Neysa Oktanina: Tentang Keputusan Resign dan Tips Berkarya dari Rumah

Dari ibu bekerja penuh waktu menjadi ibu bekerja dari rumah, tentu akan ada kesulitan dan tantangannya. Simak obrolan saya bersama Neysa yuk!

Neysa Oktanina atau lebih dikenal dengan @neysanina di Instagram memutuskan resign setelah 6 tahun berkarier. Ibu dari Kiandra (3 tahun) ini menyatakan, keputusan resign bukan keputusan yang dibuatnya dalam semalam. Apa yang membuatnya yakin? Bagaimana ia membagi waktu sebagai work at home mom? Dan yang terakhir, apa tipsnya untuk ibu-ibu yang tetap ingin bisa berdaya dari rumah?

Processed with VSCO with a6 preset

Hai Neysa, cerita dong, gimana awalnya bisa sharing di Instagram?

Hello! Aku main Instagram sudah sejak tahun 2012. Selama 8 tahun itupun niche-nya bertransformasi, tapi yang nggak pernah berubah dari dulu ya fashion. Karena memang aku punya passion di fashion sejak SMP. Terus waktu aku mempersiapkan pernikahan, aku punya akun @myweddingprep yang surprisingly difollow banyak orang, padahal waktu itu niatnya cuma mau bikin akun untuk nyimpen inspirasi buat nikahan sendiri.

Turns out jadi referensi online buat sesama bride-to-be. Saat ini, aku banyak sharing soal motherhood journey sejak hamil dan punya anak. Juga membahas soal rumah sejak aku punya rumah sendiri. Menurutku ‘main’ Instagram itu kuncinya give and take. Aku dapat banyak ilmu, networking, pertemanan dari sini, maka aku harus balas ‘memberi’ juga dari apa yang aku punya.

Cerita dong apa yang mendasari keputusan resign kamu setelah 6 tahun berkarier? Apa trigger terbesarnya?

Keputusan untuk resign tentu bukan keputusan yang dibuat dalam semalam. Berkali-kali sebetulnya aku sudah berada di titik ingin resign, tapi belum kejadian juga. Dulu saat kehamilanku nggak smooth, lalu saat anakku nyaris gizi buruk, saat anakku udah bisa minta mamanya nggak kerja, plus meaning dari pekerjaan itu sendiri. Banyak faktor yang mendasari keputusanku untuk resign.

Jangan melihat dari faktor pendorongnya saja. Kita juga harus mempertimbangkan faktor penghambat yang ada. Berat mana, faktor pendorong atau penghambatnya? Yang paling sulit itu adalah menentukan moment yang tepat, karena keputusan resign itu kan kita yang menciptakan sendiri. Konsekuensinya pun kita yang akan tanggung, jadi memang keputusan ini berat dan menakutkan.

neysa_oktanina-jakarta-s1_52

Apa yang membuat kamu yakin kalau kamu bisa akan tetap berkarya dari rumah?

Sifat alami manusia itu nggak suka akan sesuatu yang tidak pasti. Makanya kadang kita memilih untuk bertahan dengan sesuatu yang jelas-jelas tidak baik untuk kita, ketimbang memilih sesuatu yang belum pasti, padahal mungkin akan membuat kita lebih baik. Sejak kepikiran untuk resign, aku mulai me-list down rencana kegiatan apa aja yang bisa aku kerjakan jika aku tidak lagi bekerja di kantor. Apa passionku yang mungkin bisa dijadikan basis untuk memulai usaha.

Yang terpenting juga, restu dari suami harus dikantongin dulu. Sebagai satu tim kita harus realistis, mampu nggak kapal kita terus berlayar jika istri berhenti bekerja (kantoran). Jangan sampai oleng nantinya, harus benar-benar siap secara finansial juga sebelum memutuskan resign.

Apa yang berubah drastis dari hari-hari kamu setelah jadi work at home mom?

Karena hampir semua pekerjaan dilakukan di rumah, ada kemungkinan kita cepat merasa bosan berada di rumah terus. Distraksi juga lebih banyak daripada bekerja di kantor. Kerja di kantor is harder on my heart, but being a WAHM is harder on my sanity! Hahaha makanya kebutuhan me-time untuk ibu-ibu yang banyak di rumah itu benar adanya!

Selain mengurus anak, aku mengelola curated shop @mamas.approved, juga menjadi content creator untuk berbagai brand. Melakukan pekerjaan yang aku suka, sudah jadi me time mujarab buatku.

neysa_oktanina-jakarta-s1_36

Work at home pasti lebih challenging dong ya dibanding jadi working mom. Gimana cara kamu bagi waktunya?

Ternyata salah satu survival kit yang sangat dibutuhkan WAHM adalah time management. Menurutku time management ini emang nggak ada sekolahnya, tapi fortunately udah terbiasa me-manage beberapa project sekaligus dalam 1 waktu saat di kantor, jadi bekal yang sangat berharga saat ini. Aku terbiasa membuat agenda mingguan dan harian, dan memanfaatkan waktu saat anak sekolah dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan semua tugas.

Apa kekhawatiran terbesar selama jadi ibu?

Takut nggak mengusahakan yang terbaik yang aku bisa. Salah satunya adalah soal tumbuh kembang anak, karena tumkem anakku memang challenging dari dulu.

Bagaimana dukungan suami pada karier? Gimana suami terlibat dalam pengasuhan anak?

Suamiku mendukung aku resign dari kantor. Karena dia orangnya sangat logical, yang pertama dia pikirkan ya kesiapan finansial. Alhamdulillah setelah dihitung bareng-bareng, konsultasi dengan seorang financial planner, kami mantap melangkah. Dia pun sekarang merasakan manfaat aku lebih banyak di rumah. Banyak pekerjaan yang tadinya nggak ke-handle jadi bisa diurus.

Kalau untuk pengasuhan anak, tadinya bisa dibilang 50:50 karena kami sama-sama bekerja. Kalau sekarang peran pengasuhan otomatis lebih besar di aku. Tapi kalau suami pas di rumah, ya kembali lagi pengasuhan kita berdua berimbang. Karena basically suamiku itu bisa melakukan segala peran orang tua dengan sangat baik, masak, mandiin, nyuapin, literally semua selain hamil dan menyusui :P

neysa_oktanina-jakarta-s1_143

Punya pesan kah untuk ibu-ibu yang lagi galau pengen resign dan ingin berdaya dari rumah?

Tetap semangat untuk semua working mamas! Untuk yang passionate jadi working mama, kejar passion dan make the best version of yourself! Untuk working mama yang masih harus bekerja karena keadaan, semoga segala letih dan pengorbanan kalian jadi ladang pahala dan berkah untuk keluarga.

Sebelum memutuskan resign, pastikan siap secara finansial dan punya plan kegiatan. Belajar mencintai apapun yang semesta berikan untukmu, karena yakinlah ada banyak orang yang ingin berada di posisimu saat ini.


Post Comment