Bahaya di Balik Jadwal Anak yang Sangat Padat

Kids

Fannya Gita Alamanda・15 Jun 2021

detail-thumb

Si Kecil memiliki jadwal super padat? Coba dicek ulang! Karena jadwal anak yang sangat padat ternyata menyimpan bahaya di belakangnya.

Persaingan di masa depan anak-anak kita memang kayaknya lebih berat dibanding zaman kita dulu ya. Tak heran, banyak orang tua berlomba-lomba memastikan anak memiliki beragam keahlian. Les ini itu, setiap hari, tujuh hari dalam seminggu. Ya, banyak orang tua berambisi menciptakan ‘trophy kids.’

Tapi sudahkah Anda mempertimbangkan perasaan anak? Keinginan anak dan yang juga penting, kemampuan anak menjalani jadwal yang super padat?

Apa yang terjadi jika jadwal anak-anak terlalu padat?

Meskipun memperkaya kehidupan anak adalah hal yang baik, aktivitas yang terlalu padat bisa berdampak buruk bagi anak Anda dan keluarga. “Anak-anak yang waktunya terlalu terjadwal, teratur, tidak punya waktu untuk menjadi anak-anak dan keluarga mereka tidak punya waktu untuk menjadi keluarga,” papar dokter anak Deb Lonzer, MD. “Biasanya, mereka tidak makan dengan nikmat, tidak tidur dengan lelap, dan tidak mampu berteman dengan baik.” Ini bisa membuat anak mengalami depresi dan kecemasan di masa depan, menghambat kemampuan mereka untuk menjadi problem solver, tak mampu membuat keputusan yang tepat.

Orang tua, penting bersikap masuk akal dan realistis

Coba tanya diri sendiri, apakah selama ini kalender dan agenda yang mengatur kehidupan keluarga Mommies? Coba ingat-ingat kapan kali terakhir melakukan piknik keluarga, bersenang-senang dengan anak. Jika sudah terlalu lama, maria tur ulang adwal mereka.

Dr. Lonzer meyakini anak-anak seharusnya tidak dibebani dengan aktivitas padat yang dijadwalkan setiap hari. Sebagai gantinya, ia menyarankan orang tua duduk bersama anak untuk membantu mereka memilih tiga kegiatan teratas dan patuh pada apa yang sudah ditentukan. Jika anak Mommies ingin menambahkan aktivitas lain, pastikan mereka menghilangkan salah satu dari 3 pilihan sebelumnya. “Saat membantu anak memilih kegiatannya, pertimbangkan manfaatnya bagi dia dan keluarga dengan waktu yang harus diinvestasikan setiap orang,” kata Dr. Lonzer.

Misalnya, pertimbangkan bagaimana mengemudi jarak jauh demi satu anak bisa ikut bergabung di sekolah sepak bole elit akan berdampak pada anggota keluarga lain. Pikirkan pro dan kontranya.

Anak butuh waktu senggang

Batasi aktivitas yang terjadwal karena anak-anak butuh punya waktu senggang untuk bermain, bersantai, dan terkoneksi dengan anggota keluarga yang lain.

“Amati jadwal yang tertulis di kalender, sediakan waktu untuk bersantai, tidur, makan, dan waktu untuk keluarga. Punya keseimbangan antara kegiatan menyenangkan dan kegiatan yang terjadwal akan membantu anak melihat bahwa semua hal ini penting,” saran Dr. Lonzer.

Dan ingat, waktu senggang jangan berubah menjadi “screen time”. Kalau begitu jadinya, punya aktivitas padat malah akan lebih baik daripada membiarkan anak-anak parkir di sofa asyik dengan ponsel, tablet, atau televisi.

Bermain dan berimajinasi

Dr. Lonzer merasa saat ini, anak-anak tidak punya banyak waktu buat bermain. Sesekali, biarkan mereka melakukan aktivitas fisik. Saat hari hujan tanpa petir, bekali mereka dengan sepatu bot karet dan jas hujan, izinkan mereka asyik bermain air di halaman. Biarkan mereka bebas berimajinasi dan mengembangkan kreativitas.

Jika anak mengundang teman-teman mereka datang ke rumah, jangan sibuk mengatur kesenangan mereka. Biarkan mereka cari tahu sendiri. Jika mereka mengeluh bosan, beri mereka ruang untuk menemukan solusinya.

Jangan khawatir jika Mommies mendapati si kecil sedang melamun. Mereka tidak sedang buang-buang waktu, tapi sedang membangun otak mereka.

BACA JUGA: LAKUKAN 5 HAL INI SAAT ANAK BOSAN

Jika anak memang tipe penyendiri

Orang tua cenderung khawatir ketika anak tidak tertarik untuk berkelompok. Tapi beberapa anak memang benar-benar suka menyendiri, menggambar atau bermain sesuatu yang individu. Setiap orang harus menemukan jalannya sendiri dan orang tua tidak perlu marah. Memaksakan anak terlibat dalam aktivitas kelompok malah akan menjadi bumerang. Sebaliknya, dukung anak. Ini bisa melatih dia menjadi pribadi yang mandiri. Banyak cara untuk membesarkan anak introvert.

Jadwalkan waktu buat keluarga

“Jadwalkan 20 menit, lima kali seminggu, sebagai waktu keluarga, untuk bermain. Praktek ini terbukti efektif dalam mengembangkan imjinasi dan memperkuat ikatan keluarga,” kata Dr. Lonzer.

Ajak anak jalan-jalan, tinggalkan head set dan ponsel di rumah, nikmati pengalaman selama berjalan kaki, mengagumi pemandangan sekitar dan udara segar. Ngobrol tapi jangan bahas soal pelajaran sekolah. Bantu anak memahami bahwa menikmati hidup di saat ini, in the moment, adalah hal yang indah.

Jangan khawatirkan apa yang akan terjadi besok. Khawatirkan saja tentang apa yang sekarang. Biarkan anak-anak melihat Anda sebagai contoh yang baik. Tidak menunda-nunda, tidak menjejalkan, tidak nyempet-nyempetin, tidak menyisakan, tapi menganggarkan waktu Anda dengan baik.

Photo by Robo Wunderkind on Unsplash