Ada yang Anaknya Mulai Naksir Teman? Jangan Histeris Dulu, Ini yang Bisa Kita Ajarkan

Jangan langsung marah saat anak naksir atau dekat dengan lawan jenis. Bisa jadi ini jalan untuk kita menyelipkan banyak pesan positif.

Anak Naksir Teman - Mommies Daily

Seorang teman sempat bercerita tentang anak remajanya yang curhat mengenai teman perempuannya. Alisha (bukan nama sebenarnya) anak cantik, pintar, baik pada dirinya dari kelas sebelah. Seringkali nama Alisha disebut-sebut di berbagai kesempatan. Teman saya, sih, sudah feeling. Sepertinya ada yang lagi punya hati sama Alisha.

Familiar nggak mommies yang anaknya jelang puber atau bahkan sudah remaja dengan situasi seperti ini? Ada yang anaknya sudah mulai kasih hint tentang hatinya yang mulai tertambat dengan teman lawan jenisnya? Kalau saya, sih, merasanya nggak perlu histeris duluan, takut anak melakukan seks bebaslah, takut belajarnya terganggulah, dan takut-takut lainnya, karena seyogyanya perasaan wajar tersebut menciptakan kesempatan untuk mengajarkannya banyak hal.

Jadikan pemicu semangat

Teman yang dia taksir, apalagi kalau teman satu angkatan, bisa kita arahkan jadi pemicu semangat dia belajar atau berprestasi baik di lingkungan sekolah ataupun di luar. Mungkin bisa bilang sama dia, “Wah, kamu ikut lomba debat? Alisha pasti bangga, deh, kalau kamu juara.” Siapa tahu bisa jadi pelecut semangat, kan?

Hubungan yang menjunjung self-respect

Terutama buat orangtua yang punya anak perempuan, saatnya mengajarkan mereka soal self-respect. Naksir teman boleh banget. Apa lagi kalau dianya naksir balik. Teman spesial yang (kelihatannya) baik banget, yang sepertinya cuma dia yang keren, bukan berarti semua katanya harus dituruti. Hargai dan hormati diri sendiri untuk nggak perlu ikut-ikutan, berani menolak (dengan baik) kalau diajak melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi kalau dalam hati sebenarnya tidak ingin. Ajarkan pada si remaja, kalau hubungan yang baik adalah hubungan yang saling menghormati satu sama lain.

Bukan hubungan yang toxic

Toxic relationship kalau digambarkan memang abstrak, tapi mudahnya bisa kita jelaskan ke mereka, kalau hubungan dia dengan teman yang dia taksir bikin dia selalu sedih, merasa dirinya nggak berharga, membuat dia malas belajar dan suka marah-marah baik ke dirinya sendiri maupun orang lain, maka bisa jadi itulah hubungan yang dikategorikan dengan toxic-relationship.

Tentukan batasannya sendiri

Di usia remaja dorongan biologis mulai besar dan keinginan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan teman yang ditaksir sudah pasti besar. Bantu anak agar ia bisa menentukan batasannya sendiri. Salah satunya dengan mengajarkan soal seks. Yang tadinya suka bingung di kesempatan apa mengajarkan anak remaja tentang hal ini, bisa jadi ini saat yang tepat. Banyak cara, kok, mengajarkan anak tentang seks, salah satunya di sini. Sehingga kalaupun akhirnya ada kesempatan mereka untuk berduaan, ia sudah berilmu dan tahu segala risikonya.


Post Comment