Now Reading
Vaginismus, Ketika Kondisi Organ Kewanitaan Sulit Disentuh

Vaginismus, Ketika Kondisi Organ Kewanitaan Sulit Disentuh

Cerita dari seseorang yang mengalami vaginismus selama dua tahun pernikahannya yang membuat hubungan intim suami istri harus dilakukan dengan penuh tantangan.

Pernah mendengar istilah vaginismus atau baru tahu istilah ini saat membaca artikel ini? Kalau Mommies salah satu yang masih awam dan belum memahami sepenuhnya, inilah saat yang tepat untuk mengetahui seputar “Apa itu vaginismus?”

Vaginismus - Mommies Daily

Apa Itu Vaginismus?

Secara garis besar, vaginismus adalah kondisi di mana otot vagina kaku dan tidak bisa dilakukan penetrasi. Salah satu yang mengalaminya adalah Nida’an Khofiyya Arfanni, seorang Wiraswasta saat ia berusia 25 tahun. Nida bercerita dan berbagi bagaimana kehidupannya selama dua tahun pernikahan dan bagaimana berkompromi dengan keadaan tersebut.

Meski pernah keguguran saat usia kandungannya hampir 11 minggu, Nida tidak pernah menyerah. Berikut percakapan tim Mommies Daily bersama Nida tentang bagaimana ia bekerja sama dan saling menguatkan dengan pasangan sambil membuktikan bahwa vaginismus bukan akhir dari segalanya.

Kapan pertama kali tahu kamu mengalami vaginismus?

Pada saat malam pertama. Merasa malam pertama tidak terlalu menyenangkan. Karena cukup stressfull, dan bikin frustasi. Menemukan banyak kesulitan, meski awalnya fun. Tapi pada saat mau penetrasi saya merasa stress dan takut.

Saya mencoba memantau selama satu sampai dua bulan, dan merasa masih susah. Akhirnya saya memutuskan ke dokter. Di dokter, saya tidak bisa USG transvaginal. Bawaannya takut dan berontak. Saat periksa pertama kali, dokter belum bisa kasih tahu, apa yang terjadi dengan saya.

Saya cari tahu sendiri, baca banyak artikel dari luar negeri, dan juga baca beberapa forum. Akhirnya saya menyimpulkan, kok gejala-gejala yang saya baca di berbagai artikel sama seperti yang saya alami. Di momen ini saya mengambil kesimpulan, saya mengalami vaginismus.

Dari pengalaman kamu menerima penjelasan dari dokter, apa itu vaginismus?

Saya mencari dokter yang menempuh pendidikannya khusus mempelajari vaginismus. Penjelasan dari dokter, vaginismus itu adalah kondisi di mana otot vagina kaku dan tidak bisa dilakukan penetrasi.

Ada beberapa otot di tubuh kita yang tidak bisa dikendalikan oleh diri kita sendiri, jadi memang bukan masalah psikis. Tapi memang otot vaginanya kaku. Gambarannya, seperti orang yang nge-dance tapi badannya kaku, namun ada juga yang selentur itu ketika menari. Nah, kebetulan kekakuan yang ada di tubuh saya ini atau tubuh orang-orang yang mengalami vaginismus ini terletak pada vaginanya, atau lebih detailnya pada otot vaginanya.

Dalam keadaan rileks sekalipun, misalnya ketika bulan madu, otot itu tidak bisa dikendalikan menjadi tidak kaku. Saat rileks aja, otot itu tidak bisa dikendalikan. Begitu juga sebaliknya, ketika saya merasa panik, atau nggak rileks. Otot-otot tadi, tidak serta merta jadi kaku. Jadi memang bukan karena saya stress dan takut, karena tadi dalam keadaan rileks sekalipun otot itu akan menjadi kaku.

Apa tanda awal yang kamu alami dan apakah Vaginismus ada penyebabnya?

Yang saya rasakan, walau sudah honeymoon ke tempat yang paling tenang dan romantis sekalipun dan ketika berhubungan tidak ada unsur paksaan, tapi tetap saja otot-otot vagina tidak bisa menerima penetrasi. Saya jadi berontak. Dan ketika dilakukan pengecekan oleh dokter untuk cek dalam, saya nggak suka dan nggak mau.

Penyebabnya sendiri sebenarnya kalau ditelaah lebih lanjut dan untuk yakin 100% bahwa saya vaginismus, sudah melalui proses yang panjang. Saya cari tahu lewat dokter, membaca artikel, hingga ke psikolog. Pada saat saya ke psikolog, saya ditanya riwayat masa lalu. Takutnya ada traumatis tertentu. Sebenarnya saya tidak pernah merasa ada trauma yang berhubungan dengan seks. Cuma memang dari awal, saya itu dididik dan dikonstruksi semenjak sudah aqil baligh, yang namanya keperawanan harus dijaga hanya untuk suami kelak.

Sampai akhirnya, saya sempat pisah rumah sama orangtua pas SMA karena saya harus sekolah di Bogor dan terbiasa jauh dari orangtua. Hal-hal yang selalu ditanamkan orangtua tentang moral dan sebagainya, itu nempel banget di saya. Jadi memang doktrinnya itu seefektif itu “nempel” di saya.

