Ketika Video Intim Menjadi Viral, Ini yang Harus Dilakukan Demi Kebaikan Anak

Sex & Relationship

dewdew・25 Nov 2020

detail-thumb

Saat video intim menjadi viral tanpa sengaja, apa yang perlu dilakukan demi kebaikan dan kesehatan mental anak ke depannya?

Mommies dan pasangan pernah merekam video intim? Entah disengaja, khilaf, atau ada yang sakit hati dengan Anda berdua, video tersebut bocor dan menjadi viral? Seharusnya nggak usah kaget. Ketika Anda berdua memutuskan untuk melakukannya, sudah seharusnya Anda menyadari, aktivitas yang bagi sebagian orang dianggap normal ini, punya risiko sangat tinggi.

Nasi sudah jadi bubur.  Marah, menyesal, takut, malu, apa lagi?  Mungkin itu yang Anda rasakan. Tapi yang paling penting lagi, apa yang dirasakan anak? Mereka mungkin lebih marah, kesal, takut dan malu daripada yang Anda yang melakukannya. Sudah terlanjur, apa boleh buat. Menurut Alia Mufida, M.Psi., Psikolog ini yang harus segera Anda lakukan ketika video intim menjadi viral, demi kebaikan dan kesehatan mental anak ke depannya.

Apa yang harus dilakukan pertama kali oleh orangtua, ketika video intim menjadi viral?

Jika memungkinkan, lacak keberadaan video, menghapus file original video dan mungkin melapor pada pihak berwajib untuk membantu pelacakan. Jejak digital memang kejam, jika menghapus jejak tidak mungkin, usahakan meminimalkannya. Perlu usaha ekstra keras memang. Tapi memang ini konsekuensinya. 

Adakah perbedaan treatment dalam menangani anak di usia 9 tahun ke bawah dengan anak-anak pra-remaja atau remaja?

Alia Mufida sangat menekankan, sebisa mungkin orangtua menjaga agar anak tidak melihat video tersebut. Sebagai orangtua yang dalam hal ini sudah teledor dan membiarkan video pribadi tersebut tersebar, Anda memiliki tanggung jawab untuk betul-betul membuat lingkungan terdekat anak steril akan video tersebut.

Yang challenging memang dalam menangani anak pre-teen atau remaja. Mereka kemungkinan akan lebih penasaran, karena kemampuan kognitif mereka yang sudah lebih berkembang. Pengetahuan mereka lebih luas sehingga lumrah jika rasa ingin tahu juga semakin besar. Oleh karena itu, rasa penasaran tersebut harus terjawab oleh orangtua. Tak terelakkan, orangtua mesti menjelaskan alasan orangtua membuat video intim itu. Kemudian apa risiko yang sudah diketahui orangtua, dan segeralah meminta maaf karena situasi ini bisa jadi membuatnya tidak nyaman. Bukan cuma buat dirinya, tapi juga bagi semua terutama lingkungan terdekat. Jika dibutuhkan, agar tak salah menyampaikan, mommies dan suami bisa jadi butuh pertolongan ahli seperti psikolog demi mendapatkan arahan. 

BACA JUGA: Siapkan 5 Hal Ini Sebelum Konsultasi dengan Psikolog Anak

Perlukah orangtua mengakui kesalahannya pada anak?

Even white lies cause big hurt. Tidak mengakui kesalahan, padahal jelas-jelas sudah berbuat, sama sekali nggak bijaksana. “Saya sendiri tidak fond of lying to our kids or hiding the truth. Because when it comes out, it will create a bigger mess,” saran Alia. Koneksi dengan anak akan rusak. Kepercayaan pada orangtua bisa runtuh Jadi sebisa mungkin menceritakan apa adanya. Tentunya juga sesuaikan dengan usia anak, ya. 

Sementara itu, orangtua perlu untuk yakin, bahwa anak sudah diberikan edukasi seks yang cukup sesuai usianya. Misalnya saja, pengenalan nama alat kelamin, fungsi-fungsinya dan mengetahui underwear rules. Kenapa orangtua perlu yakin akan hal ini? Karena hal inilah yang mampu membuat anak-anak berpikir mengenai mana yang benar dan salah terkait dengan seks dan seksualitas. Jika sudah melakukan hal tersebut, itu merupakan permulaan yang baik. Akan lebih mudah buat orangtua dalam menyampaikan ke anak tentang apa yang terjadi, walaupun tingkat detail cerita dapat disesuaikan dengan usia mereka, ya.

Perlukah anak diberhentikan sementara dari sekolah jika video intim menjadi viral tak terkendali?

Atau, perlukah opsi homeschooling dipertimbangkan? Apalagi mengingat anak sekolah sangat rentan terhadap bully. Menurut Alia, homeschooling atau tidak, akan sama saja efeknya bagi anak. Karena pada era digital seperti saat ini, meskipun anak di rumah, hampir pasti anak tetap mendapatkan akses informasi. Nggak adil, ya, ‘menghukum’ anak dengan menutup segala akses komunikasinya dengan dunia luar, sementara yang salah bukan dia. 

Mungkin yang dapat dilakukan adalah berdiskusi dengan anak mengenai apa yang ia ingin lakukan. Jika anak terlihat siap untuk tetap sekolah, maka lanjutkan saja. Jika tidak, maka kita sebagai orangtua  harus bersedia untuk mencarikan opsi lain. Tentunya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Hal lain yang bisa orangtua lakukan terkait dengan sekolah, mungkin bisa dengan menghubungi pihak sekolah, bila perlu dengan orangtua murid lain untuk juga meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Mommies juga perlu berbesar hati untuk meminta tolong agar anak tidak dilibatkan terkait hal ini.

Adakah kemungkinan anak benci pada orangtua? 

Hubungan anak dan orangtua tentu saja berisiko menjadi retak. Terutama untuk anak-anak pre-teen dan remaja, ya. So,  yang perlu dilakukan orangtua adalah menunjukkan kepada anak, bagaimana orangtua mengatasi masalah ini. Sambil berusaha memperbaiki semuanya, orangtua harus terus berusaha melakukan koneksi ke anak secara positif.  Itulah sebabnya meminta maaf kepada anak sangat butuh dilakukan, dan ingat, nggak hanya sekali. 

Mommies mungkin akan menghadapi aral melintang, terutama pertentangan dan perdebatan yang nyaris tiada akhir dengan si remaja. Tapi, bagaimanapun, kita sebagai orangtua harus kembali menegaskan pada mereka mengenai nilai sebenar-benarnya yang dipegang keluarga. Pastikan anak betul-betul mengerti, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait privasi dan seksualitas. Supaya anak nggak salah persepsi lalu memiliki pembenaran untuk melakukan hal yang sama. Good luck mommies!