Now Reading
10 Tips Scream Free Parenting yang Wajib Anda Tahu

10 Tips Scream Free Parenting yang Wajib Anda Tahu

Menerapkan pola asuh bebas bentakan alias scream free parenting pasti jadi cita-cita semua orangtua. Pertanyaannya, bisa nggak sih? Ini dia 10 tips-nya.

Hmmm.. Lalu merenung. Bisa kali ya..? Tapi.. pasti nggak semudah mengganti popok bayi! Apalagi jika pola asuh selama ini keburu diwarnai bentakan, omelan, dengan backsound teriakan. Tentunya mengubah pola asuh seperti ini menjadi scream free parenting bakal super challenging (fiuh!).

Tapi.. (tapi lagi!), tidak pernah ada kata terlambat untuk membenahi cara pengasuhan anak. Orang tua “hanya” perlu melakukan revolusi parenting agar tercipta scream free parenting dan anak tumbuh dengan emosi stabil serta mental yang sehat. Dari hasil obrolan Mommiesdaily dengan Psikolog Anak dan Keluarga, Irma Gustiana, M.Psi, ini 10 tips scream free parenting yang wajib mommies tahu.

1. Kelola emosi diri sendiri, sebelum hadapi emosi anak

Setiap individu punya kapasitas emosi masing-masing yang dipengaruhi pengalaman masa lalu, karakter serta temperamen dasar. Bila kita punya tantangan dalam mengelola emosi dan cenderung reaktif, maka kita harus sadar untuk mengubah cara mengelola emosi tersebut, agar tak berdampak negatif pada anak.

Secara genetik, marah itu bisa diturunkan. Jadi, jika seorang anak berpotensi mewarisi sifat pemarah orang tuanya, ditambah melihat reaksi orang tua dalam pengelolaan emosi yang buruk, maka jangan kaget kalau anak bakal jadi pemarah. Karena itu, penting bagi orang tua belajar mengelola emosi, agar saat menghadapi anak yang sedang emosional, bisa lebih tenang.

2. Anak bercermin dari orang tua

Sejak usia 2-3 bulan, anak sudah mampu menyerap hal-hal di sekitarnya, termasuk emosi yang tampak di wajah, intonasi suara, atau cara menyentuh.

Ketika mommies sedang marah, kesal, atau stres, lalu secara intens menunjukkannya dalam bentuk perilaku seperti bicara judes, membentak, mendekap dengan kencang, menggendong dengan paksa, anak bisa merasakan emosi negatif tersebut. Ini namanya mirroring: anak bisa bercermin terhadap apa yang ia lihat dan rasakan. Orang tua otomatis menunjukkan: seperti ini, lho, manifestasi dari rasa marah, yang kemudian bisa ditiru anak.

3. Ajarkan anak tentang emosi dengan cara tepat

Kenalkan anak dengan jenis-jenis emosi positif maupun negatif sejak kecil. Tujuannya, agar ketika besar, ia mampu mengelola emosinya dengan tepat. Ajarkan melalui cara-cara berikut:

– Interaksi tatap muka atau kontak mata

– Memberikan kata-kata positif

– Teknik validasi emosi

Latihan merespon emosi yang diajarkan sejak kecil akan terbentuk di memori anak. Harapannya, kelak ia ingat bagaimana cara merespon emosi negatif dengan cara positif sesuai yang dibekali orang tua.

4. Lakukan validasi emosi saat anak tantrum

Dari usia 1,5 hingga 3,5 tahun, banyak anak mengalami tantrum. Bantu anak mengidentifikasi perasaannya dengan cara validasi emosi. Ajukan pertanyaan serta penyebabnya, seperti: “Adik kesal, ya?”, “Adik menangis karena Mama nggak ijinkan makan coklat, ya?”. Dengan validasi emosi, anak belajar mengakui dan mengekspresikan perasaannya, sehingga membuatnya merasa dipahami dan diterima.

Baca juga: Beda Tantrum dengan Meltdown

5. Ketenangan diri adalah kunci

Coolness is everything ketika menghadapi anak emosi. Cobalah mengontrol intonasi dan perkataan, sehingga anak bisa berkaca: Oke, saya ngamuk-ngamuk begini, mama tetap tenang, lho. Ketika orang tua berhasil mengelola diri, anak pun otomatis belajar mengelola dirinya juga.

