10 Hal yang Kita Butuhkan untuk Tetap Waras

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Saat kita sakit fisik, biasanya orang lain akan bersimpati. Tapi, apa yang terjadi kalau mental kita yang sakit?

Bukannya bersimpati, orang akan menjauh dari kita. Tidak percaya? Apa yang Anda lakukan jika menemukan teman yang menyebalkan: Emosi labil dan ratu drama? “Mending buru-buru menyelamatkan diri, deh. Ha…ha…ha…!”

Kata orang bijak, emosi negatif itu gampang menular. Siapa juga yang mau buang-buang energi untuk meladeni para pencari drama, kan? Orang yang sakit mentalnya, cenderung berperilaku ngeselin ke orang lain. Lihatlah di sekeliling Anda, pasti ada saja orang semacam ini. Jika bukan karena hubungan darah, atau karena satu dan lain hal kita ‘terjebak’ harus selalu berada di dekatnya, barulah kita akan bertahan.

Pernahkah kita berpikir bahwa mereka-mereka yang penyuka drama ini sebetulnya orang-orang yang memiliki ‘gejala’ kesehatan mental?

Tidak seperti mereka yang terkena penyakit kritis -katakanlah kanker- orang cenderung akan bersimpati. Jika penyakitnya terkait kesehatan mental, justru menuai hujatan. Ada banyak contohnya, ketika impuls ‘kegilaan’ itu tak bisa dibendung lagi. Misalnya, orang yang ngamuk saat kena tilang, kelepasan mengucap kata yang menyakiti hati pasangan atau anak. Ekstremnya, sampai melakukan tindak kriminal karena gelap mata. (Amit-amit).

Ada 10 hal yang bisa kita lakukan agar kewarasan kita tetap terjaga.

Dukungan. Manusia adalah makhluk sosial. Kita selalu membutuhkan support dari lingkungan. Bukan tidak mungkin, orang yang paling menjengkelkan sesungguhnya adalah orang yang paling butuh perhatian dari orang lain? Kita tidak pernah tahu dalamnya hati orang-orang yang kita temui. Bisa jadi, salah satu dari mereka adalah orang yang lemah jiwanya. Kita bisa turut membantu mereka, sesederhana dengan memberi senyuman pada orang lain.

Istirahat yang cukup. Katanya, waktu tidur untuk dewasa minimal 6-8 jam. Remaja dan anak-anak tentu butuh waktu istirahat lebih lama lagi. Tidur malam tidak bisa digantikan dengan apa pun. Tidur adalah obat dari banyak penyakit fisik, karena lewat tidur tubuh kita melakukan proses self-healing. Kurang tidur memengaruhi kondisi psikologis dan kesehatan mental Anda. Dan mereka yang memiliki masalah kesehatan mental lebih cenderung mengalami insomnia atau gangguan tidur lainnya.

Pengendalian diri. Kemampuan seseorang untuk mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Keterampilan pengendalian diri seseorang akan sangat teruji ketika seseorang menghadapi masalah atau tantangan. Hal-hal seperti, penyadaran diri ketika sedang marah, menangkap pikiran negatif, menetapkan batasan yang sehat, dan sebagainya.

Hubungan yang sehat. Terutama dengan orang-orang terdekat kita, pasangan, anak, keluarga, sahabat.
Belas kasih pada diri sendiri. Teorinya mudah. Praktiknya, belum tentu. Ketika kita masih terpaku untuk mengejar standar-standar yang ditetapkan oleh orang lain, artinya kita belum berbelas kasih pada diri kita sendiri.

Spiritualitas. Pengalaman keterhubungan dengan Sang Pencipta. Tidak selalu lewat ritual agama. Bisa jadi kita begitu tersentuh saat mendengar musik tertentu, saat pergi ke suatu tempat, atau saat melihat keindahan alam yang luar biasa, semua itu merupakan pengalaman spiritual yang memperkaya batin.

Self-care atau perawatan diri. Tidak harus mahal, ke spa, atau belanja produk-produk perawatan untuk penampilan. Yang Anda perlukan adalah meluangkan waktu untuk itu. Bermeditasi selama 10 menit, membaca buku bagus, ataupun kunjungan untuk medical checkup, termasuk dalam perawatan diri. Bukan hanya penampilan, fisik, tapi juga ‘investasi’ untuk jiwa.

Humor. Baca status teman di Facebook, lalu baper berkepanjangan padahal belum tentu juga dia menyindir kita. Why so serious? Lihatlah segala sesuatu dengan kacamata ‘dagelan’ tidak akan membuat tensi Anda naik.

Empati. Sebelum menyinyiri orang lain, cobalah untuk merasakan ada di posisi orang itu.

Harapan. Ibarat piramida Abraham Maslow, dalam kesehatan mental, piramida tertinggi adalah harapan. Di saat kita sedang melewati titik nadir, ingatlah selalu bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Setiap badai pasti akan berlalu. Setiap masalah yang datang pada kita, akan menjadi ujian yang membuat kita naik kelas.

Baca juga:
Agar Anak Tumbuh dengan Mental yang Sehat
Kenapa Kesehatan Mental Begitu Penting untuk Jadi Orangtua yang Lebih Baik
9 Tanda Kita Terlalu Lama Mengabaikan Kesehatan Mental


Post Comment