Now Reading
4 Pelajaran Hidup Dari Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

4 Pelajaran Hidup Dari Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

dewdew
orangtua anak berkebutuhan khusus

Sedikit banyak, pelajaran hidup dari orangtua anak berkebutuhan khusus bisa banget kita ambil dan diterapkan dalam mengasuh anak-anak. 

Nggak ada maksud ingin ditahbiskan sebagai mama super hero, sih, namun faktanya, sebagian besar orang tua anak berkebutuhan khusus (apapun kebutuhannya) punya tantangan yang lebih dibanding tantangan para orangtua anak non-inklusif. Mulai dari mengasuh, memilih sekolah, hingga pilihan-pilihan aktivitas plus terapi. Sehingga sedikit banyak, pelajaran hidup dari orangtua anak berkebutuhan khusus bisalah kita ambil dan diterapkan dalam mengasuh anak-anak. 

Jangan biarkan anak terlalu bergantung pada orangtua

Bukan tugas orangtua untuk selalu membuat hidup lebih mudah bagi anak-anak. Yang paling krusial adalah mempersiapkan anak-anak survive ketika menghadapi hal-hal yang sulit. Dalam hal ini, mempersiapkan anak untuk punya daya juang yang tinggi.  Mengajarkan mereka untuk mandiri sama dengan mengajarkan mereka terus tumbuh dan berkembang, namun ada kalanya mereka harus keluar dari zona nyaman.

Satu contoh kecil saja, ketika mommies ingin mengajarkan anak satu life skill baru, seperti mengikat sepatu, mengancingkan baju, atau menyalakan kompor, lakukan 4 langkah ini:  

  1. Tunjukkan pada anak bagaimana melakukannya.
  2. Lakukanlah bersama-sama
  3. Perhatikan ketika dia melakukannya.
  4. Biarkan dia melakukannya secara mandiri

Hal ini juga yang sering dilakukan oleh orangtua anak berkebutuhan khusus. Seorang ibu bernama Amanda Booth asal Amerika Serikat, menerapkan 4 metode di atas dalam menyiapkan Micah, anaknya yang memiliki down syndrome.  melakukan pendekatan serupa dengan putranya yang berusia 2 tahun, Micah. “Setiap kali saya melihat bahwa dia membutuhkan lebih sedikit bantuan saya, saya mundur dan membiarkannya mencoba, meski pada awalnya ia selalu gagal. Itulah satu-satunya cara untuk membuatnya berpikir bahwa ia bisa melakukan sesuatu. Saya tekankan padanya (dan diri saya sendiri) kalau ia harus berlatih dan terus berlatih sampai ia bisa melakukannya sendiri.”

Baca juga: Tips Menjaga Keharmonisan dengan Pasangan Selama Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus

Ikhlas menerima anak tidak selalu bisa menjadi seperti yang Anda harapkan

Bagi orangtua berkebutuhan khusus,  banyak hal yang kemudian harus dikompromikan, termasuk berkompromi pada harapannya sendiri. Yang tadinya begitu banyak mimpi dan harapan untuk si kecil, pelan-pelan disortir, atau bahkan diganti dengan harapan lain. Sehingga hal yang mungkin bisa dipelajari dari mereka adalah, ikhlas menerima bahwa anak tidak bisa selalu menjadi sesuai yang kita harapkan. 

Ada anak yang nggak berminat sama sekali hal yang berbau akademis, padahal harapan mommies ia meneruskan profesi dokter kelak, seperti orangtuanya. Ada juga anak yang kurang pandai berbicara, dan introvert. Sementara kita berharap sebaliknya. Padahal ia rajin dan gigih. Berkeras memaksa anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai yang kita harapkan bisa jadi membuat mereka merasa tidak dicintai. Ia bisa saja menghabiskan hidupnya hanya untuk mengisi harapan kita, bukan harapannya sendiri.

Slow down ketika diperlukan itu nggak dosa

Segala rutinitas orangtua anak berkebutuhan khusus sungguhlah chaos. Di antara kesibukan aktivitas harian, dari sekolah, terapi, ke dokter, serta tugas-tugas lain yang harus dilakukan seperti menentukan menu (seandainya si ABK punya pantangan), menyiapkan makanan bukan hanya buat si ABK, tapi juga anggota keluarga lain, bisa bikin stres, panik, tergesa-gesa, dan yang paling parah, mudah marah. Bukan berarti orangtua dari anak-anak non inklusif nggak chaos juga, ya. Untuk itu, slowing down diperlukan. Memperlambat irama kehidupan nggak berarti mommies nggak bertanggungjawab, kok. Itu diperlukan supaya mommies waras kembali. Dengan slowing down, mommies jadi bisa introspeksi dan mengevaluasi kembali apa yang sudah dilakukan selama ini. Apakah itu terlalu berlebihan menanggapi si kecil yang menumpahkan susu di meja, atau apakah kegiatan yang diberikan pada anak terlalu banyak. Akan lebih mudah menelaah sesuatu bila kita tidak sedang terburu-buru. Ya, kan?

Baca juga: Saat Anak Berkebutuhan Khusus Memasuki Masa Puber

Berhenti terobsesi tentang apa yang orang lain pikirkan

Duh, bener, deh. Menjadi orangtua anak berkebutuhan khusus itu, ketika kumpul, apakah itu kumpul keluarga besar, atau sesama ibu-ibu, lebih banyak dikomentarinya daripada didukungnya, hahaha…Bisa dimaklumi kalau mereka juga kurang paham, ya. Tak hanya cara kita memperlakukan anak yang dipertanyakan, tapi juga keputusan-keputusan yang kita ambil. Kalau didengarkan dan dijadikan pikiran malah bikin tambah pusing. Yang ada mereka hanya komentar iya, solutif nggak. Ngapain dipikirkan? Kan, yang menghadapi anak-anak setiap hari adalah kita. Ya, kalau dia bisa bantu mengasuh anak tiap hari, bantu bayar biaya terapi, hingga jagain mereka ketika tantrum, your advices are very welcome. Tapi kalau nggak, sudahlah tidak usah dijadikan pikiran yang panjang-panjang. Cukup dengarkan kata dokter, psikolog, dan terapis anak, kalau saya, sih. Hahahaha….

Image by Freepik

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top