Now Reading
15 Dukungan yang Dibutuhkan Ibu Menyusui

15 Dukungan yang Dibutuhkan Ibu Menyusui

RachelKaloh

8. Untuk kembali menyusui setelah lepas dari status Covid-19

Bila selama positif Covid-19 proses menyusui jadi tertunda, maka ketika selesai menjalani isoman selama 14 hari dan hasil PCR dinyatakan negatif, ibu dapat segera melanjutkan pemberian ASI. 

9. Saat menjadi tersangka

Coba, deh, iseng gooling “Ibu menyusui di penjara”, kita akan langsung melihat banyak sekali kasus terkait hal ini. Ada yang bayinya otomatis juga ikutan jadi tersangka karena dibawa ke penjara demi tetap bisa mendapatkan ASI, ada yang harus dipisahkan dari ibunya sehingga tidak bisa mendapatkan ASI. Kalau dari Hukumonline.com, berkaitan dengan tersangka yang berstatus sebagai seorang ibu yang memiliki bayi atau anak kecil, dalam praktiknya, ada penangguhan penahanan yang dikabulkan dengan pertimbangan kemanusiaan untuk tersangka yang berstatus ibu menyusui.

Tentunya, di samping hal-hal yang memang sudah ada peraturannya, kita juga butuh dukungan sederhana yang seharusnya bisa kita dapatkan dari orang terdekat, yakni:

10. Waktu

Sehabis melahirkan itu, wanita akan mengalami betul yang namanya perubahan emosi. Menjadi ibu baru artinya seperti menjalani kehidupan baru dan tentu segala penyesuaian yang perlu dilakukan tidaklah mudah. Kita butuh waktu untuk sadar bahwa segala hal tidak perlu diburu-buru. Akan sangat menyenangkan bila lingkungan sekitar juga ikut memberikan kita waktu. Tidak hanya cuti 3 bulan menjadi 6 bulan, namun sesederhana anggota keluarga mengambil alih untuk mengurus anak supaya kita bisa mandi dengan tenang saja sudah sangat berarti. Setuju, nggak?

11. Segelas air minum selama menyusui

FYI, para ayah, orangtua, mertua, saat menyusui itu rasanya haus berat. Jadi, akan sangat berarti kalau ada yang menyediakan segelas air minum selama kita menyusui anak. 

12. Peran pendukung

Bukan hanya ibu yang bisa menyusui, Ayah pun bisa, orangtua dari ibu, mertua, pengasuh, siapapun dapat membantu berjalannya proses menyusui. Memang, menyusui bayi secara langsung adalah yang terbaik yang bisa ibu lakukan. Namun, memberikan ASIP lewat botol maupun feeding cup dapat dilakukan oleh siapapun selain ibu. Ibu yang tidak bekerja atau IRT pun bukan lantas haram kalau sesekali tidak memberikan ASI secara langsung. Meninggalkan bayi untuk me time sebentar sehingga ia harus mengandalkan orang lain untuk memberikan ASIP pada bayinya, bukanlah dosa. 

13. Kalimat dukungan yang memberikan semangat

Ada sebuah kalimat “Menyusuilah dengan keras kepala!”, mungkin Mommies juga sering dengar kalimat ini, ya? Saya sendiri saat itu sedang dalam keadaan hampir putus asa, mau stop ASI saja rasanya, karena luka yang saya rasakan di payudara benar-benar tidak bisa dianggap enteng. Bagi beberapa orang, kalimat tersebut bisa saja malah membuat diri sendiri makin putus asa. Ibu menyusui, kan, juga manusia, masa sudah luka masih saja harus menyusui dengan keras kepala, demi bayi mendapatkan ASI? Pada akhirnya, memang luka kita perlu disembuhkan terlebih dahulu, supaya kita bisa bangkit dan kembali semangat menyusui. 

Baca juga: Tanpa 5 Hal Ini, Kita Tetap Perempuan Sejati

14. Memberikan ASI tanpa tuntutan

Seperti yang disebutkan di poin sebelumnya, kita seringkali lupa bahwa, selain ASI adalah hak bayi yang patut kita penuhi, mengASIhi dengan bahagia adalah hal yang patut semua ibu dapatkan. Ketika si ibu mengalami suatu keadaan sehingga proses menyusui terpaksa harus ia tunda, maka tidak perlu dirinya dianggap melakukan dosa besar. Apapun keputusan ibu, sekalipun pada akhirnya bayi perlu mendapatkan bantuan sufor, seharusnya tidak kemudian membuat ibu jadi penuh rasa bersalah.

15. Menghapus sekat antara Ayah dan Ibu

Kalau Mommies sudah nonton Fatherhood di Netflix, di situ dijelaskan betul betapa Matthew Logelin (Kevin Hart) penuh emosi ketika ingin menghadiri sesi konseling yang judulnya, sih, buat orangtua, tapi pada kenyataannya hanya terbuka buat wanita (ibu). Meski di sini sudah banyak kelas-kelas pre-natal yang bisa diikuti oleh para calon orangtua, pada beberapa kondisi, “sekat” yang meski tidak terlihat tapi tetap membatasi para ayah untuk lebih banyak terjun terhadap pengasuhan anak perlu terus diruntuhkan.

Kalau Mommies sendiri, berharap akan dukungan seperti apa, sih, yang sebaiknya terus digaungkan, atau mungkin belum bisa dirasakan sama sekali? Share, ya, di comment! 

Photo by Hanna Balan on Unsplash

Pages: 1 2
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top