Now Reading
Sering Diremehkan Ketika Mengurus Anak, Berikut 8 Mitos Tentang Ayah

Sering Diremehkan Ketika Mengurus Anak, Berikut 8 Mitos Tentang Ayah

mitos tentang ayah

Ayah kerap dipandang sebagai tokoh pendukung dan dianggap tidak bisa mengurus anak sebaik ibu. Ini merupakan beberapa contoh mitos dan miskonsepsi tentang ayah yang muncul di masyarakat. 

Gagasan bahwa perempuan menjadi orang tua yang lebih baik dari laki-laki dan bahwa anak lebih membutuhkan ibu dibanding ayahnya, merupakan salah dua contoh mitos atau miskonsepsi tentang ayah. Pada dasarnya, anak membutuhkan kedua orang tua-nya sehingga peran mereka harus seimbang. Dan ketika menjadi orang tua, bukan hanya ibu yang berjuang, tetapi ayah juga.

Banyak sekali stigma dan stereotipe yang membebani punggung ayah selama ini. Berikut di antaranya.

Mitos dan miskonsepsi tentang ayah

Mitos 1: Pria tidak begitu menginginkan anak

Benar bahwa di masa remaja—perempuan lebih menginginkan kehadiran anak dibanding laki-laki. Namun, seiring berjalannya usia, pria juga sama-sama ingin punya anak, kok. Jadi intinya, keduanya sama-sama merasa punya anak adalah hal yang penting, walaupun memang keinginan pria ini hadir lebih lambat dibanding wanita.

Mitos 2: Ayah kurang sensitif kepada anaknya

Adrienne Burgess, Joint Executive & Head of Research dari Fatherhood Institute mengungkapkan bahwa asumsi tersebut tentu saja salah. Ayah bukan orang tua inferior dan rasa cintanya sama kepada anaknya. Satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan ayah kepada bayinya adalah menyusui, selebihnya mereka memiliki sensitivitas dan perhatian yang sama kepada buah hatinya.

Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa jantung ayah berdetak sama cepatnya ketika mendengar bayinya berteriak. Ayah yang ditutup matanya juga langsung bisa mengenali anaknya sendiri hanya dengan memegang tangan mereka.

Mitos 3: Ibu mengasuh anak lebih baik dari ayah

Ibu baru kadang-kadang tampak lebih unggul dibanding ayah saat mereka mengurus bayinya. Namun, ini mungkin terjadi karena ibu merupakan pengasuh pertama dan lebih sering menghabiskan banyak waktu sendirian dengan si bayi. Faktanya, sebuah studi menunjukkan bahwa ketika pria dan wanita diberikan waktu dan dukungan yang sama ketika mengurus anak, kemampuan pengasuhan mereka berada di tingkat yang sama. Oleh sebab itu, agar ayah bisa mengurus anaknya dengan baik, berikan waktu yang sama baginya untuk bersama Si Kecil.

Mitos 4: Keberadaan ayah kurang penting

Ini merupakan mitos paling populer dan tentu saja salah tentang ayah. Banyak orang mengatakan bahwa keberadaan ayah “nggak penting-penting amat”. Padahal, sosok ayah berperan dalam perkembangan emosional dan mental anak pada level yang sama dengan kehadiran ibu.

Review dari 36 studi yang dilakukan para peneliti di University of Connecticut menunjukkan bahwa kasih sayang ayah merupakan faktor utama dalam perkembangan anak. Mereka mengungkapkan bahwa anak-anak yang tidak menerima cinta dari ayahnya sedari kecil, cenderung tumbuh jadi anak yang cemas dan kerap merasa tidak aman. Mereka juga bisa menjadi anak yang agresif seiring bertambahnya usia.

Mitos 5: Ayah bermain terlalu kasar dengan anaknya

Saat menemani anak bermain, banyak orang yang mengomentari cara mereka—dianggap terlalu kasar dan bisa membahayakan anak. Padahal, permainan tertentu—seperti kuda-kudaan—justru bagus bagi perkembangan anak. Menurut sebuah studi yang dilakukan Fathers and Familis Research Program dari University of Newcastle, permainan kuda-kudaan yang dilakukan ayah dan anak bisa membantu membangun konsentrasi, kepercayaan diri, dan fungsi otak Si Kecil.

Mitos 6: Pria tidak bisa multitasking

Penelitian justru menunjukkan bahwa pria bisa multitasking seperti wanita. Jika memang ayah cenderung tidak bisa melakukan banyak tugas ketika di rumah, itu bukan karena faktor biologis apa pun (dan bukan karena mereka seorang laki-laki). Bisa jadi, selama ini, saat di rumah ayah cenderung menjadi peran pendukung sehingga mereka kurang percaya diri melakukan pekerjaan rumah.

Mitos 7: Perasaan ibu jauh lebih penting

Perubahan fisik dan proses melahirkan yang melelahkan membuat banyak orang berpikir bahwa perasaan ibu yang paling penting. Ini membuat kita kerap mengabaikan kesehatan fisik dan mental ayah yang sama-sama menjadi orang tua baru.

Meskipun suami harus mendukung istri selama masa pemulihan, tetapi tidak apa-apa jika Daddies juga lelah dan khawatir menghadapi kehidupan baru ini. Bicarakan dengan pasangan karena interaksi bisa membuat suami-istri jadi lebih dekat.

Mitos 8: Ayah yang fokus pada anaknya tidak bisa memiliki karier cemerlang di pekerjaan

Baik perempuan dan laki-laki, bisa memiliki peran sebagai orang tua sekaligus pekerja yang baik di kantor. Mereka tidak harus memilih salah satunya. Kita sudah melihat saat ini banyak orang tua yang juga sukses dalam kariernya. Menjadi orang tua merupakan pencapaian yang signifikan dalam hidup sehingga tidak adil jika menjadikannya sebagai “penghalang” pekerjaan.

Itulah delapan mitos dan miskonsepsi yang sering muncul tentang ayah. Apa stigma lain tentang ayah yang kerap Mommies dan Daddies dengar?

BACA JUGA:

6 Kritik Seputar Parenting yang Sering Dialami Para Ayah

9 Hal yang Perlu Didengar Anak Laki-laki dari Ayahnya

Ajarkan 8 Hal Ini Agar Anak Laki-laki Kita Bisa Menjadi Ayah yang Lebih Baik

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top