Seberapa Toleran Anak Kita?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Helen Keller, seorang aktivis pernah mengatakan bahwa toleransi adalah hasil tertinggi pendidikan. Butuh waktu berabad-abad untuk mengajarkan manusia pada keberanian untuk mengakui iman dan keyakinan orang lain.

ben-wicks-iDCtsz-INHI-unsplash

Perang dan kekerasan antara militan Taliban dan militer Pakistan memusnahkan kesempatan pendidikan yang setara antara laki-laki dan perempuan. Malala Yousafzai (22), gadis asal Mingora, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, bersama ayahnya, berusaha melawan. Hingga suatu hari, sepulang sekolah, Malala -yang saat itu berusia 15 tahun- ditembak di atas bus. Beruntung, hidup Malala berhasil terselamatkan. Ia kini aktif berjuang menyuarakan hak untuk pendidikan bagi anak-anak perempuan di negerinya, yang masih dilanda konflik.

Apa yang dialami Malala di negerinya adalah sebuah contoh ekstrem tentang bagaimana intoleransi dan fanatisme beragama menemui puncaknya. Pandangan kelompok konservatif yang berkuasa, jangankan menerima mereka yang berbeda agama, dengan mereka yang satu agama saja diperangi, apabila tidak mau mengikuti paham mereka.

Berbicara tentang toleransi, akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang mencerminkan masyarakat kita yang semakin tidak toleran. Di antaranya, gangguan terhadap rumah ibadah, fatwa tentang pejabat agar tak memberi salam dalam 5 agama, serta kabar terakhir tentang pembubaran upacara keagamaan Hindu di Bantul, hanyalah beberapa contoh.

Agar situasi kerukunan tidak bertambah buruk di masa mendatang, salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah lewat mendidik generasi baru, yakni anak kita. Toleransi perlu diajarkan sejak dini pada anak-anak agar ia tidak tumbuh menjadi anak yang menganggap biasa tindak kekerasan atas nama keyakinan.

Baca juga:

Toleransi Itu Tidak Bisa Dipaksa

Sudut Pandang Toleransi

Sebelum membahas lebih lanjut tentang perlunya edukasi toleransi, rasanya kita perlu tahu dulu, terminologi kata ini. Toleransi (atau dalam Bahasa Inggris ‘tolerance’) berasal dari bahasa Latin ‘tolerare’, berarti sabar dan menahan diri. Menurut PBB (seperti yang dikutip dari UN.org), aplikasi sikap toleransi ini bisa dijabarkan dalam tiga aspek, yakni mengembangkan pemahaman terhadap orang lain, terhadap perilaku, dan perspektif.

Toleransi terhadap orang lain yakni sikap menerima kebebasan berpendapat, mengekspresikan opini tanpa takut dibully, misalnya. Bersikap toleran artinya memberi tempat pada orang lain untuk memiliki kebebasan yang satu ini. Menghormati hak orang lain untuk mengekspresikan diri, bahkan jika menurut Anda pendapat mereka itu salah.

Toleransi terhadap perilaku adalah memberi kebebasan kepada orang lain untuk berperilaku dengan cara yang mereka pilih, tentu dalam batas-batas prinsip perilaku beradab yang bisa diterima dalam masyarakat, selama itu tidak melanggar hukum. Bersikap rasis, misalnya, adalah sikap yang melanggar hukum dan tidak bisa dibenarkan. Begitu juga, perilaku lain yang memberi dampak negatif dan merugikan orang lain, tentu tidak bisa dibenarkan.

Toleransi terhadap cara pandang, artinya menghargai ide-ide atau pandangan yang berbeda. Tidak merasa diri lebih baik atau lebih benar daripada yang lain, kemudian memaksakannya pada orang lain. Bersikap toleran dalam perspektif, artinya bisa menerima berbagai sudut pandang, menghargai ide-ide itu, dan berani menyanggah ide-ide yang Anda tidak setujui dengan argumentasi yang tepat.

Tujuan Tertinggi Pendidikan

Ada sebuah quote menarik dari Helen Keller, orang buta tuli pertama yang bergelar sarjana dan kemudian menjadi aktivis, mengatakan bahwa toleransi adalah hasil tertinggi pendidikan. “Pada masa lalu, orang rela mati berperang demi membela keyakinan mereka, butuh waktu berabad-abad untuk mengajarkan manusia pada keberanian yang lain, yakni keberanian untuk mengakui iman dan keyakinan saudara-saudara mereka.”

Pemikiran Helen Keller ini juga dipengaruhi oleh pendidikan klasik, yang mengajarkan bahwa tujuan tertinggi pendidikan bukan semata untuk mendidik orang agar pintar, melainkan agar memiliki kebajikan dan kebijaksanaan. Sikap toleransi adalah salah satu sikap kebajikan yang perlu ditanamkan pada anak.

Tak Kenal Maka Tak Paham

Akar dari diskriminasi adalah ketidakpedulian. Mendorong anak untuk membaca buku-buku yang menggugah, terbukti bisa meningkatkan daya empati anak. Selain tentunya aktif mengenalkan anak pada keragaman, baik itu keragaman budaya maupun keyakinan. Ketidakpahaman akan kebudayaan yang berbeda bisa memicu prasangka, yang kemudian bisa mendorong pada kebencian dan antipati. Pernah mendengar ungkapan, “Cinta itu alami, sedangkan kebencian itu diajarkan”? Begitulah, di dunia ini tidak ada anak yang lahir membawa kebencian.

Yang menarik dari kampanye ToDay (Tolerance Day) PBB, toleransi bukan sikap yang pasif, melainkan tentang perlaku aktif, berani mengambil sikap. Tidak hanya diam saja ketika melihat ketidakadilan. Tidak bersikap apatis. Berani berdiri melawan intoleransi yang terjadi di dekatnya. Dorong anak untuk menyukai kebaikan, mengapresiasi perilaku teman yang positif, dan mau menyuarakan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Selamat Hari Toleransi Internasional ya …

Baca juga:

Mengajarkan Toleransi Pada Anak


Post Comment