Istilah dalam Anime yang Perlu diketahui Orangtua

Behavior & Development

Ficky Yusrini・28 Oct 2020

detail-thumb

Istilah dalam anime atau manga ada juga yang bermuatan pornografi, penting untuk dipahami orang tua agar bisa mengingatkan si anak.

“Kamu tahu BL? Kamu tahu fujoshi? Aku kan, Fujo akut!”

Suatu kali, anak saya yang remaja, cerita tentang seorang temannya yang membuat pengakuan demikian. Awalnya yang dia nggak tahu, lalu jadi penasaran dan nanya balik ke temannya, “Itu apaan?” Setelah dijelasin, anakku bertanya lagi, “Kamu gay?” Lalu jawab temannya, “Enggak. Aku bukan gay.”

Saya jadi ikutan kepo. Apaan sih, fujo. Deg-degan dengernya. Beberapa waktu sebelumnya, dari hasil bisik-bisik dengan teman, ia cerita, teman anaknya, gadis remaja seusia anak saya, di kamarnya memasang poster dan foto-foto bintang-bintang Korea pria bertelanjang dada, dan ada yang bermesra-mesra dengan pria lainnya. Anak ini suka tontonan drama percintaan antara dua pria. Di kehidupan nyata, dia juga suka memfantasikan idolanya punya hubungan romantis dengan sesama pria. “Nggak rela kalau idola punya pacar perempuan. Lebih rela kalau dia menemukan pasangan sesama pria,” begitu katanya.

Pernah, sih, ada satu serial anime yang disukai anak, dia tonton berseri-seri. Rasanya tidak mungkin kalau saya harus ikutan nonton nemenin dia. Jadi, saya biarkan saja dan saya sama sekali tidak tahu jalan ceritanya. Tapi setelah dengar tentang fujoshi ini, sepertinya orangtua nggak boleh abai dengan tayangan budaya pop yang ditonton dan diidolakan oleh anak. Minimal, tahu dan paham istilah-istilahnya, supaya bisa jadi bahan diskusi dengan anak.

Dan, kalau anak punya kecenderungan tertentu, dalam hal ini kaitannya dengan orientasi seksual, kita sudah siap mental untuk jadi teman bicaranya. Jangan sampai, anak mencari-cari dari orang lain, dan dia bingung sendiri dengan dirinya, dan orangtua nggak tahu apa-apa.

Istilah-istilah ini konteksnya berasal dari fandom anime dan manga dan populer di kalangan para otaku (penggemar berat anime dan manga). Medianya bisa berupa komik dan serial televisi.

Baca juga: Anak Suka Anime? Ini 5 Manfaatnya

Hentai: Salah satu genre anime atau manga yang memuat konten 17 dan 21 tahun ke atas alias konten pornografi. Bukan konsumsi usia remaja yang kurang dari itu.

Boys Love atau BL: Genre yang merujuk pada homoerotisme atau homoromantis, berfokus pada hubungan percintaan antar dua pria. BL terdiri dari dua kategori, yakni Yaoi, lebih fokus ke hubungan homoerotik, dan shounen-ai, masih sebatas rasa suka. Perbedaan keduanya terletak pada tingkat kevulgaran. Jika Yaoi kerap menampilkan adegan seksual secara eksplisit, shounen ai tidak kentara, lebih mirip unsur bromance.

Baca juga: Saat Anak Mengaku Gay

Fujoshi: Sebutan untuk perempuan. Mereka yang menggemari kisah-kisah yang menggambarkan percintaan antara karakter pria (BL). Tidak semua perempuan yang menggemari anime adalah fujoshi. Fujoshi ini sekarang sedang ramai dibicarakan, dan penggemarnya bukan hanya orang dewasa saja, tapi juga banyak anak-anak dan remaja.

Fudanshi: Sebutan untuk laki-laki, yang menggemari BL.

Yuri: Sama dengan yaoi, tapi percintaan antara dua perempuan atau lebih.

Shōjo-ai: Romansa antara perempuan, seperti Yuri, tapi tidak berfokus pada hubungan seksual, dengan kata lain, tidak eksplisit secara seksual. Merupakan kebalikan dari shonen-ai. Dalam shōjo-ai, kemesraan yang muncul biasanya tanpa disengaja atau disadari. Kedekatan tokohnya karena memang ada faktor tertentu.

Di tempat asalnya di Jepang, di mana seksualitas lebih terbuka, fenomena ini bukan hal baru. Genre BL telah ada selama kurang lebih empat dekade. Sebagian besar, BL dibuat oleh perempuan dan umumnya ditujukan untuk perempuan. Genre ini lahir sebagai wujud ekspresi dan fantasi liar perempuan, dalam hal seksualitas, sebagai sebuah perlawanan dari industri konten dewasa yang umumnya sasaran pasarnya adalah pria.

Sebagai konten dewasa, ini menjadi masalah apabila dikonsumsi oleh anak-anak yang belum masanya. Apalagi, konten ini sangat mudah diakses.