Now Reading
Munculnya Klaster Sekolah, Bukti Bahwa PJJ Lebih Aman?

Munculnya Klaster Sekolah, Bukti Bahwa PJJ Lebih Aman?

Risiko yang ditakutkan ketika sekolah kembali dibuka saat kurva covid-19 belum landai, kini terjadi. Bermunculan klaster sekolah di mana-mana.

Saya yakin, saat pemerintah mengambil kebijakan membuka sekolah di zona hijau dan kuning, bukan tanpa pertimbangan. Pasti plus-minusnya sudah dihitung, alasannya logis dan objektif, risikonya juga sudah dikalkulasi. Semuanya digodok menjadi keputusan yang dianggap bisa mengatasi berbagai kendala kompleks PJJ.

Tapi, namanya juga risiko, artinya tetap ada konsekuensi dari keputusan yang diambil. Pun protokol kesehatan dan prosedur new normal di sekolah sudah diberlakukan dengan cermat, ternyata transmisi virus dari perjalanan ke sekolah (atau sebaliknya), dan paparan dari anggota keluarga, sulit dihindari.

Baca juga:

Sekolah di Zona Kuning dibuka, Apa yang Harus Kita Perhatikan?

Klaster Sekolah Bermunculan - Mommies Daily

Klaster sekolah Corona, benarkah?

Sejak Kemendikbud mengeluarkan izin membuka sekolah sekitar Juni lalu hingga artikel ini ditulis, menurut data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), tercatat ada 181 kasus positif yang menginfeksi guru dan siswa di beberapa sekolah dan pesantren di Indonesia. Paling banyak antara lain di Balikpapan, Kabupaten Palti, Ponorogo dan Magetan.Sebut saja beberapa di antaranya:

– Sebuah SMP Negeri di Cirebon terpaksa ditutup kembali setelah satu siswanya dinyatakan positif.
– Dua siswa SD di Sumedang.
– Seorang siswa di sekolah yang berlokasi di Tulungagung, Malang, menulari 5 siswa lainnya dan dua orang guru.
– Seorang siswa di Tegal ternyata positif dan membuat semua guru serta teman-teman sekolahnya harus dites SWAB.
– 26 siswa di pondok pesantren daerah Pati dinyatakan positif.
– Di Kalimantan Barat terdapat 14 siswa dan 8 guru terkonfirmasi positif.
– Hingga Papua ada 289 anak usia sekolah terpapar virus Corona.

Melongok klaster sekolah di negara lain

Sementara di Korea Selatan, dilansir dari BBC, pemerintahnya menutup kembali lebih dari 200 sekolah beberapa hari saja pasca sekolah dibuka karena kasus positif kembali melonjak Mei lalu.

Di Eropa, Perancis dan Belanda juga melakukan hal yang sama ketika kasus positif bertambah dan ada guru yang terinfeksi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas di sekolah.

Beberapa hari lalu di Jepang, di sebuah SMU Kota Matsui, 91 siswa terinfeksi virus corona yang sebagian besar tinggal di asrama. Ini adalah klaster terbesar yang pernah terjadi di sekolah di Jepang, dan sedang ditelusuri lebih lanjut dampak penyebarannya.

Sebuah kampus di Australia Selatan juga ditutup saat diketahui ada yang terinfeksi virus dan berhasil mengidentifikasi 70 orang kontak dekatnya yang berisiko tertular juga.

Baca juga:

Anak Cuti Sekolah Saat PJJ, Begini Pro Kontra Orangtua

Bangun infrastruktur agar PJJ lancar

Sebenarnya, langkah membuka sekolah ditempuh untuk mencegah efek berat PJJ pada anak, yaitu ancaman putus sekolah, penurunan capaian belajar, stres akibat terlalu lama di rumah, kekerasan pada anak di rumah, dan eksploitasi anak.

Namun, menurut saya pribadi, meski sangat menantang, metode PJJ saat ini rasanya pilihan paling aman untuk kesehatan anak, sekaligus bisa memutus rantai corona di lingkungan sekolah.

Ada baiknya pemerintah mengaji ulang kebijakan bersekolah tatap muka dan mulai merencanakan pembangunan infrastruktur seperti jaringan internet dan pengadaan fasilitas agar PJJ bisa berjalan lancar terutama di daerah pelosok. Sebab kita belum tahu kapan corona berakhir, jadi anggap saja masih akan PJJ dalam jangka waktu lama. Bagaimana menurut, mommies?

Baca juga:

Kembangkan Kemampuan Sosial pada Anak Selama Social Distancing

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top