Now Reading
Waspadai Child Grooming, Pelecehan Seksual Anak Via Media Sosial

Waspadai Child Grooming, Pelecehan Seksual Anak Via Media Sosial

siscachristina
Child Grooming

Sejak sekolah daring, anak sudah semakin mudah mendapatkan akses internet. Orang tua wajib tingkatkan kewaspadaan supaya terhindar dari child grooming.

Menjalani sekolah virtual selama 1,5 tahun belakangan mungkin membuat sebagian orang tua akhirnya “terpaksa” memberikan gadget untuk anaknya sebelum waktunya. Walau pemberian gadget tersebut dimaksudkan untuk mempermudah proses belajar anak, tapi tetap saja ada bahaya yang menyertainya. Mulai dari kebablasan main game hingga risiko pelecehan seksual anak. Ngeri? Pastinya!

Sebelum sekolah daring saja, pelecehan anak sudah marak. Melansir JawaPos, di tahun 2019 sendiri, tercatat ada 236 kasus child grooming. Salah satunya dilakukan oleh seorang pria berinisial TR (25 tahun) yang melecehkan 50 korban anak. Gimana nggak bergidik dengernya?!

Modus dari kejahatan child grooming umumnya menggunakan akun media sosial palsu dari orang yang dekat dengan anak-anak yang menjadi korban. Misalnya, guru korban. Si pelaku kejahatan mencomot salah satu foto si guru lalu membuat akun baru. Akun palsu tersebut kemudian digunakan pelaku untuk mengontak calon korbannya via DM, meminta nomor Whatsapp, lalu mulai membujuk korban untuk melakukan hal-hal tak senonoh dan mengirimkan gambar atau video kepada si pelaku.

Membangun hubungan emosional untuk dilecehkan

Child grooming adalah upaya seseorang untuk membangun hubungan saling percaya dan ikatan emosional dengan anak atau keluarga anak sehingga mereka dapat memanipulasi atau mengeksploitasi anak tersebut secara seksual. Proses grooming bisa sebentar maupun lama. Mulai dari berhari-hari hingga bertahun-tahun.

Bisa terjadi secara online maupun offline

Pelaku yang melakukan grooming disebut groomer. Ini bisa perempuan atau laki-laki, kerabat keluarga si anak, seorang profesional seperti guru, pemuka agama, hingga orang asing. Aksinya pun dapat terjadi secara online maupun offline.

Baca juga: Pelecehan Seksual Anak oleh Pemuka Agama

Grooming yang dilakukan secara tatap muka kemungkinan dilakukan oleh seorang kerabat atau orang yang memiliki hubungan dengan keluarga anak. Pada awalnya, pelaku terlihat baik kepada anak, yang membuat keluarga tumbuh simpati dan menyingkirkan curiga. Pelaku mungkin membelikan hadiah kepada si anak atau keluarganya, memberi pujian kepada anak dan keluarganya untuk membuat mereka merasa istimewa. Secara bertahap, setelah mendapatkan kepercayaan anak dan keluarganya, pelaku mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak, entah itu mengajak jalan-jalan, menambah durasi les, dan seterusnya. Setelah hambatan disingkirkan pelaku, ini mempermulus jalannya untuk melakukan aski pelecehan kepada anak.

Sementara, child grooming yang dilakukan secara online yaitu contoh kasus pelaku TR tadi. Melalui akun media sosial palsu, pelaku bisa berpura-pura menjadi guru, teman sebaya anak, bahkan selebriti untuk membangun hubungan dengan anak.

Tanda-tanda anak mengalami child grooming

Hubungan pelaku dan anak pada kasus child grooming bisa terlihat normal dan sulit terdeteksi. Namun, raisingchildren.net.au, menjabarkan beberapa perilaku yang mungkin ditunjukkan oleh anak atau remaja yang mengalami child grooming, antara lain:

  • Memiliki hadiah-hadiah atau uang yang tak tahu dari mana asalnya, dan tak ingin memberi tahu orang tua.
  • Mendapat banyak pesan online dari seseorang yang hanya mereka kenal
  • Banyak berbicara tentang orang dewasa tertentu atau anak yang lebih tua
  • Tidak ingin ditemani ketika mereka bertemu orang dewasa atau orang yang lebih tua
  • Tidak ingin membicarakan apa yang telah mereka lakukan.
  • Berhenti bercerita atau minta saran kepada orang tua.
  • Sering menyendiri di kamar mereka.
  • Pada anak remaja, mereka menjalin hubungan dengan pacar yang jauh lebih tua.
  • Tidak ingin ada orang lain di sekitar mereka ketika sedang bersama pacar.
  • Mulai berbohong karena tidak ingin berbicara tentang apa yang mereka lakukan.
  • Bolos sekolah, les atau kegiatan lainnya.
  • Menghabiskan lebih sedikit waktu dengan teman secara tiba-tiba.

Cara mencegah child grooming pada anak

Lagi-lagi, pendidikan seks adalah salah satu upaya penting untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual pada anak, tak terkecuali child grooming. Selain itu, orang tua juga perlu meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gadget anak, apalagi selama sekolah daring. Tahu sendiri kan, sekolah daring ini meningkatkan akses anak terhadap internet, sehingga bukan tak mungkin risiko child grooming ikut meningkat.

Tingkatkan juga kewaspadaan apabila ada orang dewasa terlihat begitu baik kepada kita atau anak kita yang rasa-rasanya berlebihan. Misalnya rajin menawarkan bantuan, terlalu banyak memuji, membelikan banyak hadiah, melakukan sentuhan fisik kepada anak dalam gaya terlihat wajar, misalnya memegang bahu, merangkul, menggenggam tangan anak, dan seterusnya. Hindari memercayakan anak secara penuh kepada orang dewasa yang bukan keluarga, ini termasuk asisten rumah tangga.

Jangan biarkan anak melakukan aktivitasnya di internet secara tertutup. Gunakanlah wewenang kita sebagai orang tua untuk memeriksa kegiatan dan komunikasi anak di gadget dan berbagai aplikasi di dalamnya. Selanjutnya, ini adalah tips yang saya dapat dari seorang psikolog pada acara talkshow: “Tundalah selama mungkin untuk anak memiliki gadgetnya sendiri.” Pendeknya, pinjam boleh, punya, eits nanti dulu. Kepemilikan gadget pada anak berpotensi membuat anak merasa berhak untuk mengendalikan gadget dan seluruh isinya, termasuk menyembunyikan isinya dari Anda.

Bonding anak-orang tua juga perlu terus dipupuk. Hubungan yang baik dengan anak membuat anak ingin terbuka pada orang tuanya, dan tercipta rasa aman di dalam dirinya. Yuk, mommies, lindungi anak-anak kita dari risiko child grooming.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top