Hal yang Baru Saya Sadari Setelah Bersama Anak dan Suami 24 Jam Saat #dirumahaja

Saya adalah ibu bekerja yang tidak pernah bersama anak 24 jam penuh selama beberapa hari kecuali saat liburan. Sejak usianya 3 bulan, sebelum ia masuk daycare dan saya hanya menemuinya di pagi, malam, serta akhir pekan.

#dirumahaja ini seperti liburan yang terlalu panjang. Tahu kan repotnya ibu saat liburan? Repot sekali, dari urusan makan seluruh keluarga sampai itinerary, dibuat oleh ibu. Ya ibu yang senang mengatur seperti saya sih.

RUMAH

Tapi sungguh, liburan 4 hari saja buat saya sudah terlalu lama. Senang karena mengunjungi tempat baru, tapi lelah luar biasa. Terakhir kami liburan 4 hari penuh, saya meluangkan waktu seharian di hotel sementara suami dan anak jalan-jalan berdua, menonton pertunjukkan yang mereka sukai.

Saya, bukan ibu dan istri yang memang senang berlama-lama sebagai ibu dan istri. Saya juga diri saya sendiri. Saya butuh diingatkan akan hal itu, maka saya bekerja, saya berkarya.

Well, ada orang-orang yang lebih menyukai perannya sebagai istri dan ibu. Yang memang menikmati perannya sepenuh hati. Ya tidak apa-apa juga.

Tapi bagi saya, ini hal baru. 11 hari belakangan, saya diam di rumah dan tidak melangkahkan kaki satu centimeter pun keluar pintu. Hanya menghirup udara luar lewat balkon apartemen, berjemur lewat jendela kamar yang memang terpapar matahari pagi setiap hari.

Saya bersama suami dan anak 24 jam. Mau tidak mau, saya juga istri dan ibu. Ditambah saya masih full time bekerja. Saya yang merencanakan makanan, saya yang menyiapkan jadwal agar anak tak terlalu lama screen time. Saya yang menentukan itinerary #dirumahaja yang entah akan berlangsung sampai kapan.

Saya masih tetap tidak suka sepenuhnya jadi istri dan ibu, saya merindukan me time, saya merindukan pergi sendirian. Satu pagi saya cuma menangis sesenggukan karena merasa hilang. Saya sadar satu hal.

Setelah menangis itu saya sempatkan mengobrol dengan diri sendiri, bertanya pada hati saya sendiri: Di saat seperti ini, saat semua rasanya tidak pasti, saat dunia seperti tidak aman, apa saya keberatan ditempeli anak 24 jam? Ternyata tidak.

Apa saya keberatan ia bersandar di sisi saya saat saya sibuk bekerja dan ia sibuk dengan YouTube Kids-nya? Ternyata tidak. Apa saya merasa terganggu ketika saya yoga dan dia ikut tiduran di mat? Biasanya saya usir tapi 11 hari terakhir ini tidak. Apa salahnya yoga sambil berpelukan?

Apa saya terganggu mengingat sekarang kami harus masak dulu untuk bisa makan demi mengurangi interaksi dengan orang luar? Tidak. Apa saya stres karena tidak keluar rumah selama 11 hari penuh? Ya, tapi perasaan ini masih bisa dialihkan dengan rasa syukur bahwa setidaknya saya dan suami akur sehingga tak keberatan harus bersama sepanjang waktu. Bahwa anak saya sudah cukup mandiri sehingga saya tak sibuk memandikan atau menyuapinya makan.

Apa saya keberatan lebih banyak mengobrol dengan suami secara langsung jadi lebih banyak dibanding hari-hari biasa? Ternyata tidak. Hari-hari biasa saja bisa belasan kali kami saling menelepon seharian, kini ia ada di depan saya langsung. Ternyata saya tidak keberatan.

Kadang butuh keadaan terpaksa dan tak pasti sebelum kita menyadari bahwa hal-hal yang sebelumnya membuat kita terganggu, ternyata tidak semenyebalkan itu. Kadang butuh sedikit pola pikir yang berbeda untuk menyadari bahwa sejauh apapun saya menghindari dari peran istri dan ibu, saya ternyata sadar penuh bahwa ini pilihan yang saya buat sendiri.

Yang seharusnya dibuat dengan senang hati dan dijalani dengan gembira. Karena saya ternyata tak keberatan harus terjebak bersama mereka berdua entah sampai kapan. Ketika gubernur mengumumkan kondisi tanggap darurat diperpanjang hingga awal April, anak saya berteriak “NOOO, so we stuck together! NOOOO!” sambil tertawa-tawa.

Kalau ia bisa bahagia karena (akhirnya) bisa bersama ibu ayahnya 24 jam? Kenapa saya tidak?


Post Comment