh harga diri dan ego mereka sehingga ingin anaknya tetap patuh dan setia tanpa ragu. Mereka tidak memiliki kedewasaan emosional untuk melihat bahwa mereka bisa saja salah.

6. Mengontrol anak

Tanda lain dari orang tua yang belum matang secara emosional adalah mereka cenderung kaku, keras kepala, dan sombong. Mereka memiliki nilai dan cita-cita sendiri yang diharapkan bisa diikuti oleh anaknya. Ayah dan ibu seperti ini tidak mengizinkan anak untuk mendebat pilihan yang mereka buat.

Anak di bawah pola pengasuhan seperti ini biasanya tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan selalu membutuhkan validasi dari orang tuanya. Mereka akan melakukan apa pun untuk menyenangkan orang tuanya dan jadi tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan diri sendiri.

7. Rendahnya toleransi terhadap stres

Rasanya kita setuju bahwa kematangan emosional ditandai dengan kemampuan seseorang beradaptasi dengan lingkungan atau masalah yang dihadapinya. Oleh sebab itu, mereka yang belum matang secara emosional, toleransi terhadap stresnya sangat rendah. Mereka tidak bisa mengatasi dengan baik ketika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan.

BACA JUGA: Mengenal Gentle Parenting, Gaya Pengasuhan yang Mengutamakan Perasaan Anak

Setiap anak berhak mendapatkan orang tua yang peduli, penuh perhatian dan kasih sayang, serta matang secara emosional. Orang tua yang memiliki kematangan emosional dapat diandalkan, selalu mendukung, hangat, terbuka, hormat, dan empati kepada anaknya. Mereka menerima Si Kecil apa adanya dan membiarkannya menjadi diri mereka.

Meskipun tampaknya sulit untuk menjadi orang tua sesempurna itu, tetapi setidaknya Mommies dan Daddies bisa mengusahakannya agar anak tumbuh dengan baik. Baik dari segi fisik maupun emosional mereka.

orangtua anak berkebutuhan khusus

Menjadi orang tua—terutama untuk pertama kalinya—bukanlah hal mudah. Muncul banyak kekhawatiran dan ketakutan akan kehidupan baru ini. Hasil survei Studi Kebidanan Politeknik menunjukkan bahwa ada 42,9% ibu hamil di trimester 3 yang mengalami kecemasan ringan hingga berat. Ini terjadi karena mereka khawatir dengan kesejahteraan diri dan janin, proses persalinan, kehidupan setelah bersalin dan berganti peran menjadi seorang ibu.

Ya, terjadi perubahan fisik dan mental yang membuat orang tua baru terkadang kewalahan. Belum lagi, karena baru pertama kali menghadapi dunia ini, terkadang kita clueless dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jika tidak hati-hati, kita juga bisa terjebak pada mitos dan informasi yang tidak benar terkait mengurus anak dan keluarga.

Untuk membantu para orang tua, Mommies Daily akan menyelenggarakan Mommies Daily Power Hour Volume 2 pada 21-23 Januari 2022. Mengusung tema “New Parents Learning Days”, rangkaian event selama tiga hari ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi para orang tua untuk recharge energinya dalam bentuk skill dan ilmu baru, serta waktu me-time untuk menyenangkan diri sendiri. Mommies Daily Power Hour Volume 2 ini hadir untuk memberikan suntikan tenaga agar kita bisa menjadi lebih baik lagi sebagai orang tua maupun sebagai individu.

Acara ini didedikasikan untuk para calon orang tua maupun orang tua baru yang masih banyak membutuhkan informasi maupun pengetahuan menjalani peran sebagai orang tua. Bahwa persiapan menjadi orang tua sebaiknya dimulai dari sebelum masa kehamilan,baik itu kesiapan secara fisik, emosi, mental hingga kesiapan finansial. 

Dalam acara ini, nantinya Mommies dan Daddies bisa mengikuti berbagai sesi webinar dan workshop menarik bersama dengan para ahli di bidangnya, mulai dari Annisa Steviani (Certified Financial Planner, Jiemi Ardian (Psikolog), dan masih banyak lagi. Mommies Daily Power Hour Volume 2 akan membahas tentang pernikahan dan hubungan dengan pasangan, mempersiapkan kehamilan, kehidupan setelah persalinan, hingga bagaimana re-parenting dan berdamai dengan inner child agar bisa menjadi orang tua yang sehat lahir batin.

Seru banget kan, Mommies? Jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti acara Mommies Daily Power Vol 2, ya! Agar bisa terus terupdate dengan informasi terbaru seputar acara ini, pantengin terus media sosial Mommies Daily!

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top