Now Reading
5 Fakta Tentang Kanker Usus Besar yang Dialami Chadwick Boseman

5 Fakta Tentang Kanker Usus Besar yang Dialami Chadwick Boseman

Salah satu sikap Chadwick Boseman yang patut dikagumi dan bisa jadi pelajaran berharga buat kita adalah, dia nggak berhenti berkarya walau kanker usus sudah menggerogotinya selama empat tahun terakhir. Ini saatnya kita kenal lebih jauh fakta tentang kanker usus besar.

Gone to soon. Ternyata secepat itu dia melegenda. Sesingkat itu pula penggemar Marvel bisa menikmati laga aktor di balik jubah gelap Black Panther. Nggak nyangka ya, saat menggaungkan “Wakanda forever”, bisa jadi aktor bedarah Afrika-Amerika itu lagi menahan rintih akibat kanker usus yang beberapa hari lalu merenggut nyawanya.

Supaya lebih aware tentang kanker usus besar atau bahasa medisnya kanker kolorektal, yuk, gali lebih jauh tentang fakta-faktanya berikut ini.

Bermula dari polip 

Sama seperti jenis kanker lainnya, perjalanan kanker kolorektal dimulai dengan tumbuhnya tumor jinak yang disebut polip, di area usus besar. Pada stadium 0 (nol), atau disebut juga carcinoma in situ, polip hanya ada di lapisan dalam usus besar. Jika polip terdeteksi dini, lebih mudah untuk diangkat dan perkembangan kanker ke stadium lanjut dapat dicegah.

Kanker paling mematikan ketiga di Amerika Serikat

Meski kedengarannya tak sepopuler kanker paru atau kanker payudara, tetapi menurut American Cancer Society (ACS) ternyata kanker usus besar menduduki peringkat ketiga jenis kanker paling mematikan di Amerika Serikat. Di negeri kita sendiri, kanker kolorektal adalah kanker nomor dua yang banyak diidap pria Indonesia setelah kanker paru. Meski risiko pada perempuan cenderung lebih rendah, tapi bukan berarti bebas dari risiko.

Lagi-lagi pola hidup tak sehat salah satu pencetusnya

Pola makan tak sehat seperti terlalu tinggi mengonsumsi daging merah dan makanan berlemak, merokok, minum alkohol, minim konsumsi buah dan sayur, dikombinasi dengan pola hidup malas berolahraga atau minim gerak serta obesitas, adalah sejumlah faktor yang meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Kasus pada kelompok usia dewasa muda cenderung meningkat

Mengutip CNN, pada 1989, penderita penyakit ini didominasi oleh lansia berusia rata-rata 72 tahun. Tahun 2016, rata-rata kelompok usia penderita terus menurun menjadi 66 tahun. Pendeknya, angka kejadian pada lansia semakin sedikit, sementara jumlah kasus pada dewasa muda perlahan meningkat mulai tahun 1990.

Dari laporan ACS, antara tahun 2012 hingga 2016, angka kejadian pada kelompok usia dewasa muda meningkat 2,2 persen setiap tahun. Bahkan, angka kematian pada orang yang berusia di bawah 50 tahun juga meningkat antara 2008 dan 2017. 

Meningkatnya kasus kanker kolorektal pada dewasa muda diduga akibat menjalani pola hidup tak sehat tadi, yang kemudian mengorbankan kesehatan usus.

Bisa disembuhkan!

Kalau bicara tentang kanker, pasti kebanyakan nggak enaknya ya, mommies. Tapi, untungnya, kanker usus besar ini bisa disembuhkan. Syaratnya, ketika sel di usus besar masih berupa polip dan cepat terdeteksi lalu dioperasi, maka nggak sempat berkembang menjadi kanker. Sebaliknya, polip yang tidak ditangani, lama-lama menjadi ganas dan mulai muncul tanda-tanda kanker usus besar.

Langkah pencegahan kanker kolorektal bisa dilakukan dengan deteksi dini, antara lain kolonoskopi minimal 10 tahun sekali, kemudian pemeriksaan colok dubur, cek kadar CEA (pertanda tumor) dalam darah, dan tes feses setahun sekali.

Jadi selain papsmear dan mamografi, mulai masukkan skrining kanker kolorektal dalam jadwal medical check-up tahunan, yuk, mommies!

Baca juga:
Deteksi Dini Kanker Serviks, Ini Bedanya Tes Iva, Pap Smear dan HPV DNA
Kuis: Mitos atau Fakta Seputar Kanker
Kisah 3 Perempuan Berdamai dengan Kanker Payudara

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top