Karena mama saya sering sekali kasih tahu efeknya apa. Misalnya untuk seks bebas, bakal menghancurkan masa depan, bikin malu keluarga, dan lain-lain. Dan saya tidak mau itu terjadi, sehingga akhirnya benar-benar saya tanamkan di diri saya. Nah, mungkin itu berlanjut sampai saya punya suami. Saya merasa, punya dinding yang sangat tebal yang tidak bisa ditembus oleh apapun dan siapapun dalam urusan keperawanan.

BACA JUGA: Waspadai 8 Tanda Vagina Tidak Sehat Berikut

Kapan akhirnya kondisi ini terdeteksi?

Setelah dokter ke-6, baru bisa dimasukkan alat USG transvaginal. Yaitu di dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, yang memang punya concern terhadap vaginismus. Beliau juga yang memberitahu bahwa ada satu komunitas bernama Magnificent Journey. Di komunitas tersebut saat itu, ada hampir 200 perempuan yang mengalami vaginismus. Sebagai anggota komunitas, kami mendukung satu sama lain dengan berbagi pengalaman. Dan dari situ saya semakin semangat. Di komunitas itu juga, ada juga yang cerita, ada yang menerima pelakuan tidak menyenangkan dari suami dan keluarga. Sampai akhirnya ada yang mau bunuh diri.

Bentuk dukungan seperti apa dari suami?

Saya ingin suami di titik yang sama dengan saya. Artinya, sama-sama mendukung. Misalnya, ketika sedang berhubungan, saya paham harus saling memuaskan. Tapi saya ingin dia mengerti bahwa, harus pelan-pelan. Tips lain dari dr. Robbi, harus rajin menggunakan dilatasi, yaitu menggunakan jari atau menggunakan alat. Seperti sex toys, bentuknya penis, terbuat dari plastik. Suami saya juga tidak mementingkan nafsunya, melainkan memerhatikan kenyamanan saya.

Apakah vaginismus ada stadiumnya?

Jadi yang namanya vaginismus itu ada stadiumnya yaitu 1-5. Golongan 1, misalnya dia sudah bisa penetrasi tapi tidak bisa terlalu dalam. Golongan 2, saya lupa seperti apa. Golongan 3, tidak bisa dimasukin jari sama sekali. Golongan 4, baru kena penis saja, sudah berontak. Pada golongan 5, di sekitar kemaluan sudah tidak bisa sama sekali. Nah, saya termasuk di golongan 2-3. Intinya kalau mau penetrasi lebih dalam, saya berontak. Tapi kalau cuma di bibir vagina, nggak masalah.

Ada terapi atau pengobatan khusus dari dokter?

Setelah dari dr. Robbi, kalau derajat vaginismus sudah ada tiga ke atas, dokter menyarankan untuk dilakukan sebuah prosedur (bukan operasi), dengan pembiusan, sehingga setelah prosedur itu dilakukan pasien dapat langsung memulai latihan dilatasi mandiri dengan dilator terbesar, tanpa nyeri, tanpa takut dan paksaan.

Prosedurnya itu dilakukan di Rumah Sakit. Pasien menginap satu malam, tapi saya tidak menjalankan itu karena saya dan suami masih ingin cara yang alami. Jadi, cara yang kami tempuh adalah dengan dilatasi tadi.

Nah, setelah rajin melakukan dilatasi, saya merasakan perubahannya. Saya lebih rileks saat penetrasi lebih dalam dan saya juga lebih berani. Sampai akhirnya, saya pernah hamil.

Tip untuk sesama perempuan yang mengalami kasus serupa?

Vaginismus ini masih dianggap sesuatu yang tabu untuk perempuan mengungkapkannya. Masih ada yang beranggapan, “Masa sih, untuk sesuatu yang enak aja, lo permasalahkan dan takut.” Pada kenyataannya memang ada. Kita tidak bisa pura-pura tidak tahu, bahkan ada komunitasnya lho. Jadi menurut saya, kalau kalian ada kesulitan ketika akan penetrasi, ya harus ke dokter yang mendalami tentang vaginismus.

Untuk kasus vaginismus, butuh orang-orang yang terbuka pikirannya. Bukan orang-orang yang menggampangkan dan dengan mudahnya bilang: “Stress kali,” “Kurang rileks kali.” Kami butuh orang-orang yang bisa merasakan apa yang kami rasakan dan ingin tahu apa yang kami alami.

Selain itu, kiat dari saya, banyak melakukan riset, terbuka sama suami. Suami juga diajak untuk melakukan riset dan ke dokter.

Dan yang terakhir, bergabung di grup atau komunitas vaginismus. Karena, yang tahu kita seperti apa adalah orang-orang yang juga mengalami hal yang sama dengan kita. Para penyintas vaginismus juga bisa saling dukung di komunitas tersebut. Nggak usah malu-malu, bisa saling cerita pengalaman masing-masing.

For me, a great marriage should be more than a sex life.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top