Now Reading
Selamat Merayakan Lebaran yang Berbeda

Selamat Merayakan Lebaran yang Berbeda

Mommies Daily

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Makna baru berhari raya di masa Covid-19, memikirkan ulang hubungan dengan orang lain dan belajar melihat kekurangan diri.

Di penghujung bulan Ramadhan, warga muslim bersukacita menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Perayaan yang menyatukan kita pada keluarga, pada komunitas, dan orang-orang yang kita kenal. Perayaan yang selama ini bermakna kebersamaan. Salat Id beramai-ramai, silaturahmi keliling, halal bi halal, reuni, menyatukan kembali orang-orang yang selama ini tak bisa kita temui. Setiap Lebaran, saya selalu merasa menjadi sosok yang baru. Saya selalu merasa mendapat suntikan energi baru, dari keterhubungan kembali dengan orang-orang yang pernah mengisi hidup saya. Saya seperti menemukan kembali kepingan diri saya di sana. Saya jadi merenungi, apa yang terjadi ketika inti dari perayaan itu sekarang tak bisa kita dapatkan?

Memikirkan ulang hubungan dengan orang lain

Di tahun ini, kita sudah menghabiskan bulan puasa dalam isolasi, dilanjut hari raya, dan hari-hari yang entah sampai kapan. Di saat fisik kita dibatasi, tak bisa kemana-mana, saya jadi memikirkan tentang keterhubungan. Selama ini, dengan keluarga dan teman-teman yang jauh, saya tak terlalu rajin berkomunikasi. Bisa jadi, karena saya menganggap, toh, nanti Lebaran pasti akan ketemu. Ngobrolnya bisa nanti pas meetup atau reuni saja. Itu juga yang saya jadikan alasan. Tapi, ujung-ujungnya, saat ketemuan mereka dalam suasana silaturahmi pun, biasanya tak banyak yang diceritakan. Ada keterbatasan waktu dan emosi yang sudah terlanjur berjarak.

Sekarang, saat ketemu pun tidak memungkinkan, saya harus memikirkan ulang tentang hubungan saya dengan mereka. Saya jadi rajin tanyain kabar di WA. Beberapa bahkan ngobrol panjang lebar di telepon. Semakin saya berusaha mendekat, mereka akan semakin membuka diri dan mendekat.

Seharusnya, dengan adanya teknologi, tidak ada alasan buat saya menunda-nunda silaturahmi, nanti kalau ketemu. Akun FB, nomor WA, semua bisa dicari (asal ada kemauan). Buktinya, sejak masa korona ini, saya punya komunitas yoga streaming rutin, yang membuat saya jadi lebih terhubung dengan teman-teman pecinta yoga senusantara.

Waktunya Banyak Belajar

Patut disyukuri, sisi positif dari pandemi ini adalah ramainya kanal belajar agama secara virtual. Ketika masjid-masjid ditutup, para pemuka agama berlomba-lomba untuk membuka pengajian virtual. Baru Ramadhan kali ini, saya tahu ada banyak podcast belajar agama yang bisa diikuti. Saya bahkan bisa lebih leluasa memilih, tokoh yang mana yang ingin saya gali ilmunya. Jika selama ini, kesempatan itu terbatas sekali, karena masjid yang dekat dengan rumah, belum tentu menghadirkan penceramah yang saya harapkan. Sekarang, saya punya ketertarikan baru untuk mempelajari sufisme dan spiritualitas. Di media sosial pun bertebaran, orang-orang yang berbagi buku dan pencerahan. Hal yang membanggakan. Saya percaya, selalu ada yang menyalakan terang, bagi orang-orang yang sedang mencari cahaya.

Makna Lebaran #dirumahaja - Mommies Daily

Melihat Kekurangan Diri

Keindahan bulan Ramadhan selama masa isolasi ini adalah memberi saya kesempatan untuk lebih meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Tuhan. Banyaknya bencana dan kesedihan adalah saat yang tepat untuk memohon ampunan-Nya, merendahkan diri dan melihat kekurangan kita sendiri, agar kita menjadi orang-orang yang siap saat dipanggil-Nya.

Dalam ujian besar ini, kita tidak sendiri. Tujuh milyar manusia di bumi merasakan hal yang sama dengan yang kita rasakan, apa pun agamanya. Karena itu, kepedulian sosial kita juga terpanggil. Banyak orang lain yang hidup jauh lebih susah dari kita, di dekat kita, maupun mereka yang berada di belahan bumi lain. Idul Fitri ini momen yang tepat untuk banyak berbagi.

Momen Penuh Syukur

Biasanya, di hari Lebaran, kita mengenakan baju baru sebagai ungkapan syukur kita. Sekarang, hal-hal yang bersifat kulit dan permukaan, rasanya tidak menjadi penting. Saya jadi lebih memikirkan esensi.

Perayaan ini mengajak saya untuk lebih melihat ke dalam diri. Ada banyak hal yang saya syukuri, yang membuat saya tumbuh sebagai pribadi. Korona ini juga membuat saya belajar untuk menghargai orang-orang dalam hidup saya, dan hal-hal yang saya miliki.

Saya mungkin tidak dapat bertemu keluarga di luar kota, tetapi setidaknya orangtua saya aman dan sehat-sehat di rumah. Saya dan keluarga di sini juga sehat.

Saya masih memiliki akses ke makanan sehat, punya rumah tempat berteduh dan berkarantina yang nyaman, dan diberi kemampuan untuk amal.

Saya masih bisa mengalami keindahan bulan Ramadhan, yang mungkin tidak akan pernah lagi kita alami di tahun mendatang.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top