Ayah, Kalian Bukan Support System!

Sering banget mendengar bahwa ayah adalah support system utama untuk para ibu dalam membesarkan anak. Padahal faktanya, nggak begitu lho.

Pikiran ini muncul gara-gara meeting editorial bulan November ini yang tema besarnya memang tentang Ayah. Iya, Ayah, karena kan tanggal 12 November nanti adalah hari Ayah Nasional.

Icha, Senior Editor Mommies Daily bilang “Kalau dipikir-pikir, ayah itu bukan support system seorang ibu lho dalam membesarkan anak. Karena kan Ayah itu adalah orang tua si anak, sama seperti ibunya. Jadi ya seharusnya memang Ayah wajib hukumnya itu bahu membahu mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya sendiri.”

Iya, benar juga dong.

Support system alias sistem pendukung itu lebih pas kalau disematkan kepada orang lain yang bukan orang tua si anak. Pihak lain yang kehadirannya memang secara nyata memudahkan tugas dan tanggung jawab ibu dan AYAH sebagai orang tua. Tak harus ada hubungan darah. Karena selain eyang, kakek, tante, om, support system juga bisa hadir dalam wujud baby sitter, ART, supir hingga atasan atau perusahaan yang ramah untuk orang tua.

Sistem pendukung ya artinya ‘hanya’ mendukung, bukan menjadi bagian dari tim utama. Namun, ketika gelar orang tua menempel secara otomatis di kita, baik itu ibu atau ayah, ya kita adalah pemain atau pemeran utamanya dong, tak lagi bisa bilang sekadar support system.

Jadi para ayah, boleh lho mulai sekarang jangan sekadar menganggap diri kalian sebagai support system yang bisa membantu pasangan kalian membesarkan anak KALAU kalian punya waktu luang, KALAU pasangan meminta, KALAU kalian ingin. Karena sebagai pemeran utama, kalian WAJIB menjadi partner yang SEIMBANG bagi pasangan dalam mengasuh anak.

Ayah Bukan Support System - Mommies Daily

Baca juga:

Masih Banyak Ayah yang Tidak Hadir Secara Utuh Untuk Anak

Bulan November ini kami dedikasikan untuk para ayah, yang akan hadir dalam bentuk artikel-artikel yang moga-moga bermanfaat, mencerahkan serta membuka hati serta kepala kita semua, mengenai peran seorang ayah dalam setiap tahapan hidup anak-anaknya.

Bahwa hadirnya seorang ayah tak sekadar di malam-malam ketika bayi baru rewel dan maunya menyusu aja, bahwa tak hanya mencari sekolah yang sesuai dengan bujet, tapi juga bagaimana memahami tumbuh kembang emosi anak yang sehat seperti apa, menjadi teman diskusi anak mengenai banyak hal yang mungkin membuat mereka merasa tak nyaman.

Baca juga:

Ini yang Dibutuhkan Anak Laki-laki Dari Ayahnya

Pernah berpikir, apa yang terjadi ketika anak perempuan kita patah hati? Atau saat anak laki-laki kita mengalami mimpi basah? Pernah membayangkan perubahan emosi macam apa yang dialami ketika anak memasuki masa puber? Atau di saat anak tergoda pornografi, alkohol hingga bergaul dengan teman yang salah? Sudah siap menjadi partner diskusi untuk topik-topik yang membuat kita keringat dingin?

Jangan mencari aman hanya berperan ketika semua berjalan menyenangkan lalu melempar ke istri saat kita merasa ini terlalu sulit untuk ditangani. Karena menjadi orang tua adalah kerja sama, tak bisa salah satu pihak yang mendominasi.

Selamat menikmati menjadi Ayah. Dalam setiap tahapan usia anak. Bahkan hingga kelak anak-anak kita semakin tumbuh dewasa.

Baca juga:

Para Ayah, Jangan Katakan Ini Kepada Anak Laki-laki Anda!


Post Comment