Now Reading
Keputihan pada Bayi dan Balita, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Keputihan pada Bayi dan Balita, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Masih bayi kok keputihan, perlukah khawatir? Ini penyebab dan cara mengatasi keputihan pada bayi dan balita.

Waktu anak perempuan saya lahir, saya sempat bingung; kok, di vaginanya terdapat keputihan seperti orang dewasa, ya? Volumenya pun lumayan banyak. Ternyata, dokter anak saya bilang, itu wajar dan nggak perlu dikhawatirkan. Keputihan pada bayi disebabkan oleh pengaruh hormon ibu pada organ kewanitaan bayi selama di dalam kandungan.

Bahkan pada beberapa bayi, ada juga yang keluar darah menyerupai menstruasi. Dokter hanya menyuruh saya membersihkan setiap mandi dan saat ganti popok menggunakan kapas basah. Dalam beberapa hari, keputihan hilang, vagina bayi pun bersih.

Penyebab dan cara mengatasi keputihan pada bayi dan balita

Layaknya orang dewasa, bayi dan balita juga bisa keputihan. Selain pengaruh hormon ibu tadi, keputihan pada bayi dan balita biasanya berhubungan dengan kebersihan kelamin. Kabar baiknya, keputihan yang mereka alami bukan merupakan infeksi. Tapi jika nggak diperhatikan, bukan nggak mungkin berkembang menjadi infeksi.

Vagina anak perlu dijaga kebersihannya. Nggak mau kan, anak sudah bersih, wangi, cantik, eh, bagian bawahnya keputihan?! Sehabis berkemih atau BAB, cuci vagina anak dengan cara yang benar, yaitu dari depan, bukan dari belakang. Kalau dari belakang, sisa kotoran seperti bakteri atau jamur dari anus bisa terbawa ke vagina, dan menyebabkan keputihan. 

Buat bayi mommies yang masih menggunakan popok sekali pakai, rajin-rajin ganti, ya! Sebab, jika terlalu lama dikenakan bayi, dapat menyebabkan jamur bertumbuh dan terjadi keputihan. Kondisi basah atau lembap adalah sasaran paling ideal buat jamur untuk berkembang. Jadi, pastikan area vagina anak selalu dalam keadaan kering.

Bukan berarti menjaga vagina tetap kering dengan membubuhkan bedak, lho, ya! Ini malah berbahaya. Kondisi vagina yang lembap jika dimasuki partikel bedak bisa memicu iritasi dan penumpukan kuman, lalu terjadilah infeksi, salah satunya ditandai dengan keputihan. Sehabis mandi, cukup tepuk-tepuk area vagina anak dengan handuk atau kain bersih. Hindari mengelap vagina dengan tisu, karena serpihan tisu juga bisa tertinggal di dalam vagina.

Keputihan pada Anak Praremaja

Pada anak yang lebih besar, misalnya usia sekolah atau praremaja, keputihan bisa timbul akibat kurang menjaga kebersihan tubuh. Mereka biasanya sudah lebih aktif dan tubuhnya sudah memproduksi lebih banyak keringat. Otomatis, area kelaminpun ikut berkeringat. Kalau nggak rajin mandi atau mengganti pakaian dalam sehabis berkeringat, kuman bakal mengintai vagina dan menyebabkan keputihan.

Jelang masa pubertas, keputihan juga bisa muncul pada anak usia praremaja. Normalnya, ini akan hilang dengan sendirinya.

Keputihan Normal dan Abnormal

Sebagai orang tua, kita perlu memahami terlebih dahulu mana keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis), supaya bisa membantu mengatasi keputihan anak. Ciri-ciri keputihan normal yaitu tidak berbau, bening, cair, tidak menyebabkan gatal dan dalam jumlah sedikit. Biasanya terjadi pada perempuan dewasa yang tengah memasuki masa subur, sedang stres, kepanasan, mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau kelelahan.

Sementara, keputihan abnormal ditandai dengan warna kekuningan atau kehijauan, dalam jumlah banyak, berbau, disertai rasa gatal atau perih, dan nyeri saat berkemih. Keputihan seperti ini biasanya mengindikasikan suatu penyakit, misalnya infeksi jamur, bakteri atau parasit.

Kalau mommies menemukan tanda-tanda tak wajar keputihan pada bayi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!

Baca juga:
6 Tanda ASI Cukup pada Bayi Menurut IDAI
6 Fakta Tentang Milia pada Bayi, Sering Dianggap Jerawat!
Tahapan Tumbuh Kembang Bayi 0-12 Bulan, Bayi Anda Sedang Di Fase Mana?

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top