6. Bedakan “marah”  dengan “marah-marah”

Batasan marah dengan marah-marah itu tipis banget. Marah itu emosi yang normal, wajar, dan pernah dirasakan semua orang. Tetaplah pada koridor marah yang tepat. Mommies bisa memvalidasi emosi sendiri menggunakan I-message (saya dan perasaan saya): “Mama marah, mama tidak suka kamu melanggar aturan. Mama ingin kamu jalani konsekuensinya.” Ini membantu kita agar tidak marah-marah berlebihan. Jangan sampai keceplosan agar tak menyiksa batin anak. Karena ketika melukai anak, kita juga ikut terluka.

Baca juga: Emosi Meningkat Saat Menemani Anak Belajar di Rumah? Lakukan Hal-hal Ini!

7. Saya nggak membentak, tapi melotot, boleh, nggak?

Anak mampu menyerap informasi verbal kira-kira 7% saja. Sementara, komunikasi nonverbal 55% lebih mudah diserap. Jadi ketika orang tua tolak pinggang, acung jari, muka judes dan melotot untuk mengancam anak, secara alami anak-anak belajar bahwa gestur nonverbal tersebut boleh dilakukan. Jangan kaget jika pas sekolah, ia terapkan kepada teman-temannya.

Coba dialog terlebih dahulu sama anak tentang gesture-gesture nonverbal, contoh: “Mama kasih jari seperti ini sebagai tanda mama tidak suka ya, kak.” Jangan asal melotot saja, karena anak akan menangkap kemarahan yang tidak jelas. Jika anak diedukasi tentang gesture tersebut, secara bertahap anak mengerti the whole package dari bagaimana mengelola emosi negatif menjadi lebih positif.

8. Berkonsultasi dengan psikolog, jika diperlukan

Setiap orang punya kapasitas emosi berbeda-beda. Karena itu orangtua wajib punya self-awareness, yaitu kemampuan mengukur kapasitasnya sendiri. Jika merasa bisa dan mampu taking care diri sendiri dan melakukan anger management program sendiri, antara lain, belajar teknik pernapasan yoga, relaksasi diri, dan sebagainya, mungkin tidak perlu berkonsultasi ke psikolog.

Namun jika intensitas marah menjadi lebih sering dan lebih kuat, misalnya dari berteriak menjadi menyakiti anak secara fisik, sudah saatnya mencari bantuan. Berkonsultasi dengan psikolog bisa menjadi pilihan efektif.

9. Stop berteriak, mencubit atau memukul anak, ini bisa mengganggu pertumbuhan otak

Memberi asupan kemarahan, intonasi tinggi seperti berteriak pada anak di usia golden years, mengakibatkan kerusakan saraf otak. Tumbuh kembang saraf otak jadi tidak optimal dan bisa memengaruhi perilaku, memori dan emosi anak. Cukup koreksi anak dan beritahu yang benar. Tidak perlu memarahi anak yang sedang tantrum, karena sesungguhnya mereka sendiri sedang kacau dan kewalahan menghadapi diri sendiri.

10. Lakukan self-regulation bagi orang tua

Saat emosi anak menggelegar, nggak jarang orang tua terdorong ikutan marah. Tapi, sebelum ikutan histeris, lakukan inhale-exhaleJangan terjebak adu emosi dengan anak. Lakukan tips berikut untuk mengendalikan emosi:

Beri ruang pribadi bagi diri sendiri. Saat dilanda emosi negatif, alihkan urusan anak kepada suami agar mommies bisa menenangkan diri. Jika anak juga sedang mengalami emosi negatif, berikan ruang baginya untuk mengekspresikan apa yg dia rasakan.

Belajar mengelola rasa. Saat emosi, tetaplah berusaha bersikap dan berpikir rasional serta memikirkan akibat dari reaksi kita.


Bekerja sama dengan pasangan. Belajar menerima ketika pasangan memberi evaluasi atau feedback tentang cara kita mengasuh anak.

Stop menakuti atau mengancam anak. Melontarkan kata-kata tajam dan pedas juga termasuk mengancam. Anak punya mekanisme mempertahankan diri saat merasa terancam, misalnya marah balik, ngelawan, lari/kabur atau ngambek.

  • Keluarga harus saling back up. Di dalam keluarga, antar anggota harus saling membantu, suami dengan istri, orangtua dengan anak, anak dengan anak. Perasaan-perasaan positif harus dimunculkan sehingga bebas dari emosi negatif yang merusak secara psikologis.

So, bagaimana menurut mommies, scream free parenting: possible?

Baca juga: Kesalahan Orangtua yang Menyebabkan Sibling Rivalry Hingga Anak Dewasa

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top