Now Reading
Diskriminasi Perempuan dalam Hal Seks

Diskriminasi Perempuan dalam Hal Seks

Sekarang, perempuan jauh lebih merdeka. Namun demikian, pusaran diskriminasi perempuan itu masih belum hilang begitu saja.

Ketidaksetaraan gender situasinya memang tidak separah yang kita baca dari buku sejarah pada masa Kartini, saat perempuan tak boleh bersekolah, dipingit di rumah, dan takdirnya hanya berputar di kisaran perjodohan. Sekarang, perempuan jauh lebih merdeka. Namun demikian, pusaran diskriminasi itu masih belum hilang begitu saja.

Menurut ensiklopedia teori feminis, diskriminasi bersumber dari pandangan misogini, yakni kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan, yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Misogini bermanifestasi dalam berbagai bentuk, di antaranya, diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual.

Lantas, bagaimana bentuk diskriminasi dalam seks? Kita perlu memahami dulu tentang definisi dan konsep seks. Seks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) berarti jenis kelamin. Sementara kata gender dalam KBBI pun berarti jenis kelamin. Bedanya, seks merupakan pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, perempuan ditandai dengan alat reproduksi seperti rahim, memproduksi sel telur dan memiliki vagina, sementara laki-laki ditandai dengan alat reproduksi berupa penis dan menghasilkan sel sperma. Sedangkan gender mengacu pada suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.

Jadi, kalau kita lihat dalam masyarakat, bisa dikatakan bentuk diskriminasi berdasarkan seks itu, misalnya:

Objektifikasi perempuan

Perempuan adalah objek fantasi seksual, objek kepuasan dan kenikmatan. Tubuh perempuan diperlakukan seperti objek yang bisa ‘dinikmati’ melalui pandangan atau sentuhan. Betul bahwa pria juga bisa mengalaminya, tapi jarang terjadi. Bentuk-bentuk objektifikasi perempuan dari mulai menatap bagian tubuh tertentu, bersiul-siul ketika kita lewat, meraba bagian tubuh, mengeluarkan komentar berkaitan dengan penampilan, atau bahkan sampai melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik.

Perempuan tidak bisa orgasme

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2018 terhadap 300 partisipan perempuan yang telah aktif secara seksual menemukan, 90 persen perempuan yang diteliti itu menunjukkan gejala disfungsi seksual. Namun demikian, hanya 6% yang mengaku terganggu dengan disfungsi seksual yang dialaminya. Dalam urusan ranjang, meski sudah menikah, perempuan kerap dianggap pihak yang pasif, menerima saja. Tidak sedikit yang mengalami ketidakmampuan untuk orgasme. Jika dirunut, salah satu sebabnya adalah karena masih kuatnya budaya tabu yang berkembang. Perempuan tidak boleh mengekspresikan hasrat seksualnya, termasuk di dalam pernikahan.

Baju terbuka berarti mengundang

Selama ini korban pelecehan seksual banyak disalahkan karena dianggap ‘mengundang’ aksi pelecehan dengan memakai baju seksi atau terbuka. Anggapan ini dijawab oleh Koalisi Ruang Publik Aman yang melakukan survei hubungan antara pakaian dengan pelecehan seksual. Survei yang dilakukan tahun 2019 lalu itu memaparkan pakaian model apa saja yang dikenakan perempuan saat mengalami pelecehan seksual.

Sebanyak 17,5% korban mengaku mengenakan rok panjang dan celana panjang, disusul baju lengan panjang (15,82%), baju seragam sekolah (14,23%), baju longgar (13,80%), berhijab pendek/sedang (13,20%), baju lengan pendek (7,72%), baju seragam kantor (4,61%), berhijab panjang (3,68%), rok selutut atau celana selutut (3,02%), dan baju ketat atau celana ketat (1,89%). Yang berhijab dan bercadar juga mengalami pelecehan seksual (0,17%). Bila dijumlah, ada 17% responden berhijab mengalami pelecehan seksual. Dari survei ini terjawab bahwa tak ada kaitan antara pakaian yang dikenakan perempuan dengan pelecehan seksual.

Hasrat seks perempuan rendah

Betul bahwa hasrat seks pria bersifat spontan dan lebih kuat dari perempuan, namun tidak berarti perempuan tidak punya hasrat seks. Keinginan seks perempuan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Menurut Edward Laumann, sosiolog dari University of Chicago, secara biologis, perempuan memang diprogram demikian, untuk tidak terlalu mengumbar dan berhati-hati, karena merekalah pihak yang akan menanggung ‘beban’ hubungan seks yaitu hamil dan mengurus bayi.

KB harus Perempuan

Sejak dulu, program KB (Keluarga Berencana) selalu identik dengan perempuan atau istri. Pengguna kontrasepsi umumnya adalah perempuan. Menurut data BKKBN, hanya 5% pria yang menggunakan kontrasepsi. Pria yang menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom hanya sebesar 2,5% dan vasektomi sebesar 0,2%. Ada ketimpangan di sini, bukankah perempuan juga memiliki hak reproduksi dan kesetaraan gender yang sama dengan pria?

Baca juga:

Pentingnya Edukasi Kesetaraan Gender di Rumah

Fakta – fakta di Balik Hashtag #ChoosetoChallenge

Kontroversi Parenting ala Charlize Theron

Photo by Tim Mossholder on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top