Now Reading
Duh, Anakku Hobi Berbohong! Jangan-jangan Karena Kita Tidak Melakukan 7 Hal Ini, Moms

Duh, Anakku Hobi Berbohong! Jangan-jangan Karena Kita Tidak Melakukan 7 Hal Ini, Moms

Tidak ada yang ingin anaknya menjadi pembohong, maka orang tua perlu lakukan 7 hal ini agar anak tidak menjadi pembohong dan memiliki rem untuk tidak hobi berbohong. 

Mungkin memang tidak mungkin membuat seseorang tidak akan pernah berbohong sepanjang hidupnya. Akui saja, kita sendiri pun pasti pernah berbohong. Tapi, ada orang yang memang berbohong menjadi hobi, dan inilah yang tidak kita inginkan, bukan?!

Dr. Matthew Rouse, Psikolog anak di Child Mind Institute, New York, AS mengatakan, perilaku anak berbohong bisa tak diduga-duga. Misalnya seorang anak yang awalnya dikenal sangat jujur, kemudian tiba-tiba dia berbohong tentang banyak hal. Sangat wajar jika orangtua merasa khawatir, namun ada baiknya kita mencari tahu “Kenapa anak berbohong?” Dengan mengetahui alasannya, ini bisa menjadi “senjata” kita untuk pelan-pelan ajarkan anak tidak menjadi pembohong.

Kenapa anak menjadi pembohong?

Dr Matthew menjelaskan, ada empat hal yang biasanya memicu anak menjadi pembohong:

1. Untuk menguji perilaku baru

Salah satu alasan mengapa anak-anak berbohong adalah karena mereka telah menemukan ide baru dan ingin mencobanya, seperti yang mereka lakukan dengan jenis perilaku lainnya, untuk melihat apa yang akan terjadi. Mereka akan bertanya-tanya, “Apa yang terjadi jika saya berbohong tentang situasi ini? Apa manfaatnya bagi saya?”

2. Untuk meningkatkan harga diri dan mendapatkan persetujuan/pengakuan

Anak-anak yang kurang percaya diri mungkin mengatakan kebohongan besar untuk membuat diri mereka tampak lebih mengesankan, istimewa atau berbakat untuk meningkatkan harga diri  dan membuat mereka terlihat bagus di mata orang lain. 

3. Untuk mengalihkan fokus dari diri mereka sendiri

Anak-anak yang memiliki kecemasan atau depresi mungkin berbohong untuk mengalihkan perhatian orang ke mereka. Atau mereka berbohong karena ingin menghindari masalah ke depannya. Misalnya, ketika seorang anak susah tidur, bisa jadi dia akan berbohong kepada orang tua dan mengatakan bahwa dia bisa tidur nyenyak. Tujuannya apa? Mereka tidak ingin orang tua khawatir atau orang tua marah. 

4. Berbicara sebelum mereka berpikir

Dr. Carol Brady, PhD, psikolog klinis dan kolumnis reguler untuk majalah ADDitude yang menangani banyak anak ADHD, mengatakan bahwa anak-anak mungkin berbohong karena impulsif. “Salah satu ciri khas tipe ADHD yang impulsif adalah berbicara sebelum mereka berpikir.”

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah anak menjadi pembohong?

1. Berikan teladan atau contoh nyata

Ini kunci utamanya, ketika kita ingin anak-anak tidak melakukan sesuatu hal atau sebaliknya ingin anak kita melaiukan sesuatu hal, maka jadilah contoh utama bagi mereka. Klise ya? Memang, tapi benar adanya!  Sumber pencegahan utama, ya, kita orang tuanya. Sosok utama dalam kehidupan anak yang mereka lihat setiap hari.

Anak akan mencontoh orang tua, dan orang dewasa di sekitarnya. Jika mereka melihat kita tadi sering berbohong, anak pun akan tumbuh dengan keyakinan bahwa perilaku ini diperbolehkan. Anak diam-diam sangat memerhatikan kita. Mereka tidak hanya belajar dari kita, tapi mereka juga belajar tentang kita. Jika mommies terbiasa berbohong, menipu dan tidak jujur, cepat atau lambat, anak akan mengenali perilaku ini. Jadi biasakan jujur, tak hanya dalam kata-kata tapi juga tindakan.

2. Bicarakan tentang kejujuran brutal versus mengatakan kebenaran

“Kaos yang kamu pakai kok jelek banget sih nak!”

“Badan kamu bau matahari banget sih, sampai enek mama nyiumnya.”

