Now Reading
Anak Slow Processing Speed Bukan Berarti IQ Rendah

Anak Slow Processing Speed Bukan Berarti IQ Rendah

dewdew

Ketika anak butuh waktu lebih lama dari teman-temannya dalam melakukan tugas sekolah, bisa jadi ia mengalami Slow Processing Speed. Apakah ini?

Hari ini dapat laporan lagi dari sekolah kalau anak masih juga butuh waktu lebih lama dari teman-temannya dalam melakukan tugas-tugas di sekolah. Mulai dari sekadar menanggapi pertanyaan guru, melakukan rutinitas harian hingga menyelesaikan tes. Semua dilakukan dalam waktu yang sangat lama, sehingga menguji kesabaran guru di sekolah. Termasuk kita orangtuanya. Selama di rumah semua orang dibikin gemas, karena semua terasa sangat slow dan kesannya dia tidak mau mendengarkan dengan baik. Jangan buru-buru was-was kalau anak memiliki IQ rendah, karena bisa saja ia mengalami Slow Processing Speed. Wah, apa lagi ini?

Anak Slow Processing Speed Bukan Berarti IQ Rendah - Mommies Daily

Photo by Chinh Le Duc on Unsplash

Tidak berarti IQ rendah

Dr. Lucia R.M. Royanto, M.Si., M.Sp.Ed.Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengatakan, Slow Processing Speed (SPS) merupakan lambatnya kecepatan anak dalam menerima informasi, baik secara visual maupun auditoris, dalam menangkap informasi dan berespon. “Intinya akibat mengalami SPS ini, respon atau kemampuan anak untuk menyelesaikan sesuatu cenderung lebih lama,” terang bu Lucia.

Jangan disamakan dengan IQ rendah, karena pada dasarnya anak dengan SPS tidak memiliki masalah dalam hal intelegensi. Kalau menurut bu Lucia, ketika dites dengan tes intelegensi, kecerdasan mereka baik-baik saja, ada yang di atas rata-rata. Tapi karena seringkali terlambat dalam menyelesaikan tugas, atau misalnya terlalu lama mengerjakan ulangan sehingga tidak selesai, nilai-nilainya pun cenderung rendah. Memang bikin bingung, sih, kesannya ‘lemot’ tapi ketika ditanya mampu menjawab. Ada lag antara kemampuannya dan prestasinya.

Apa penyebab Slow Processing Speed?

Menurut bu Lucia, penyebab SPS belum ditemukan dengan sebenar-benarnya. Sebuah teori menjelaskan adanya perbedaan dalam pemrosesan di otak anak dikarenakan frontal lobe, yaitu tempat untuk memproses keterampilan eksekutif lebih kecil, tapi ada pula teori lain yang mengatakan bahwa myelin yang ada di situ yang lebih sedikit. Intinya, ditinjau dari teori pemrosesan informasi, anak-anak dengan slow processing speed memiliki masalah dalam fungsi eksekutifnya, misalnya dalam mengorganisasi pikiran, memfokuskan pikiran, termasuk mengingat maupun mengolah informasi yang diperolehnya.

Apa pengaruhnya terhadap proses pembelajaran?

Kalau dalam proses, anak dengan SPS terkesan lamban. Terutama dalam mengerjakan tugas harian, ujian, bahkan PR. Ia juga lambat memahami bacaan. Intinya ia lambat dalam tugas-tugas yang melibatkan pemrosesan visual, pemrosesan auditoris dan kecepatan gerakan motorik. Orangtua dan guru menjadi sering bingung ketika semua berjalan dengan lamban, namun ketika ditanya ia mampu menjawab dan mengerti apa yang diterangkan oleh guru. Ini yang kemudian sebaiknya diwaspadai dan ditelaah lebih lanjut.

Kalau sudah begini, orangtua dan guru sebaiknya aktif bekerjasama. Bawa anak konsultasi dengan psikolog perkembangan, karena untuk mengukuhkan adanya SPS diperlukan tes-tes oleh psikolog. Pada dasarnya, anak dengan SPS tidaklah bodoh dan bisa diberikan beberapa kondisi agar tumbuh kembangnya optimal.

Apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak SPS?

Pertama, jangan langsung memberikan stigma, dan hindari menggunakan istilah yang membuat percaya dirinya menurun macam lemot, lola (loading lama), dan lain-lain.

Ketika kita sudah berkonsultasi dengan psikolog dan SPS sudah dikukuhkan, orangtua harus bekerjasama dengan guru untuk screening dan mengidentifikasi mendalam mengenai kondisi anak, di mana, sih,kelebihannya? Apa kekurangannya? Dari situ kita bisa membantu anak SPS dengan:

– Memberikan waktu yang lebih lama dalam melaksanakan tugas.
– Memecah-mecah tugasnya menjadi lebih kecil dan meminta anak mengerjakannya sedikit demi sedikit, tidak banyak sekaligus.
– Mengurangi tugas yang diberikan jika diperlukan
– Mengingatkan kembali anak mengenai prosedur dalam pengerjaan tugas.
– Mengajarkan anak untuk membuat perencanaan
– Mengurangi distraksi

Berdasarkan kelebihan dan kekurangannya itu, bisa jadi ada kompromi-kompromi yang harus dilakukan seperti membolehkan anak mengerjakan dengan cara yang berbeda. Contohnya, jika masalahnya lebih banyak dalam menulis, ia boleh menggunakan laptop untuk mencatat. Atau misalnya ia diizinkan menggunakan kalkulator jika masalahnya cenderung lambat dalam memproses hitungan.

Bisa nggak, sih, anak SPS sekolah di sekolah biasa?

Berhubung SPS tidak berkaitan gangguan tumbuh kembang, maka sangat bisa bersekolah di sekolah biasa. Yang diperlukan hanyalah kejelian guru serta kerjasama dengan orangtua dalam menemukan kekurangan anak. Kalau sudah terdeteksi masalahnya, bisa dibuat strategi-strategi khusus agar anak tetap bisa optimal dalam proses belajar.

Memang harus hati-hati, sih, karena SPS cenderung lama dideteksi. Jika terlambat dideteksi bisa bikin stigma terhadap anak yang berkepanjangan. Orangtua dan guru perlu membesarkan hati anak SPS, karena kalau terjadi kegagalan yang berulang akan dapat merendahkan kepercayaan dirinya.

Baca juga:

Anak Sekolah Butuh 5 Hal Sederhana Ini dari Orangtua Agar Tidak Stress

Perilaku Anak SD yang Butuh Perhatian Lebih

Latih Anak Berpikir Kritis dengan 5 Cara Ini!

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top