Review Drama Korea “Hi Bye Mama”: Pelajaran Penting tentang Mensyukuri Hidup

Kalau dibilang harus bersyukur pada hidup, rasanya semua sudah tahu ya. Sampai bosan dan sedikit kesal rasanya kalau ada yang menasihati “kamu kurang bersyukur!”.

Saya sudah lama sekali tak menonton K-drama. Terakhir marathon itu saat hamil, 6 tahun yang lalu. Setelah punya anak, nonton drama rasanya membuang terlalu banyak waktu karena pasti fokus kita berubah jadi secepat mungkin menyelesaikan semua episodenya hahahaha.

hi_bye_mama

Sampai saya terjebak klik drama orisinal Netflix “Hi Bye Mama”. Untungnya drama ini masih ongoing, tayang di Korea setiap Sabtu-Minggu sehingga mau tidak mau saya harus menunggu seminggu sekali untuk episode barunya.

Bercerita tentang Cha Yuri, 30 tahun, yang meninggal karena tertabrak mobil. Yuri baru tahu bahwa arwah-arwah itu ternyata gentayangan karena berbagai penyesalan. Ada yang menyesal karena tak bisa menemani anaknya sakit kanker, ada yang menyesal karena meninggalkan anak sehingga si anak harus tumbuh dewasa sebatang kara, ada yang menyesal karena tak bisa lagi hadir ke pernikahan putri kesayangannya. Bagaimana penyesalan yang bunuh diri?

Entah bagaimana, Yuri kembali menjadi manusia! Ia diberi waktu 49 hari untuk menyelesaikan semua penyesalannya. Apa saja yang ia lakukan? Mengingat ia meninggal dalam kondisi hamil besar dan tak pernah bisa memeluk anak kandungnya sendiri?

Layaknya drama Korea lain, Hi Bye Mama sangat mengaduk-aduk perasaan. Kita dibawa langsung bagaimana orang yang meninggal pun sedih luar biasa melihat keluarganya terpuruk. Melihat suami yang tak punya semangat hidup, melihat anak yang tak punya ibu, melihat orangtua yang berusaha tegar namun sebenarnya lumpuh. Belum lagi sahabat-sahabat yang kehilangan teman.

Beruntung sang penulis skenario masih menyelipkan unsur komedi sehingga drama ini tak sepenuhnya depressing. Tapi tetap saja, drama ini tak layak ditonton di tempat umum seperti kereta karena di satu titik kita bisa menangis berurai air mata namun di menit berikutnya bisa dibuat tertawa sendiri. Persis orang gila hahahahaha

Drama ini mengajarkan kita, bahwa semua orang punya hidup yang sangat berharga. Yang harus dinikmati setiap detiknya karena kita tidak tahu kapan hidup ini akan berakhir menyisakan luka bagi mereka yang masih hidup di dunia.

Juga mengingatkan kita definisi egois, tokoh-tokohnya dibuat sangat tidak egois sehingga kita mudah berempati karena hampir tak ada peran antagonis sama sekali. Semua peran adalah orang baik yang kebetulan jadi punya konflik karena satu manusia hidup kembali. Tak ada satu pun peran jahat sehingga sulit sekali menebak jalan ceritanya. Tak sesederhana yang jahat kena batunya dan yang baik akan masuk surga.

Nonton yuk moms! Di Netflix ya, baru sampai episode 9 dari 16 episode!


Post Comment