8 Kekhawatiran Anak Toddler yang Perlu Kita Pahami

Kids

Rahmasari Muhammad・02 Apr 2021

detail-thumb

Yuk pahami bersama, apa saja kegelisahan dan kekhawatiran anak toddler kita, yang akhirnya menciptakan drama tak berkesudahan?

I used to be cool and do things. Now I argue with a miniature version of myself about eating vegetables-Unknown.

Pastinya banyak Mommies yang relate dengan kejadian itu, termasuk saya =) Dealing with our toddlers seems impossible, tapi ternyata mereka pun sama bingung, khawatir, dan gelisahnya dengan kita.

Baca juga: Pelajaran Hidup yang Saya Peroleh dari Anak Toddlers

Agar lebih paham, ini 8 kekhawatiran anak toddler…

1. Merasa Tidak Dimengerti

Di usia toddler, anak sering merasa frustasi/marah karena belum bisa mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya. Karena merasa tidak dimengerti, ini menimbulkan rasa marah pada anak. Mereka juga seringkali menjadi gelisah secara emosional tapi tidak bisa mengungkapkannya dengan tepat, yang dapat berujung pada sikap agresif seperti tantrum, menggigit, memukul, atau melempar barang sebagai ekspresi dari frustrasinya. Hal ini juga seringkali menjadi pemicu kemarahan orangtua, yang ikut menjadi frustrasi karena sulit memahami keinginan anak. Akhirnya, anak semakin gelisah dan makin sulit mengendalikan emosinya.

Ketika anak tantrum, cobalah untuk tenang, peluk dan ajak bicara anak sambil tatap matanya. Jongkok atau duduklah hingga selevel dengan anak & tawarkan hal yang bisa membuatnya merasa lebih baik, misalnya makanan, minuman, mainan, popok yang basah & harus diganti, atau pelukan. Untuk anak yang belum lancar bicara, biasanya mereka sudah bisa mengangguk, menggeleng atau bilang “Ya” dan “Tidak” untuk menyatakan persetujuan akan kebutuhannya.

Baca juga: 3 Jenis Tantrum yang Sering Dialami Anak

2. Memerlukan Perhatian Lebih

Seringkali toddlers membuat “drama” untuk menarik perhatian orang terdekatnya. Kita dapat mengurangi drama itu dengan memberikan atensi & meluangkan waktu, misalnya main bersama si kecil atau memangkunya sambil membacakan cerita. Anak dapat merasa lebih nyaman & tenang karena mendapatkan perhatian & kasih sayang yang cukup.

3. Bingung Menghadapi Berbagai Emosi

Menjelang 2 tahun, anak sudah mulai merasakan berbagai emosi selain bahagia misalnya kaget, marah, dan sedih, namun belum bisa mengekspresikan & mengelola emosi tersebut. Ini menimbulkan kebingungan dan frustasi pada si kecil. Mommies bisa membacakan buku/cerita dengan berbagai ekspresi & intonasi suara untuk karakter yang berbeda, sebagai cara awal mengajarkan tentang jenis emosi & juga ekspresi kepada anak. Bermain peran (pretend play) seperti dokter-dokteran juga sangat bermanfaat untuk mengajarkan emosi, ekspresi & empati pada anak.

4. Khawatir Dipaksa Melakukan Sesuatu

Seringkali, anak khawatir & marah karena mereka diminta melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, misalnya makan sayur, atau tidur di saat masih asyik bermain. Perasaan dipaksa ini memicu mereka menangis serta membuat drama sebagai senjata untuk pemberontakannya. Maka, jika meminta sesuatu, jelaskan baik-baik risikonya pada anak misalnya jika tidak tidur tepat waktu, bisa sakit karena kurang istirahat. Lakukan juga kegiatan yang dirasa berat/kurang disukai oleh anak secara bersama-sama, misalnya ajak anak membereskan mainan, dan makan sayur bersama, agar anak bisa melihat & meniru dan tidak merasa dipaksa melakukannya sendirian.

5. Over Stimulation

Anak masih belajar menyaring & memberikan respon yang tepat untuk berbagai stimulasi yang masuk, hingga terkadang membuat mereka overwhelming yang berujung pada kebingungan & kegelisahan. Misalnya, over stimulation dengan situasi yang terlalu ramai atau suara terlalu keras. Mommies bisa memenangkan & membawanya ketempat yang tenang untuk memberikan rasa nyaman.

6. Belum Bisa Membedakan Kenyatan & Khayalan

Seringkali toddlers belum bisa membedakan antara kenyataan dengan khayalan. Konsep berbohong & berkata jujur juga seringkali belum mengerti. Di usia 1-3 tahun, imajinasi & keingintahuan mereka tinggi, dan biasanya mereka akan menciptakan sesuatu dari mulai teman khayalan hingga kegiatan sesuai imajinasinya seperti menuang susu di dapur, atau mencoret-coret di dinding, tapi akan menolak jika Mommies bertanya apakah mereka yang melakukannya.Kadangkala hal itu menimbulkan kemarahan orangtua karena merasa anak berbohong. Biasanya di atas usia 3 atau 4 tahun, mereka sudah lebih paham & bisa membedakan antara kenyataan & khayalan.

BACA JUGA: LATIH ANAK UNTUK BERPIKIR KRITIS

7. Takut Tidak Dipercaya

Untuk toddler terutama yang berusia 2-3 tahun, biasanya mereka sudah ingin melakukan segala sesuatunya sendiri, misalnya makan sendiri, dan menjadi marah ketika tidak diperbolehkan. Berikan mereka porsi tanggung jawab sesuai usianya ya. Memang capek sih membereskan sisa makanannya yang berceceran & lebih mudah untuk menyuapi mereka tentunya =) tapi membiarkan mereka melakukan kegiatan sesuai usia sangat baik untuk meningkatkan rasa percaya diri.

8. Separation Anxiety

Wajar untuk toddlers mengalami separation anxiety, menangis atau menjerit ketika berpisah sementara dengan orang terdekatnya, dimana mereka merasa paling nyaman dan aman berada di dekat orang tersebut. Fase ini normal dan biasanya akan berkurang ketika anak berusia di atas 3 tahun. Sebelum berpisah sementara, jelaskan bahwa Mommies hanya pergi sementara dan segera kembali.

Photo by Jonathan Sanchez on Unsplash