Cinta Laura Kiehl: Disiplin dalam Berkarier, Tapi Tetap Fleksibel dalam Bergaul

Cinta Laura Kiehl (26), tumbuh dan besar di dalam mixed marriage (Jerman-Indonesia), membuat Cinta mempunyai pondasi karakter kuat untuk membangun kariernya, tapi tetap menomorsatukan respect terhadap sesama.

Cinta Laura Kiehl - Mommies Daily

Sosok Cinta Laura Kiehl yang saya tahu selama ini, punya ciri khas logat bicara yang lebih kental Bahasa Inggris. Maklum dia besar di tengah mixed marriage (Jerman-Indonesia), tak hanya kemampuan bicara Bahasa Inggris yang mumpuni, ternyata pola asuh dari dua budaya berbeda juga menempa dirinya hingga mumpunyai sifat-sifat yang dia akui jadi modal dalam berkarier. Di antaranya disiplin dan kompetitif.

Beberapa waktu lalu, Mommies Daily berkesempatan ngobrol dengan Cinta di kantor kami. Ia sedang sibuk promo film terbarunya “Jeritan Malam.” Di antara padatnya jadwal Cinta hari itu, ia tetap fokus menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

Tiga hal apa yang paling disukai dari diri kamu, sebagai Cinta Laura?

Saya orangnya sangat disiplin, dalam hal tepat waktu, teroganisir dan terpercaya. Misanya saya bilang janji besok di jam sekian, maka saya akan siap di jam yang saya katakan.

Yang kedua kompetitif. Artinya saya ingin menjadi yang terbaik. Misalnya selalu mendapatkan peringkat di kelas. Di setiap pelajaran mengusahakan mendapat nilai bagus, walaupun saya tidak terlalu suka.

Saya itu orangnya thoughtful. Misalnya di dalam pertemanan yang ada di inner circle. Saya selalu memikirkan apa yang membuat mereka bahagia. Memastikan mereka selalu bahagia ketika sama saya.

Pengalaman masa kecil apa yang membuat kamu punya tiga sifat tadi, dan seberapa besar andil dari orangtua?

Kalau disiplin didapat dari papa saya. Dia itu orang Jerman, yang sangat sangat disiplin. Dari kecil saya sudah terbiasa hidup di lingkungan yang serba teratur. Contohnya pas papa saya bilang, makan malam berangkat jam 06.00, itu berarti jam 5.45 kami sudah harus siap di pintu untuk masuk mobil.

Selain itu dari kecil saya juga melihat work ethic yang disiplin dari papa. Filing system dia tertata sangat rapih, dia itu orangnya detail oriented. Dari situ saya belajar, kalau mau jadi orang yang sukses, penting sekali mengutamakan sifat-sifat papa yang tadi saya sebutkan.

Kalau jiwa kompetitif, saya dapatkan dari kebiasaan olahraga. Karena dari kecil saya sudah terbiasa olahraga, menjadi atlet. Sejak usia lima saya sudah mengikuti kompetisi berenang. Saya punya 10 medali emas, tujuh medali silver dan tujuh medali perunggu dari cabang berenang. Pas di bangku SMA saya atlet basket dan atlet lari. Dari kecil saya menguasai beberapa cabang olahraga, sepak bola, rugby, tennis, badminton, golf. Jadi dari situ, saya belajar jadi orang yang kompetitif.

Nah, untuk thoughtful saya dapat dari mami. Mami saya kan orang Indonesia, dia orang yang sangat ramah. Semua orang yang pernah ketemu dengan mami, pasti bilang, dia orang yang paling ramah. Dari kecul saya selalu diajarkan mami, untuk peduli sama orang lain dan lingkungan saya. Mami juga selalu bilang, “lihat betapa beruntungnya kamu. Di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung.” Dari situ mami selalu ngajarin saya, gimana menjadi orang yang tidak egois, menyempatkan peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita.

Jadi semua seimbang, sifat-sifat yang tadi saya sukai, berasal dari Mami, Papa dan lingkungan.

Sebagai anak yang tumbuh di dalam mixed marriage, nilai-nilai positif apa nih yang kamu serap?

Buat saya setiap budaya punya sisi pro dan kontra. Saya beruntung berasal dari keluarga mixed marriage, karena dapat tiga nilai yang tertanam di sifat saya tadi. Untuk dapat sukses di dalam karier, saya mampu menjadi orang yang terorgnisir dan disiplin, itu saya dapatkan dari papa. Tapi di waktu bersamaan, saya tahu bagaimana caranya memperlakukan orang-orang. Karena kalau saya mengadaptasi 100% sifat-sifat orang Jerman, sementara saya bekerja di Indonesia, agak sulit. Di Indonesia kalau kita melakukan pendekatan harus sopan, halus, sedikit ada basa-basinya. Kalau tanpa values dari mami, saya tidak akan bisa menjadi entertainer. Singkatnya kehidupan dunia profesional saya dari papi, lalu nilai fleksibel dan rasa hormat saya ke orang yang lebih tua, datangnya dari mami.

Hal terbesar yang saya pelajari adalah, sebaiknya kita tegas, profesional, terbiasa terorganisir jika menyangkut dengan pekerjaan. Tapi di waktu bersamaan, kita juga harus mampu menghormati orang lain, dan mengerti bagaimana cara mereka bekerja. Dengan begitu kita bisa mendapatkan lingkungan kerja yang sehat.

Punya buku atau film favorit yang akhirnya mengubah cara pandang kamu terhadap suatu hal?

Saya baru nonton film ini di pesawat, judulnya Where’d You Go, Bernadette. That movie so amazing! Pemeran utamanya Cate Blanchett. Di film itu ceritanya Cate adalah arsitek, tapi setelah menikah dan punya anak, pindah ke suatu kota. Tiba-tiba dia kehilangan semua inspirasi dalam hidupnya, ketika Cate berhenti kerja, padahal di dunia arsitekstur dia sudah pernah mendapatkan penghargaan tertinggi. Dan dia dinobatkan sama semua orang menjadi arsitek terbaik di dunia, Cate di film ini pokoknya sosok perempuan yang sangat jenius.

Nilai moral adalah, kalau kita memang punya misi menciptakan sesuatu atau berkarya, harusnya kita tidak berhenti. Jangan biarkan apapun menghentikan apa yang kita ingin gapai dalam hidup. Di akhir film dia balik lagi ke dunia arsitektur. Yang tadinya sudah depresi, jadi aneh, mau bunuh diri, akhirnya dia mendapatkan kembali tujuan dia dalam hidup.

Saya sangat menyukaii film ini, karena seperti melihat diri saya di karakter yang diperankan Cate. I’m very goal oriented, very work driven and my career is the most important to me. Selain itu film ini juga mengajarkan saya, setiap orang punya prioritas berbeda-beda, dan hal itu nggak ada masalah.

Kelak suatu hari kamu akan menikah dan punya anak , adakah yang kamu ingin tiru berkaitan dengan values pola asuh anak?

Menurut saya penting banget untuk menanamkan nilai disiplin pada anak, dan memberitahu mereka, apa yang benar dan apa yang salah. Tapi jangan jadi diktator, memberikan mereka kebebasan untuk memilih, supaya mereka bisa belajar dari kesalahan mereka. Kasih masukan mana yang baik dan salah, tapi disertai dengan alasan, tanpa memaksakan kehendak. Jangan diajak berantem, tapi ajak diskusi. Biarpun anak kita salah, ajak dia diskusi, jelaskan letak salahnya di mana. Penting sekali memperlakukan anak-anak, seperti orang dewasa.


Post Comment