Now Reading
Bu Tedjo dan Sembilan Fakta tentang Gosip

Bu Tedjo dan Sembilan Fakta tentang Gosip

Ada apa di balik demam viral Bu Tedjo?

Mendadak WAG saya, semua dipenuhi obrolan tentang Bu Tedjo. Aneh aja, karena biasanya karakter obrolannya beda-beda, tetiba Bu Tedjo menyatukan semua orang, dari beragam minat dan kalangan.

Karakter di film pendek Tilik besutan Wahyu Agung Prasetyo ini digambarkan sebagai biang gosip (bigos), nggak berhenti kasak-kusuk, mengumpulkan informasi tentang orang lain sebanyak mungkin untuk dicari-cari keburukannya.

Alis yang terangkat, bibir yang mencong-mencong, gerakan bola mata ke kanan kiri, intonasi suara yang meyakinkan, lengkap sudah personifikasi seorang bigos. Kita suka sinis pada sosoknya. “Ah, temenku mah nggak ada yang kayak gitu.” Padahal, mungkin nggak seekstrem itu sih, tapi kita sering ngomongin gosip kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun.

Benci tapi rindu, begitulah kira-kira hubungan kita dengan orang-orang seperti Bu Tedjo. Tidak hanya itu, ada beberapa hal yang saya amati, kenapa Bu Tedjo bisa menjadi fenomenal, dan serba-serbi menarik seputar gosip.

Bu Tedjo adalah kita. Jika diibaratkan Mansoul atau jiwa kita itu seperti sebuah negara, di situ ada bermacam karakter rakyat. Nah, Bu Tedjo ini adalah rakyat yang selalu ‘berisik’ ingin mendominasi. Di dalam diri kita (semua orang), terdapat sisi Bu Tedjo; yang haus gosip, dan hobi menyebarkannya. Kita benci pada sosoknya, karena itu membelejeti sisi terdalam kita.

Bu Tedjo sang pemersatu. Kalau nggak ada sosok seperti Bu Tedjo, yang suka kasak-kusuk, obrolan di grup jadi nggak rame. Nggak ada sahut-sahutan. Serius macam di klub buku yang semuanya faedah, hahaha….Artinya, dalam kadar tertentu, gosip itu dibutuhkan untuk seru-seruan, playfulness, dan sarana menjalin kedekatan sesama member.   

Tiada hari tanpa gosip. Menurut sebuah riset meta-analysis yang dipublikasikan di Jurnal Psikologi Sosial, mengungkap, setiap hari, rata-rata 52 menit, kita membicarakan tentang orang lain yang sosoknya tidak ada di depan kita.

Mempererat kedekatan. Menurut sebuah artikel terbaru di The Economist, berjudul, Nothing to Speak of: The Horror of a World Without Gossip, sejak zaman purbakala pun, bergosip sudah menjadi sarana komunikasi, manusia purba mengembangkan tutur kata, sebagai sarana untuk mempererat ikatan kelompok. Saat masuk ke lingkungan baru, gosip membantu kita untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan tersebut: siapa yang baru, siapa yang pindah, siapa yang paling dihormati, siapa yang berbahaya.

Ujian pertemanan. Saat kita bergosip dengan seorang kenalan baru, sebetulnya kita sedang melewati ujian, apakah orang ini bisa dipercaya. Jika ia menyampaikan informasi yang masuk ranah pribadi, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain, berarti, bagi dia, kita sudah dianggap sebagai orang terpercaya. Dan, jika hubungan itu timbal balik, maka level kedekatan kita dengan kenalan tersebut naik menjadi setingkat lebih dekat.

Belajar norma sosial. Cara paling cepat untuk tahu bahwa satu perilaku itu buruk dan terlarang, salah satunya dari gosip. Misalnya, orang yang digosipkan telah melanggar norma, maka dari situ kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. 

Bu Tedjo versi dunia maya. Bu Tedjo di dunia maya mengalami perubahan bentuk, bukan lagi personifikasi seperti di film Tilik itu. Sekarang, kita mendapatkan gosip dengan begitu gampangnya. Tidak perlu nguber-uber orang seperti Bu Tedjo buat tahu kabar burung. Misalnya, lewat akun seperti IG Lambe Turah, yang kadang komennya lebih seru daripada beritanya itu sendiri. Kalau di Twitter, seperti akun-akun anonim yang suka share skandal-skandal politikus (dan selebtwit). Ngeri-ngeri sedap. Bisik-bisik sudah berubah menjadi rahasia umum, karena bisa diakses siapa pun. Lalu, kalau ingin tahu update orang, kita tinggal cek stories-nya (FB dan IG), si orang yang bersangkutan sendiri yang membuka diri, wkwkwkwk…Jadi, ngapain repot-repot diomongin. Seperti kabar Oscar Lawalata, misalnya, langsung dari sumbernya, buka suara di kanal Youtube. Nggak perlu lagi kasak-kusuk, deh!

Gosip yang bisa jadi api. Gosip, kalau untuk seru-seruan aja sih masih oke. Tapi, kalau sudah sampai meyakini sebagai kebenaran, itu yang berbahaya. Bisa fitnah, jatuhnya lebih kejam dari pembunuhan. Seperti api yang membakar kayu. Belajar dari Socrates, dalam menyaring suatu informasi, ada tiga saringan, atau yang disebut sebagai Triple Filter. Pertama, filter kebenaran. Tanyakan pada si pembawa info, “Apakah kamu melihatnya secara langsung?” Filter kedua adalah filter kebaikan. “Apakah itu tentang kebaikannya?” Dan, filter ketiga, adalah filter faedah. “Pernyataan Anda tentang si A, apakah itu akan berguna buat saya?”

Gosip menentukan level pribadi kita. Seperti kata Eleanor Roosevelt, yang quote-nya ngetren di Pinterest: “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people.” Di mana posisi kita? Jadi, kalau kita ingin masuk ke level yang ‘great minds’, ya, kita perlu menempatkan diri kita di lingkar teman-teman yang juga penyuka great minds.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top