Membiasakan Perilaku Baik Untuk Anak Usia 5 – 8 Tahun

Karena anak adalah makhluk visual dan audio, meniru apa yang mereka lihat dan dengar Kalau mau mereka punya perilaku baik, ya dari kitanya dulu membiasakan lima hal ini.

 Membiasakan Perilaku Baik Untuk Anak Usia 5 - 8 Tahun - Mommies DailyPhoto by Hisu lee on Unsplash

Ketika anak menolak minta maaf saat ia salah, cenderung melakukan apa yang dia mau, berperilaku tidak sopan di tempat umum, ujung-ujungnya selalu ada pertanyaan, “Nggak diajarin, ya, sama ibunya di rumah?” Kita lagi, kita lagi yang kena! :D

Tak perlu sewot dulu. Walau standar tingkat kesopanan dan perilaku baik setiap orang itu berbeda, dan kita juga tak mungkin memuaskan semua orang, paling tidak kita bisa membiasakan anak untuk berperilaku baik sesuai dengan norma yang berlaku. 

Lalu bagaimana cara kita mendorong atau membiasakan anak usia 5 – 8 tahun untuk berperilaku baik sesuai kaidah? Pendekatan positif dan konstruktif seringkali merupakan cara terbaik untuk pembiasaan tersebut. Yang artinya caranya adalah dengan bukan memberikan reward atau punishment ketika ia berperilaku baik atau buruk. Karena perilaku baik adalah kewajiban, bukan prestasi.

Baca juga: Perilaku Anak Sekolah Dasar yang Perlu Perhatian Lebih

1. Orangtua jadi panutan

Sesimpel kita minta maaf pada dirinya ketika salah, atau membukakan pintu mini market ketika ada orang lain yang mau masuk dan pas banget kita lagi di depan pintu, merupakan salah satu cara untuk mencontohkan perilaku baik pada anak. Nggak ingin anak bicara dengan nada galak, ya, kitanya juga jangan sedikit-sedikit ngomong pakai nada tinggi. Tak suka melihat anak merebut mainan temannya, ya, kitanya juga ketika mengambil sesuatu dari tangannya nggak main sambar begitu saja. Lebih suka anak mengucapkan kata ‘tolong’ ketika minta diambilkan minum, ya, kitanya juga mengatakan kata yang sama ketika minta ia mengambilkan sesuatu.

2. Jujur tentang perasaan kita terhadap perilakunya

Ketika si bungsu saya ngambek karena ngotot keinginannya harus dituruti, bahkan sampai membentak-bentak semua orang yang ada di sekitarnya, saya nggak punya cara lagi untuk bicara baik-baik. Saya pun nangis dan jujur berkata bahwa saya sangat sedih dengan perilakunya saat itu. Sambil bersimbah air mata saya juga menjelaskan betapa banyak hal-hal yang patut ia syukuri, bahwa banyak juga keinginan dia yang sudah dipenuhi, dan tidak bisa semua kemauan harus dituruti. Nggak berarti setiap dia ngambek saya nangis juga. Yang penting bagaimana kita memperlihatkan padanya bagaimana perilakunya memengaruhi kita. Berbicara dalam “I-sight” bisa memberikan anak kesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang kita, orangtuanya. 

3. Aktif mendengarkan

Kepala mengangguk, sesekali berkomentar tentang perasaannya, dan menatap wajahnya (bukan layar smartphone), ketika ia sedang menceritakan sesuatu bisa mengajarkan anak untuk berperilaku sama. Suka diprotes sama keluarga besar di arisan keluarga anak kita kalau diajak ngomong lihatnya layar smartphone? Nah, praktikkan 3 hal di atas ya. 

Baca juga: 5 Temuan Baru Tentang Bahaya Gadget pada Anak

4. Usahakan untuk selalu menepati janji

Dengan kita selalu berusaha memenuhi janji, anak biasanya akan belajar untuk percaya dan menghormati Anda, auto-menghormati orang lain.  

5. Beri feedback positif untuk perilaku baiknya

Misal dia membersihkan tempat tidurnya sendiri walau masih ada yang kusut di sana sini, ucapkan hal positif seperti, “Terima kasih, ya, membantu meringankan pekerjaan mbak.” Atau sesimpel, “Bagus kalau kamu taruh gelas di tengah meja, tidak terlalu ke pinggir, jadi nggak gampang jatuh.” Hindari feedback positif atas penampilan atau fisik, ya.

Baca juga: Anak Berpikir Kritis Tak Hanya Aktif Bertanya, Kenalkan & Latih dengan 5 Cara Ini!


Post Comment