Update Covid-19: Corona di HP dan Uang Kertas, Hingga Status Vaksin dari Pemerintah

RachelKaloh

Pandemi sampai kapan, nih? Sudah bisa lega belum, ya? 

Sebelum masuk ke update seputar Covid-19, berdasarkan data terkini, per 14 Oktober lalu, kasus Covid-19 bertambah sebanyak 4.127 kasus, dengan total angka kesembuhan sekitar 268 ribu dan total kematian 12.156. 

Update I: Virus Corona yang bisa bertahan 28 hari pada uang kertas dan layar ponsel

Menurut para peneliti, virus Corona dapat menular di permukaan seperti uang kertas, layar ponsel, dan baja tahan karat selama 28 hari. Temuan dari Badan Sains Nasional Australia menunjukkan SARS-Cov-2 dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.

Namun, percobaan itu dilakukan dalam kegelapan dan sinar UV telah terbukti dapat membunuh virus. Demikian pula menurut studi di Virology Journal, kelangsungan hidup virus Corona bisa menurun jadi kurang dari sehari pada permukaan jika berada di suhu 40 derajat Celsius. 

“Hasil tersebut menunjukkan bahwa SARS-Cov-2 tetap menular dari permukaan dalam jangka waktu yang lama. Oleh karenanya, perlu praktik yang baik dalam mencuci tangan dan membersihkan permukaan secara teratur,” kata Wakil Direktur Pusat ACDP, Debbie Eagles. Selain itu, hindari pula menyentuh wajah untuk meminimalkan risiko terinfeksi.

Update II: Seputar Vaksin

Meski menyerang pernapasan, ternyata infeksi virus Corona tidak terbatas pada keluhan batuk dan sesak napas. Beberapa pasien mengalami gangguan pada indera perasa dan penciumannya. Namun, berdasarkan laporan, makin banyak keluhan yang tidak biasa timbul pada pasien yang mengalami Covid-19, salah satunya gangguan pendengaran. 

Kajian sistematis atas bukti-bukti ilmiah mengungkap beberapa laporan gangguan pendengaran pada pasien Covid-19. Tim peneliti yang sama juga mengungkap 16 dari 121 pasien yang dirawat karena Covid-19 mengalami perubahan pada pendengaran, 8 minggu setelah sembuh.

Menurut Kevin Munro dari University of Manchester, secara teori, hal ini mungkin berkaitan karena beberapa virus bisa memicu gangguan pendengaran, seperti virus campak. “Pembuluh darah kapiler di telinga bagian dalam sangat kecil, tidak perlu banyak waktu untuk memblokirnya,” jelasnya.

Dokter spesialis pendengaran dari John Hopkins Medicine, Matthew Stewart mengatakan bahwa Corona diketahui bisa menyebabkan pembekuan pembuluh darah dan pembekuan tersebut bisa terjadi di pembuluh darah telinga bagian dalam. 

Bersama dengan timnya, Stewart pun melakukan prosedur pada tubuh tiga pasien yang telah meninggal dunia akibat Covid-19 untuk melihat kemungkinan tersebut. Hasilnya, virus SARS-CoV-2 ditemukan berada pada telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak, yang terdapat tepat di belakang telinga. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 

Update III: Seputar Vaksin

Jenis Vaksin yang akan didatangkan ke Indonesia

Pemerintah Indonesia berencana memulai program vaksin Covid-19 pada November mendatang. Ada tiga kandidat vaksin yang akan didatangkan, yakni Cansino, Sinovac, dan G42/Sinopharm.

Menurut keterangan yang didapat dari situs maritim.go.id, tim dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Kementerian Kesehatan, MUI dan Bio Farma akan berangkat ke China untuk melihat fasilitas produksi dan kehalalan produk vaksin Covid-19 Cansino dan Sinovac. Sementara itu, data uji klinis vaksin G42/Sinopharm akan diambil langsung di Uni Arab Emirates. 

Dosis Vaksin

Rencananya, akan ada sebanyak 6,6 juta dosis vaksin Covid-19 dari tiga vaksin di atas:

  1. Cansino menyanggupi 100.000 dosis vaksin (single dose) pada bulan November dan sekitar 15-20 juta untuk tahun 2021.
  2. Sinovac menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020, dengan pengiriman yang dibagi dua tahap, yaitu pada minggu pertama November dan pada minggu pertama Desember 2020.
  3. G42/Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis vaksin (dual dose) tahun ini, beberapa di antaranya akan tiba di bulan November.

Kelompok yang akan menjadi prioritas

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto mengatakan, vaksinasi Covid-19 akan diprioritaskan pada kelompok tenaga kesehatan, pelayanan publik, TNI/POLRI, dan seluruh tenaga pendidik. Kelompok garda terdepan yang tidak mampu secara ekonomi akan dibayarkan vaksinnya oleh pemerintah, termasuk para peserta penerima bantuan iuran BPJS kesehatan.

Sementara, menurut kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, imunisasi tetap perlu diprioritaskan bagi orangtua dan kelompok rentan lainnya terlebih dahulu. “Kebanyakan orang setuju bahwa vaksin dimulai dengan petugas kesehatan dan petugas garis depan, namun tetap perlu lagi menentukan siapa di antara mereka yang memiliki risiko tertinggi”, jelasnya pada CNBC. Akan ada banyak panduan yang keluar, namun menurutnya orang muda yang sehat mungkin harus menunggu hingga 2022 untuk mendapatkan vaksin. 

Sumber: detik.com, CNNIndonesia

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top