Menerima Kritik Itu Memang Sulit Ya …

Selain sulit menerima kenyataan bahwa Keanu Reeves sekarang sudah punya pacar, hal lain yang juga sulit untuk kita terima adalah kritikan :D.

Menerima Kritik - Mommies Daily

Lumayan jarang saya temukan orang-orang yang bisa menerima kritikan dengan lapang dada dan hati ceria (termasuk saya :D). Padahal, kita pasti tahu atau bahkan sering mengingatkan ke diri sendiri, betapa kritik itu sebenarnya saran yang membangun untuk kita. Masalahnya, secara naluri memang bawaannya kita ingin membela diri aja dulu begitu mendengar kritikan :p.

Defensif … salah satu cara melindungi harga diri yang terluka karena mendengar kritikan. Apalagi jika cara penyampaiannya rada kurang enak atau nyelekit. Boro-boro mau mikir positif, yang ada bawaannya pingin nyentil mulut yang ngomong, ahahaha.

Belum lagi dengan adanya social media. Di luar urusan pekerjaan, pertemanan hingga keluarga, entah berapa kali saya mendapatkan kritikan dari follower di Instagram mengenai apa yang saya posting di feed atau story. Ketika kritikannya disampaikan dengan kalimat yang baik, saya tanggapi. Jika kalimatnya nggak enak dan cenderung sotoy, diemin aja ;p.

Namun di tahun 2020 ini, dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa kayaknya harus lebih ‘cerdas’ deh menerima kritikan. Selain udah lelah juga merasa emosi, saya juga ingin anak-anak saya tumbuh tanpa harus melihat sosok orang tuanya yang sulit menerima kritikan.

Maka, saya ingin belajar untuk melakukan beberapa hal ini ketika ada orang lain yang mengkritik saya …

1. Dengarkan atau baca saja dulu semua kritikan yang datang dari siapa pun, mau itu tidak enak untuk kita dengar atau baca.

2. Hentikan kebiasaan defensif. Tarik napas dulu, beri waktu otak untuk mencerna, apakah kritikan ini memang benar?

3. Coba cari sisi positif dari kritikan yang kita peroleh. Misalnya, ketika saya dikritik terlalu keras terhadap tim kerja, saya mencoba berpikir, bahwa pemberi kritik ingin membuat saya memiliki hubungan yang lebih baik dengan tim kerja saya. Hubungan yang lebih baik tentu saja menciptakan suasana kerja yang juga lebih baik.

Baca juga:

Boss atau Leader, di mana Kita Berada?

4. Akui ketika kita memang merasa kritikan itu benar, apalagi jika memang kita berbuat salah. Nggak ada orang yang mati hanya karena mengakui kesalahan kan? (Kecuali para penjahat yang memang melakukan kejahatan berat  dan dihukum mati *__*)

5. Kita bisa tidak setuju tanpa harus bersikap kasar. Tidak setuju dengan kritikan yang diberikan jika merasa itu tidak benar atau cara penyampaian yang tidak enak ya sah-sah saja, tapi jangan lantas membuat kita menjadi kasar.

6. Jangan menjadikan kritikan menjadi personal apalagi jika itu berkaitan dengan cara kerja di kantor. Ingat saja, itu murni tentang profesionalisme.

7. Dengarkan semua kritikan memang perlu, tapi menyaring mana yang benar dan mana yang salah juga tak kalah penting. Ingat saja, bahwa tak semua orang mengerti kita dengan baik dan sudah pasti tak semua orang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Baca juga:

Lingkungan Kerja yang Toxic Untuk Dihadapi

8. Bahwa banyak orang sukses sebelumnya juga mendapatkan banyak kritikan. Tapi lihat mereka sekarang? Yes, mereka ada di puncak kesuksesan.

9. Pahami bedanya antara kita tahu bahwa kritikan salah sasaran atau tidak tepat sehingga kita berhak untuk membela diri dengan bahwa kita sekadar keras kepala dan anti kritik.

10. Kritikan membuat kita jadi tahu pendapat atau pandangan orang lain tentang kita. Dan ini bisa membantu kita untuk memperbaiki diri.

11. Ini juga jadi pengingat bagi kita, ketika kita tidak suka orang mengkritik dengan cara yang tidak sehat, maka jangan sampai kita melakukan hal yang sama. Give healthy critiques.

Memahami dan menerima mana kritik yang benar dan yang tidak, membuat kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik, bukan untuk orang lain, lho, tapi untuk diri kita sendiri kok.

Baca juga:

Agar Linkedin Kita Dilirik Perusahaan


Post Comment