Dilema Menonton The Social Dilemma

Mengingatkan kembali tentang bahaya yang mengintai di balik kenikmatan berseluncur di dunia maya.   

Berapa lama biasanya Anda berkelana di media sosial setiap harinya? Sejam, dua jam, atau malah berjam-jam? Daya pikat Facebook, Instagram, dan teman-temannya ini memang sungguh luar biasa. Apalagi di masa pandemi, saat kita tak bisa kemana-mana, praktis satu-satunya penghubung kita dengan dunia luar hanya gadget dan media sosial. 

“Aku benci film The Social Dilemma. Soalnya, sebagai remaja, aku suka gadget,” komentar anak remaja saya, usai kami nobar film dokumenter Netflix berjudul The Social Dilemma. Walau begitu, saya puas karena berhasil membuatnya bertahan menonton film ini sampai akhir. Saya pribadi juga kesal, menonton film ini rasanya seperti habis dikhianati sahabat sendiri. Sakit!

Sedikit tentang film yang sedang laris-larisnya ditonton di Netflix ini, dokumenter yang dibalut dengan ilustrasi kisah fiksi tentang sebuah seorang ibu yang tidak berdaya dalam mengontrol perilaku anak terkait penggunaan gadget mereka. 

Berisi wawancara dengan beberapa orang yang pernah bekerja di Facebook, Google, Twitter, dan perusahaan teknologi lainnya, yang mengungkap fakta tentang bagaimana perusahaan mereka menggunakan teknik manipulasi agar user betah selama mungkin di depan gadget mereka.

Tak hanya itu, dalam wawancara terungkap, perusahaan yang bergerak di aplikasi media sosial tersebut telah dengan sengaja memanfaatkan penyebaran informasi hoax dan mempertajam polarisasi, demi pengiklan yang telah membayar mahal mereka. 

Di film ini juga digambarkan, betapa perusahaan teknologi ini telah menyerap begitu banyak informasi tentang kita, yang kemudian mereka olah sehingga mereka bisa membuat sosok kloning kita dalam sistem mereka. Dari situ, mereka bisa memprediksi seluruh pilihan-pilihan kita.

Apa sih yang kita sukai, pesan dari teman yang mana yang akan membuat kita menoleh ke Facebook, video apa yang pasti akan kita tonton kalau dimunculkan rekomendasi atau notifikasinya, dengan kata lain, konten seperti apa yang akan membuat kita bisa berlama-lama berkutat di depan gadget, mereka sudah punya polanya. Si peramal canggih ini bahkan lebih tahu banyak tentang kita, dibanding kita sendiri.  

Tetap Bersikap Kritis

Film ini mengangkat isu yang sangat sensitif dan sensasional, mengingat media sosial telah digunakan oleh miliaran pengguna di seluruh dunia. Pengakuan para narasumber dalam film ini sangat meyakinkan dalam mengagetkan dan menakut-nakuti kita. Anehnya jika ditelusuri, banyak reaksi negatif atas film ini. Masa sih, seseram itu?

Coba dilihat lagi, apa sih motif dan kepentingan eks karyawan perusahaan teknologi itu sampai menjelek-jelekkan kantor mereka. Ada juga komentar bernada nyinyir bahwa tuduhan-tuduhan tersebut hanya berdasar teori konspirasi, ataupun kesan plot tentang Ben, remaja yang menjadi karakter sentral di film ini, terlalu lebay, terlalu mendramatisir situasi. 

Terlepas dari ketidaksetujuan banyak pihak terhadap film ini, sebaiknya kita memang tidak boleh mengabaikan fakta yang disodorkan film ini tentang bahaya berlama-lama di gadget. Sebuah pesan yang tidak baru lagi, bukan? Kita sudah sering mendengarnya berulang kali. Film ini hanya sekadar pengingat ulang.