Mungkin memang benar itu yang kita lihat atau rasakan, secara fakta memang benar. Jujur, tapi menyakitkan. Padahal kita memilih kalimat lain, seperti “Kaosnya ada yang lain nggak? Kok ini kayaknya udah kekecilan ya di kamu?” atau “Abis main panas-panasan ya? Bau matahari nih anak mama.” Selain itu, pikirkan lagi, apakah penting bagi kita mengatakannya? 

Anak butuh diberi penjelasan nyata, tentang perbedaan kejujuran brutal yang tidak diperlukan dan mengatakan yang sebenarnya. Poin perbedaannya ada pada: Jika informasi tersebut menyakiti perasaan seseorang dan tidak diperlukan, kemungkinan besar informasi itu tidak perlu diucapkan. Jika anak tidak terlalu memahami konsep ini, mommies bisa membuat ilustrasi cerita, dan tanyakan apa yang harus mereka lakukan dalam setiap situasi tersebut.

Berikut ini beberapa contohnya.

  • Jika teman kamu potong rambut dan potongan rambut itu nggak cocok untuknya, apakah memang perlu memberitahunya?
  • Jika nenek memberi kamu hadiah yang tidak kamu sukai, haruskah kamu mengatakan kalau hadiah dari nenek itu nggak banget dan kamu sama sekali tidak suka? Menurut kamu, apa yang bisa kamu katakan sehingga kamu tidak berbohong (mungkin sekadar mengucapkan terima kasih atas hadiahnya)?

3. Mendapat konsekuensi jika berbohong

Beri tahu anak, kebohongan akan mendapat konsekuensi. Misalnya dikurangi jatah screen time, dan sebaliknya, jika mereka konsisten tidak berbohong, akan ada pengurangan konsekuensi. Anak-anak akan cenderung untuk mengatakan yang sebenarnya jika mereka tahu bahwa berbohong hanya akan memperburuk situasi mereka dalam jangka panjang.

4. Jangan membuat situasi mereka sulit, dan akhirnya terkondisikan jadi pembohong

Jangan memojokkan mereka dan kemudian menyebut mereka sebagai pembohong. Ini tidak membantu membangun karakter baik yang kita inginkan.

Contoh kasus:

Anak kita pulang terlambat melewati jam malam yang kita berikan, kita tahu tapi kita pura-pura tidak tahu, lalu menunjukkan bukti (seperti rekaman CCTV mungkin) sambil mengatakan bahwa dia pembohong. Alih-alih memojokkan mereka, putar balik ke situasi di mana mommies membantu mereka mengatakan yang sebenarnya, dengan mengatakan “Nak, kamu kan tahu, kita punya CCTV di rumah ini. Bisa merekam semua kejadian selama 24 jam. Nggak apa, kalau kamu kasih tahu mama, tadi malam pulang jam berapa?” Meski agak sulit mempraktikkan dengan nada lembut, tapi patut dicoba. Karena akan menstimulasi mereka untuk mengatakan yang sebenarnya. 

5. Jangan melabeli anak sebagai pembohong

Jika mommies berulang kali mengatakan anak adalah pembohong, maka anak akan tumbuh besar dengan percaya mereka adalah pembohong dan jadilah mereka pembohong. Kata-kata yang keluar dari mulut orang tua sangat kuat.  Jika orangtua mengatakan kepada anaknya bahwa mereka adalah pembohong dan label ini dibubuhkan atau dicap pada anak dalam pikiran mereka, maka mereka akan mengingatnya. 

6. Perkuat kejujuran dengan pujian

Jika anak berbuat jujur, beri mereka apresiasi dengan memujinya. Apalagi jika mereka berhasil melakukannya di tengah situasi yang sulit. Misalnya, hasil nilai ujiannya tidak seperti yang diharapkan, tapi anak sudah berusaha dan tidak menyontek. Puji mereka atas jerih payah yang dilakukan. Tanya juga, apakah mereka butuh bantuan untuk memperbaiki nilai mereka?

7. Nak…, semua orang pernah, kok, melakukan kesalahan

Tidak ada manusia yang sempurna. Nah, kita pun sebagai orang tua perlu memberi tahu anak, bahwa kita tidak mengharapkan kesempurnaan dari mereka. Orang tua ingin anak punya nilai kejujuran karena ketika mereka membuat kesalahan dalam hidup, jujur saja pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Bukan menutupi kesalahan dengan kebohongan. Dengan bersikap jujur anak akan mendapatkan bimbingan dan dukungan untuk menjadi manusia yang lebih baik. 

Baca juga:

5 Hal Ini Membuat Anak Malas Terbuka pada Orang tua

5 Tanda Kita Sebagai Orang tua Terlalu Keras pada Anak

Referensi artikel:

https://childmind.org/article/why-kids-lie/

https://www.lifehack.org/900264/how-to-teach-children-not-to-lie

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top