Now Reading
Ketika Anak Minta Maaf Terlalu Sering, Pertanda Apakah?

Ketika Anak Minta Maaf Terlalu Sering, Pertanda Apakah?

dewdew

Anak mengerti untuk meminta maaf saat salah tentu baik. Tapi ketika dia nyaris meminta maaf untuk SEMUA hal bahkan yang nggak perlu, ada apa yang salah?

Anak Sering Meminta Maaf - Mommies Daily

Mengajarkan anak untuk meminta maaf itu baik. Selain mengajarkan empati, si Kecil juga belajar untuk bertanggung jawab akan kesalahan yang ia buat. Tapi, ketika ia minta maaf terlalu sering bahkan untuk hal yang kelihatannya sepele, apakah itu baik?

Ketika ia tak sengaja menjatuhkan cupcake di tangannya, ia minta maaf dan terlihat ketakutan. Saat ia tak sengaja menyenggol tangan Anda ketika Anda tengah menulis, ia terlihat cemas dan minta maaf berkali-kali. Padahal itu cuma hal sepele, bukan kesalahan besar, tak sengaja, pun bukan dosa besar.

Menurut Martin Antony, direktur divisi Anxiety Research and Treatment Lab di Ryerson University, Toronto, Kanada ketika seseorang suka meminta maaf terlalu berlebihan untuk hal yang sangat sepele, bisa jadi merupakan pertanda cemas berlebih atau depresi. Ketika ia ‘meminta maaf’ ia menciptakan bentuk perlindungan untuk dirinya sendiri dari emosi permusuhan atau potensi anacaman. Intinya sebagai bentuk menyelamatkan diri. Jika ini terbawa terus sampai dewasa, ia akan menjadi tak percaya diri, serta di dalam lingkungannya kelak, ia akan seringkali tak dianggap dan diremehkan. Wah, bahaya juga, ya, dampaknya.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtuanya untuk mengatasi rasa cemas berlebihan pada anak? Tamar Chansky, Ph.D berbagi tipsnya.

Turunkan nada suara

Terkadang kalau kita sendirinya lagi sedikit rungsing, tanpa sadar kita bicara pada anak dengan nada tinggi. Terdengar seperti marah, padahal kita nggak bermaksud marah juga. Nada suara yang tinggi bisa membuat anak merasa cemas, takut apa yang dilakukannya salah. Padahal yang dia lakukan sama sekali nggak perlu dimarahi, kan? Hanya karena nada suara ia jadi takut. Langsung turunkan nada suara dari oktaf tertinggi ke rendah ketika Moms melihat anak terkejut dan takut.

Jangan terima ‘maafnya”

Ketika ia meminta maaf untuk satu hal yang menurut kita juga nggak ada gunanya meminta maaf, jangan diterima maafnya. Hindari katakan, “Iya, mama maafin.” Langsung saja katakan padanya, “Nggak apa-apa, kok, nak. Nggak perlu minta maaf, kan, adek nggak salah.”

Biarkan ia mengoreksi kesalahannya sendiri

Untuk anak yang memiliki rasa cemas berlebihan, biasanya mereka sudah tahu jika benar-benar salah. Hindari memarahinya dengan menunjukkan dan membeberkan semua kesalahannya, mulai dari koma hingga titik. Mungkin kita bisa bertanya, “Kira-kira adek tahu nggak, kenapa mama marah?” Ketika ia sudah bisa mengoreksi dirinya, jangan segan memujinya, atau berterima kasih padanya karena sudah mampu mengoreksi dirinya sendiri. Dengan begitu, ia akan merasa dihargai dan mau meminta maaf untuk hal yang memang menjadi salahnya.

Hindari menggunakan bahasa yang menyalahkan

Sebaiknya, sih, nggak perlu berkata, “Seharusnya adek begini,” atau “Adek salah, harusnya adek melakukan itu,” mungkin Moms bisa mencoba fokus pada masalahnya. Jelaskan padanya apa yang terjadi, apa yang sebaiknya dilakukan, dan what to do next.

Ajarkan cara memperbaiki kesalahan

Minimalkan penjelasan tentang konsekuensi kesalahannya. Mungkin kita bisa fokus apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki apa yang telah ia lakukan. Secara tak langsung ia akan belajar konsekuensinya, kok, sekaligus ‘mereparasi’ perilakunya.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top