9 Kesalahan yang Sering Dilakukan para Atasan

Karena makin tinggi posisi kita di sebuah perusahaan, makin perlu berhati-hati dalam bertindak.

9 Kesalahan yang Sering Dilakukan Atasan - Mommies DailyImage: by Jealous Weekends on Unsplash

Saat masih berada di level staff, seringkali lebih mudah mengingatkan diri sendiri, “Jangan sampai saya jadi bos yang menyebalkan”. Tentu saja, karena kita berhadapan langsung dengan sosok atasan yang bisa kita jadikan contoh. Namun, ketika pada akhirnya posisi kita sudah menduduki posisinya, yaitu sebagai bos, biasanya akan sulit untuk menahan diri dari melakukan tindakan yang salah.

Memang, apa saja, sih, kesalahan yang sering dilakukan seorang atasan?

1. Terlalu menekan

Ya, memang, sih, “able to work under pressure” adalah syarat utama yang harus kita miliki sebagai karyawan. Namun, pressure itu kan bisa datang dari berbagai hal. Kalau load kerja sehari-hari saja sudah cukup menekan, bayangkan betapa nggak betahnya karyawan yang bosnya pun demanding. Jangan heran kalau ada saja karyawan yang pamit setiap bulan.

2. Yang penting hasil

Di balik sebuah hasil yang memuaskan, ada dua kemungkinan, bisa jadi karyawan Anda menjalankan cara yang “bersih”, begitupun sebaliknya. Jangan sampai Anda ketahuan menoleransi kesalahan fatal hanya karena mementingkan hasilnya. Sebaliknya, tim yang hasilnya belum sesuai dengan ekspektasi, tetap perlu dihargai usahanya.

3. Maunya selalu “akrab”

Menjadi atasan itu artinya ya, jadi atasan, bukan jadi sohib! Terimalah kenyataan bahwa akan ada gap antara Anda dan tim. Karena bagaimanapun, sebagai atasan, Anda punya tanggung jawab untuk menegur karyawan saat mereka tidak perform, seakrab apapun hubungan Anda. Meski tidak bisa dianggap seperti sohib, banyak cara untuk tetap bisa menjadi bos yang asik dan tetap di-respect, kok!

Baca Juga: Ini 8 Harapan dari Karyawan untuk Para Atasan

4. Hanya mengevaluasi kegagalan tim

Setiap habis kalah pitching, satu tim pasti langsung diajak meeting, yang dibahas pun detail sangat, kalau bisa semua celah dikupas tuntas dan dicari tahu kenapa bisa sampai gagal. Padahal, ya, alasannya sesimpel: belum jodoh aja sama si calon klien. Tapi, begitu menang pitching, langsung ngajakin party, padahal proyek belum juga dimulai. Idealnya, ketika mengalami keberhasilan, seorang leader yang bijak akan tetap melakukan evaluasi. 

5. Mengambil keputusan sendiri

Ya, memang, ini merupakan hak prerogatif seorang atasan. Namun, meski tidak selamanya harus menjelaskan alasan detail di balik setiap keputusan yang dibuat, tim Anda akan jauh lebih merasa dihargai apabila mereka dilibatkan. Atau setidaknya, diberikan pengertian mengapa Anda mengambil keputusan tersebut. 

6. Menyendiri

Meski ada gap yang otomatis terbentuk antara Anda dan tim, bukan berarti gap tersebut harus diperlebar dengan Anda menyendiri. Rajinlah duduk bersama tim, kalau memungkinkan, bekerjalah dalam satu ruangan tanpa sekat. Bukankah dengan demikian, Anda dan tim akan lebih mudah brainstorming, kapanpun diperlukan?

7. Tidak terus terang

Tiba-tiba mencanangkan sebuah aturan yang Anda buat sendiri, tanpa aba-aba, sama menjengkelkannya dengan menjadi atasan yang tidak terus terang menyampaikan harapannya. Ekspektasi Anda pada masing-masing karyawan perlu tersampaikan dengan jelas. Percayalah, akan sangat sulit mencapai titik temu, di mana Anda dan karyawan sama-sama puas dengan hasil kerja, kalau keinginan Anda tidak pernah sekalipun Anda sampaikan.

Baca juga: Para Atasan dan Cara Memimpin Rapat yang Benar

8. Micro-managing

You need to trust the people you work with! Salah satunya dengan cara membiarkan mereka bekerja dengan cara masing-masing. Layaknya orangtua, bimbingan pada anak itu sangat perlu dilakukan, namun bukan yang sifatnya helicopter parenting. Ada kalanya anak perlu dibiarkan mencapai keberhasilan dengan caranya sendiri.

9. Berbagi yang tidak semestinya

Meski sifat tidak terus terang itu perlu dihindari, bukan artinya Anda dihimbau untuk menjadi overshare, terutama untuk informasi perusahaan yang memang belum jelas statusnya. Selain bisa menimbulkan rasa was-was di tengah ketenteraman karyawan, ketika informasi yang Anda sampaikan tersebut ternyata keliru, Anda perlu mempertanggungjawabkannya.

Baca juga: Cara Tepat Branding Diri Sendiri


Post Comment