The Letdown: Kisah Miris Ibu Baru yang Bikin Cekikikan

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Dari mulai urusan bergadang sampai lingkungan yang penuh judgement.

The Letdown - Mommies DailyImage: Netflix

Serial Netflix yang satu ini (siap-siap spoiler, ya) mengisahkan tentang Audrey, seorang ibu baru yang kehidupan sehari-harinya miris banget, tapi nyata banget. Lima menit pertama nonton episode pilot-nya tuh udah langsung kebayang gimana rasanya jadi Audrey.

Banyak banget adegan yang bakalan bikin kita ngomong, “OMG, I really can relate!”:Di-judge karena minum kopi saat masih menyusui; mau ML tapi anak kebangun, gagal ML karena ASI nge-rembes, dan masih banyak lagi.

Setiap episodenya berdurasi 30 menit, menceritakan kehidupan Audrey yang disibukkan dengan tantangan besar menjadi seorang ibu. Dari mulai urusan menyusui, hubungan dengan partner, drama saat join di club parenting, hubungan dengan ibunya, lengkap dengan berbagai aspek yang membuat kisahnya jadi sangat seru dan relatable, apalagi kalau bukan karena lingkungan yang penuh judgement.

Setelah binge-watching less than a week, karena toh hanya 12 episode (lumayan banget buat hiburan pengantar tidur), ada beberapa hal penting dan menarik dari film ini yang bisa diangkat.

1. Kita “masih” punya norma

Setelah nonton 2 season, baru dijelaskan kalau ternyata Audrey dan Jeremy hanya sebatas partner, bukan suami dan istri. Audrey itu seorang yang nggak mau terikat, nggak beragama, bahkan dia melarang Jeremy untuk membaptiskan anak mereka. Meskipun tidak ada jaminan bahwa orang yang menikah itu bisa jadi orangtua yang lebih baik dari yang tidak menikah, but for some reasons, menikah dan memiliki pemahaman yang sama itu buat saya merupakan fondasi yang bisa menjaga keutuhan sebuah keluarga. Untungnya di Indonesia masih menerapkan norma ini, ya. 

2. Ikut kelas Parenting, yakin bisa survive?

Judulnya memang parenting club, harapannya bisa ketemu sesama orangtua bisa diajak sharing seputar parenting, tapi realitanya malah harus berhadapan dengan orang lain yang pandangannya berbeda jauh sama kita, meskipun ada aturan no judging. Buat saya pribadi, hal tersebut bisa bikin nggak nyaman dan membuat seorang ibu jadi rentan linglung, apalagi kalau gaya pengasuhannya dianggap salah. Belum lagi expert yang digambarkan di film ini tuh orangnya ketus, hanya memberi informasi secukupnya, not that friendly. Tapi, hal ini nggak lalu membuat Audrey cabut, tuh, justru pada akhirnya hubungan dia dan teman-temannya sesama ibu malah makin dekat.

3. Hubungan dengan ibu dan mertua

Audrey memiliki ibu yang self-obssesed. Saat anaknya masih bayi, dia nggak pernah bisa menitipkan anaknya sama ibunya. Turns out, mertuanya malah sebaliknya! Namun seiring berjalannya cerita, Audrey pun akhirnya menemukan jawaban kenapa ibunya berlaku demikian. 

Baca juga: Pilihan Me Time Bersama Mertua

4. Harga Daycare dan Pengasuh yang sangat tidak terjangkau

Di film ini nggak ada satupun ibu yang punya pengasuh. Harga daycare aja bisa 90% dari penghasilan. Bersyukurlah kita, karena di Indonesia, kedua hal yang sangat penting dan dibutuhkan ibu ini nggak semahal itu.

5. Ibu dan pilihannya

Sebagai ibu, Audrey menjalani kehidupan yang benar-benar sesuai dengan pilihannya: tidak menikah, pro-choice (setuju dengan aborsi), dan segudang idealisme lainnya. Namun, pilihannya tersebut membuat Audrey sering banget losing control, bahkan ia pun jadi harus menyimpan sebuah luka besar di dalam hatinya.

Baca juga: Memang, Apa yang Salah dengan Menjadi Ibu Rumah Tangga?

But this series is a must watch buat semua ibu, karena cerita Audrey sangat bisa kita jadikan pelajaran. Meskipun pesannya cukup serius, tapi kemasannya komedi. Dijamin bakal ngakak terus!

 


Post Comment