Milestone dan Tumbuh Kembang Anak Usia 9 Tahun

Behavior & Development

Sisca Christina・29 May 2021

detail-thumb

Ini panduan milestone dan tumbuh kembang anak usia 9 tahun dari segi fisik, kognitif, emosional dan sosial yang perlu dicermati orang tua.

Sembilan tahun; usia satu digit terakhir anak sebelum memasuki usia dua digit tahun depan. Bisa dibilang, ini adalah masa-masa transisi dari anak-anak menuju pra remaja. Terkadang mereka sudah merasa “bukan anak-anak lagi” di usia ini. Dalam banyak hal, mereka masih dapat dianggap anak-anak tetapi sudah jauh lebih mandiri dan mampu menangani tanggung jawab tertentu dengan pengawasan orang dewasa yang minimal. Yuk, cermati milestone dan tumbuh kembang anak usia 9 tahun dengan panduan berikut.

Perkembangan Fisik

Anak-anak berusia 9 tahun akan mengalami lonjakan pertumbuhan. Si kecil bertambah tinggi secara signifikan dan berat badannya bertambah.

  • Kontrol otot anak lebih kuat dan lebih lancar, sehingga kemampuan gerak fisik dan minat mereka jadi lebih luas.
  • Mampu bertahan dalam aktivitas fisik untuk mencapai tujuan, seperti saat bermain game atau menyelesaikan tantangan fisik.
  • Lebih mandiri dan lebih sadar untuk merawat diri dan mengelola kebersihan pribadi.
  • Mungkin mulai mengalami tanda-tanda awal pubertas. Tanda-tanda pubertas pada anak perempuan umumnya muncul mulai usia 9 tahun; sementara pada anak laki-laki ada yang mulai muncul di usia 10 atau 11 tahun.
  • Buat orang tua, ini saat yang tepat untuk mulai berbicara tentang pubertas dan perubahan serta tekanan yang akan dialami anak saat menempuh fase itu. Ini akan membantu anak menghadapi fase transisi dengan lebih mudah.

    Perkembangan Kognitif

    Salah satu milestone dan tumbuh kembang anak usia 9 tahun yang paling tampak pada diri anak yaitu perkembangan kognitifnya.

  • Menunjukkan minat pada olah raga, koleksi dan hobi.
  • Karena semakin mengerti minatnya, maka ia akan lebih rajin dan fokus mencari tahu hal yang berhubungan dengan minatnya itu.
  • Walau rentang fokus dan perhatiannya sudah lebih lama, mereka juga mengalihkan minat dengan agak cepat.
  • Dapat bekerja dengan baik dalam kelompok dan ingin jadi terampil.
  • Menghadapi tantangan akademis yang lebih besar di sekolah. Bagi anak yang tidak menemukan kesulitan, mungkin nggak jadi masalah. Tapi bagi anak yang harus berjuang lebih, bisa jadi frustrasi dengan tuntutan akademis.
  • Matematika menjadi jauh lebih rumit di kelas empat. Anak akan mempelajari perkalian dan pembagian banyak digit, pecahan dan geometri, belajar membuat grafik dan bagan menggunakan data, mengerjakan soal yang membutuhkan pemikiran analitis dan logis, cara mengukur sudut, dan seterusnya.
  • Dalam hal bahasa, perkataan anak sudah harus bisa dipahami oleh orang lain. Maka, orang tua harus menggunakan tata bahasa seperti orang dewasa dengan benar karena anak belajar dari kita.
  • Mampu menulis dan membaca dengan terampil menggunakan ekspresi, kosakata dan ide yang kompleks dan canggih.
  • Mampu membaca berbagai jenis karya fiksi dan non-fiksi, termasuk biografi, puisi, fiksi sejarah, serial menegangkan, dan seterusnya.
  • Perkembangan Emosional

    Karena semakin mandiri, mereka juga ingin memiliki hubungan dengan kelompok di luar keluarga, dan biasanya dimulai dari tatanan sosial sekolah. Salah satu dampaknya, nggak jarang anak mengalami tekanan teman sebaya karena ingin membuat kelompoknya terkesan.

    Di usia ini, anak-anak masih sangat dipengaruhi oleh orang tuanya. Meskipun anak ingin memperluas lingkaran sosial mereka, tetapi masih mencari perlindungan dengan keluarga jika merasa tidak aman, dan kepastian emosional dari orang tuanya. Mereka bisa murung atau marah pada satu menit dan kemudian baik-baik saja pada menit berikutnya.

    Mereka juga mulai mengerti tanda bahaya atau bencana di dunia nyata, misalnya bahaya lalu lintas, takut jatuh dari ketinggian, banjir atau tindak kejahatan dan bukan lagi takut akan zombie atau monster di dunia fantasi.

    Mommies mungkin menemukan anak mulai “ngotot” dengan caranya sendiri, tapi jangan khawatir, mereka tetap bisa mendengarkan dan mau menerima alasan, lho. Terkadang, mereka juga bisa bertindak nggak masuk akal menurut kita, atau berkata kasar saat kesal atau kecewa, tetapi, mereka sudah paham untuk minta maaf.

    Ajak anak mengobrol tentang seluk-beluk bergaul dalam kelompok, serunya berteman sekaligus konsekuensinya dan cara-cara menangani konflik dalam pertemanan.

    Perkembangan Sosial

    Meski punya grup, anak juga punya satu atau dua teman favorit dan ingin menjalin persahabatan dengan mereka. Anak juga mulai memahami nggak enaknya mengalami tekanan kelompok.

    Anak juga mulai mengerti cara mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan dengan cara yang sesuai secara sosial, nggak sesukanya seperti waktu usia-usia lebih kecil. Sudah mengerti tujuan bersama, jadi bisa diajak kerja sama. Ia juga sudah mulai mengenali pandangan orang lain.

    Kesadaran sosial anak semakin tumbuh, jadi, libatkan mereka dalam kegiatan sosial, misalnya kerja bakti lingkungan, mengunjungi anak-anak di panti asuhan atau menjadi panitia kegiatan amal di sekolah.

    Mulailah membuat dan membicarakan tata tertib pergaulan. Sebab, anak bakal mulai mendapat pengaruh dari hubungan teman atau kelompoknya. Tentu ada dampak baiknya, tapi dampak negatifnya juga perlu diantisipasi.

    Selain itu, sudah banyak anak yang nekat bermedia sosial, walau sebetulnya belum diijinkan. Belum lagi akses Whatsapp Group, website dengan segala konten tak pantas yang bisa saja lolos dari kontrol orang tua, termasuk risiko penindasan online (online bullying). Orang tua perlu melakukan pantauan yang cermat terhadap hal ini.

    Penting untuk Diingat

    Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang sedikit berbeda. Jika anak sedikit tertinggal dalam satu area, kemungkinan besar dia akan segera menyusul.

    Namun, tentunya orang tua juga perlu sigap, terutama jika anak tampak mendadak kehilangan minat terhadap sesuatu, mengalami gangguan belajar, tidak mengalami kemajuan (stagnan) atau malah kemunduran (regresi) dalam suatu tahapan perkembangan. Jangan ragu untuk berkonsultas dengan dokter atau psikolog.

    Baca juga:

    Milestone dan Tumbuh Kembang Anak Usia 7 Tahun

    Milestone dan Tumbuh Kembang Anak Usia 8 Tahun