Now Reading
Happy Hipoxia, Gejala Covid-19 yang Tidak Terlihat Namun Sangat Berbahaya

Happy Hipoxia, Gejala Covid-19 yang Tidak Terlihat Namun Sangat Berbahaya

RachelKaloh

Tidak mengalami sesak napas, tidak terganggu, bahkan bisa beraktivitas, padahal, kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah.

Rasanya nggak habis-habis pemberitaan tentang Covid-19 ini, bahkan kian menakutkan. Beberapa waktu lalu ada berita banyaknya jumlah orang yang ketika melakukan “swab test” atau tes PCR swab pertama kali dinyatakan false negative, namun ketika menjalani tes ulang, ternyata positif.

Sehingga wajar kalau sekarang, bukan hanya pemerintah dan pihak medis saja yang kewalahan, namun juga para ilmuwan yang terus melakukan studi terhadap virus mematikan ini, karena gejala yang ditimbulkan memang sangat beragam. Salah satu yang juga membingungkan adalah happy hypoxia syndrome, kondisi di mana seseorang tidak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen di dalam tubuhnya sangat rendah. 

Sangat membingungkan karena bertentangan dengan konsep biologi dasar

Berawal dari studi Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru serta seorang profesor dari Loyola University Chicago Strich School of Medicine, melalui tulisan dan risetnya berjudul Why COVID-19 Silent Hypoxemia is Baffling to Physicians yang dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Dikutip Science Daily, Tobin mengatakan bahwa kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar.

Dalam beberapa kasus, pasien malah merasa nyaman, tidak terganggu sama sekali, bahkan bisa beraktivitas seperti menggunakan telepon saat dokter hendak memasukkan selang pernapasan dan menghubungkannya dengan ventilator mekanis. Padahal dalam tingkatan yang parah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa. 

Tingkat oksigen rendah, namun tidak sesak napas

Studi ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah hingga 50%, namun tidak mengalami sesak napas. Tingkat saturasi oksigen normal dalam darah adalah 95-100%. Level kadar oksigen dalam tubuh pasien diperiksa lebih dulu dengan pulse oximeter.

Bahkan lebih dari separuh pasien memiliki kadar karbondioksida yang rendah di dalam tubuhnya, hal inilah yang mungkin mengurangi dampak dan gejala pada pasien. Hasilnya, semua pasien ini mengalami yang namanya happy hipoxia.

Apa sebetulnya Happy Hipoxia Syndrome?

Happy hypoxia syndrome dikenal pula dengan istilah “Silent Hypoxemia”. Hipoksemia sendiri adalah penurunan kadar oksigen dalam darah. Kondisi ini jelas bisa mengancam nyawa.

Seperti yang kita tahu selama ini, Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi ini bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap oleh paru-paru. 

Hipoksemia umumnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pernapasan, seperti asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Hipoksemia juga terkadang dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan dan bayi prematur. 

Orang yang mengalami hipoksemia umumnya akan menunjukkan beberapa gejala seperti sesak napas, batuk atau mengi, sakit kepala, detak jantung cepat, merasa bingung, serta kulit, bibir dan kuku yang membiru.

Kondisi kesehatan bisa menurun dengan sedikit tanda bahkan tidak sama sekali

Memang hingga saat ini belum ada kriteria khusus yang dapat menandai seseorang berisiko lebih tinggi terkena happy hipoxia. Dokter ahli paru intervensi Dr. Udit Chadda mengatakan bahwa happy hipoxia hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan kadar oksigen dalam tubuh menggunakan pulse oximeter.

Namun demikian, dr. Chadda mengingatkan bahwa masyarakat umum tetap wajib untuk selalu waspada dengan meningkatkan upaya pencegahan Covid-19 karena kondisi kesehatan bisa menurun dengan memperlihatkan sedikit tanda bahkan tidak sama sekali. 

Sumber: DetikHealth, CNNIndonesia

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top