Dad-shaming Ternyata Juga Banyak & Bikin Para Ayah Tak Percaya Diri

Bukan cuma mom-shaming, ternyata gaya parenting ayah juga banyak yang judging, lho, alias dad-shaming. Semacam yang judging itu manusia sempurna. Hih…

dad-shaming - Mommies DailyImage: by Szilvia Basso on Unsplash

Sesantai-santainya karakter seorang pria, ketika gaya parentingnya di-judge atau dikritik berlebihan, akan kesal juga ujung-ujungnya. Mirip-mirip sebenarnya dengan fenomena mom-shaming oleh sesama ibu, dad-shaming juga ternyata marak, lho. Siapa pelakunya? Kalau berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh RS Anak di C.S. Mott Children, Michigan, Amerika Serikat, yang seringkali melakukan dad-shaming, ya, sesama orangtua sendiri. Nggak beda jauh sama di Indonesia. Pelakunya dia-dia juga. 

Baca juga: Kata Penelitian Tentang Perubahan pada Tubuh Ayah Setelah Punya Anak

Shaming dari orangtua lain

Dari jajak pendapat yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut, hasil yang paling mengejutkan adalah sejumlah besar ayah mengatakan bahwa kritik atau dad-shaming membuat mereka malah jadi ingin kurang terlibat dalam mengasuh anak. Wah, cukup bahaya juga, ya. Terutama kalau kritik datang dari orang tua anak yang lain, seorang ayah biasanya cenderung merasa kehilangan kepercayaan diri yang lebih besar, dibanding jika kritik itu datang dari kakek nenek. Wah…

Datang dari istri sendiri

Jangan salah. Seringkali dad-shaming bisa datang dari ibunya anak-anak. Iya, kita sendiri tanpa disadari bisa melakukan dad-shaming, walaupun dalam konteks bercanda. Hati-hati, mom, sebelum kita terlalu keras mengkritik gaya asuh sang suami, pikir dulu 1000 kali. Karena nyatanya pengaruh kritikan yang tak berdasar bikin dia bisa mundur teratur dari pengasuhan anak. Jika ingin mengkritik, mungkin kritikan tersebut nggak dilontarkan di depan umum, atau dengan nada meremehkan, karena akan bikin si Ayah makin nggak percaya diri. Bahkan bisa berujung pada pertengkaran antara kita dan pasangan. 

Baca juga: 5 Cara Bantu Pasangan Jadi Ayah yang Baik

Sebagai istri, kalau tahu suami kita mengalami dad-shaming baik di dunia nyata mau pun di dunia maya, kita bisa bantu dia untuk:

1. Menyarankan pada suami untuk nggak mudah tersinggung (well, it’s easier said than done). Sayangnya ini merupakan salah satu bentuk defense yang paling mendasar. Untuk bisa mengalahkan dad-shaming, kudu punya pondasi ini terlebih dahulu.

2. Ajak suami tetap open minded. Kalau kritik itu datang dari orang-orang terdekat dan nyata-nyata sayang sama kita, ada baiknya didengarkan, siapa tahu memang benar adanya dan bisa jadi bahan introspeksi diri. Tapi kalau datangnya dari orang yang nggak terlalu dekat, apa lagi orang asing yang hanya sekadar meninggalkan kalimat-kalimat negatif di kolom komen akun Instagram, ah, sudahlah, anggap angin lalu saja. 

3. Ajak si Ayah merenungkan kritik yang mungkin terasa benar adanya (dan dia masih denial). Minta suami seobjektif mungkin pada kritik. Bisa cari advice juga dari orang yang ia segani, atau bahkan dari para ahli. Nah, jika kritik itu pada akhirnya valid, kita bisa bantu pasangan untuk meningkatkan aspek pengasuhan anak.

4. Bantu pasangan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai gaya parenting yang sesuai dan benar tentunya. Jadi ketika ada yang melakukan dad-shaming terhadap dirinya, terhadap gaya asuhnya, suami tetap percaya diri dengan kekayaan ilmu parenting yang dia punya. Dia jadi nggak mudah ngambek dan cenderung cuek menghadapi dad-shaming.

5. It takes two to tango. Saling berdampingan saat mengurus dan mengasuh anak akan membuat suami percaya diri dan merasa didukung oleh istrinya. 

Baca juga: Esai Foto “Swedish Dads” , Ketika Ayah Bersedia Repot Urus Anak & Rumah


Post Comment