Adapun, untuk memercayai tentang kebenaran teori konspirasinya, ada bijaknya kita tidak memercayai mentah-mentah film ini. Kita juga perlu menyimak sumber-sumber lain seperti buku dan artikel. Artinya, referensi kita jangan hanya berhenti di film ini saja. 

Bagaimana menyikapinya 

Kita tidak bisa lepas total dari gadget. Tidak perlu juga sampai menutup seluruh akun media sosial. Jujur, kita masih butuh, sharing dan baca-baca postingan teman, hahaha…Jadikan film ini sebagai momen untuk berefleksi kembali sejauh mana ketergantungan kita dan kesembronoan pengguanaan kita. Hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengevaluasi, antara lain:  

Jaga privasi. Setelah menonton film ini, kita jadi tahu bagaimana pihak perusahaan teknologi memanfaatkan data kita dan mengkomersilkannya. Apa saja yang termasuk data yang perlu dijaga? Data bukan hanya nama dan nomor telepon, tapi juga informasi apa yang kita unggah. Batasi audiens yang bisa membaca konten kita. Ini termasuk konten yang dibaca, di-like, dan dibuka. 

Atur password. Sebaiknya hindari menggunakan satu password untuk semua aplikasi yang kita gunakan. Hal ini untuk meminimalkan akses jumlah pihak ketiga yang berbagi data. Misalnya, saat kita menggunakan satu akun Gmail untuk membuka seluruh aplikasi yang kita pakai, jika satu aplikasi sudah tercemar keamanannya, maka aplikasi yang lain akan rentan juga keamanannya. 

Matikan notifikasi seluruh aplikasi di handphone. Secara default, kita pasti akan mendapatkan notifikasi dari seluruh aplikasi. Hal ini membuat kita sering terdistraksi dan berujung mengecek handphone berkali-kali. Menurut sebuah studi, rata-rata waktu yang dihabiskan orang di depan handphonenya adalah 4 jam 30 menit.

Hindari mengecek rekomendasi video yang harus ditonton, jika menggunakan Youtube. Biasakan membuka video langsung dengan keyword yang kita ketikkan. Hal ini untuk menghindari mereka membaca perilaku dan kebiasaan kita. 

Gunakan VPN (Virtual Private Network). Koneksi dengan VPN lebih aman dan privat. Kita juga bisa mengubah-ubah lokasi sehingga lebih sulit terlacak.  

Bagaimana menjelaskan pada anak

Bicarakan dengan anak tentang seluk beluk internet. Generasi ini lahir dan tumbuh dengan internet, tetapi belum tentu mereka melek digital, jangan biarkan mereka hanya berperan sebagai user saja. Gunakan isu-isu dari film ini, misalnya, untuk memancing percakapan dan diskusi dengan mereka. Terutama, jika usia anak sudah beranjak remaja. 

“Perasaanku nggak enak. Habis ini pasti akan ada rule baru pemakaian gadget,” kata anak saya. Padahal, saya belum mengeluarkan instruksi apa pun, dia sudah punya firasat, hahaha…. Setelah mengevaluasi kembali, saya merasa saya terlalu kendor dalam kebijakan pemakaian gadget ke anak.  Benar kata anak saya, waktunya merevisi aturan baru penggunaan gadget yang lebih ketat, terjadwal, dan tetap mengakomodir kebutuhannya.  

Pastikan anak-anak memahami privasi, pengaturan privasi, cara memvalidasi sumber informasi,  waspada berkomunikasi dengan orang asing, dan keabadian jejak digital. 

Latih kesadaran media sosial. “Tunda, kalau bisa sampai SMA, baru mereka boleh gunakan media sosial,” Pikirkan tentang konten apa saja yang mereka posting dan mengapa mereka perlu mempostingnya. Lalu, konten apa saja yang mereka simak dan apa yang membuat mereka ketagihan. Biasakan mereka melakukan refleksi dan kesadaran dalam penggunaannya. 

Baca juga:
Ketika Anak Minta Izin untuk Punya Instagram
Jenis Ibu-ibu yang Pasti Saya Unfollow di Instagram

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top