Now Reading
Toxic Positivity, Kenapa Berpikir Positif itu Tidak selalu Bermakna Positif

Toxic Positivity, Kenapa Berpikir Positif itu Tidak selalu Bermakna Positif

Mari berkenalan dengan toxic positivity agar kita tidak menjadi salah satu pelakunya. 

Pernahkah kita memperhatikan dinding media sosial lingkar teman kita, berapa persen sih dari status-status mereka yang berisi kabar baik, dan berapa persen yang mengandung kabar buruk? Dari yang saya amati di media sosial saya, 99 persen berisi kabar baik. Anak diterima di sekolah ini, anak menang lomba itu, launching buku baru, buka bisnis baru, sedang piknik di mana, dan sebagainya. Intinya, hal-hal yang membanggakan, pencapaian, menunjukkan sisi fun dari hidupnya, dan sebagainya. 

Kalaupun misalnya muncul kabar duka, biasanya bukan dari orangnya langsung, melainkan dari teman yang bersangkutan. Misalnya, mengabarkan anggota keluarga yang meninggal. Ada sih, satu dua yang blak-blakan tentang sisi gelap yang dialami, entah itu sedang proses pengobatan, usai mengalami perceraian, atau musibah kecelakaan, tetapi jarang sekali yang menulis seperti ini. Rasanya butuh keberanian yang sangat besar untuk bisa menuliskan pengalaman negatif ini. 

Sekarang, saya bertanya lagi, apa yang kita katakan pada teman yang kita tahu dia sedang mengalami kondisi gelap. Bingung, kan, mau ngomong apa? Cepat sembuh ya!” “Tetap semangat!” “Ayo, kamu pasti bisa.” “Pukpuk, nanti kalau sudah sehat kita jalan-jalan lagi.” “Semoga segera dapat kerja lagi.” “Semoga bisnisnya lancar lagi.” “Segala sesuatu pasti ada hikmahnya.” 

Bayangkan saja, dia baru mengalami kecelakaan dan kondisinya parah, harus dioperasi dan akan dirawat di rumah sakit. Lalu kita bilang, “Cepat sembuh, ya!” Contoh lain, teman baru kehilangan anaknya. Lalu kita katakan, “Sabar, mbak!” Seorang teman baru saja dipecat karena kantornya terimbas Covid-19. Dia nggak tahu besok makan apa. Kita kehabisan kata-kata, bukan?

Kosakata umum yang ada biasanya bernada positif, memberi semangat, memupuk harapan. Tidak bisa dipungkiri, budayanya memang membentuk seperti itu. Kalau dicermati lagi, apakah bahasa kita itu sudah menunjukkan empati? Bagaimana jika kita sendiri yang mengalami, lalu orang lain berkomentar memberi semangat seperti itu. Kesannya seolah-olah masalah yang kita hadapi itu gampang dan besok juga sudah beres.    

Apa itu Toxic Positivity?

Kita selalu dituntut untuk berpikir positif tidak peduli segelap apa pun dan sedalam apa pun musibah yang sedang dialami. Dalam psikologi, muncul istilah ‘toxic positivity’ merujuk pada generalisasi berlebihan dari keadaan bahagia dan optimis di semua situasi. Hal ini berimplikasi pada penyangkalan dan pengabaian pengalaman emosional manusia yang otentik. Bahwa kita juga memiliki emosi-emosi negatif seperti kecemasan, kekhawatiran, kesedihan, kemarahan, dan sebagainya. Seringkali emosi negatif ini mendapat stigma buruk dan tabu untuk diekspresikan. 

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Toxic People di Dalam Hidup Kita

Ciri Toxic Positivity

Saat mengalami hal yang buruk, reaksi umum seseorang adalah ingin berusaha terlihat tegar. Namun, dalam kadar yang berlebihan, pada akhirnya yang kita lakukan adalah: 

  • Menyembunyikan/menutupi perasaan yang sebenarnya. “Nggak apa-apa kok, baik-baik aja.”
  • Mencoba menekan atau menghilangkan emosi negatif. “Aku nggak stres!”  
  • Merasa bersalah karena merasakan apa yang dirasakan. 

Pada titik tertentu, pengabaian ini membuat kita tidak tahu bahwa kita sebetulnya butuh pertolongan. Kita tidak baik-baik saja. Kalau kita mau membuka diri dan mengakui kelemahan diri, di luar sana, pasti ada orang-orang yang bisa memahami dan membantu kita sehingga kita bisa lebih cepat keluar dari keterpurukan. 

Peran bahasa sangat penting, ini yang disalahpahami orang. Bahasa menunjukkan empati. Bahasa juga bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan merasa tertolong, bukannya malah menjauh. Bahasa memberi validasi emosi. Sebagai teman, kita sudah menyebarkan toxic positivity, jika: 

  • Mengecilkan pengalaman teman, misalnya dengan pernyataan “semoga lekas membaik”.
  • Tidak memvalidasi pengalaman emosional mereka.
  • Mempermalukan atau menghukum orang lain karena mengungkapkan rasa frustrasi atau apa pun selain hal positif.

Baca juga: Tips Menghadapi Orangtua Toxic

The Subtle Art of Not Giving a Fuck

Wacana tentang toxic positivity ini sempat ramai disebut-sebut setelah dipopulerkan kembali oleh Mark Manson lewat bukunya yang berjudul The Subtle Art of Not Giving a Fuck. Menurut Mark, “Keinginan untuk mengubah pengalamannya menjadi lebih positif, merupakan pengalaman negatif. Dan, secara paradoks, menerima pengalaman negatif adalah pengalaman positif.”

Semakin kita mengejar perasaan untuk menjadi lebih baik sepanjang waktu, semakin kita kurang puas, karena mengejar sesuatu hanya memperkuat fakta bahwa kita dalam kondisi kekurangan. Misalnya, semakin kita sangat ingin bahagia dan dicintai, semakin kesepian dan semakin takut Anda terlepas dari orang-orang yang ada di sekitar Anda. 

Dengan kata lain, setiap upaya untuk melepaskan diri dari hal negatif, untuk menghindari atau membungkamnya, hanya akan menjadi bumerang. “Menghindari penderitaan adalah salah satu bentuk penderitaan. Menghindari untuk berjuang adalah sebuah perjuangan. Penyangkalan kegagalan adalah kegagalan. Menyembunyikan apa yang memalukan, itu sendiri merupakan bentuk rasa malu. Rasa sakit adalah benang yang tak terpisahkan dalam tenunan kehidupan, dan untuk merobeknya bukan hanya tidak mungkin, tetapi juga akan merusak.” 

Baca juga: Tuhan, Jauhkan Anak-anak Saya dari Teman yang Toxic

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top